
Tuan Topan yang mendapat sebuah peringatan dari Tuan Gentaram, Beliau hanya mengangguk tanpa bersuara.
Setelah calon besannya pergi dan keluar dari ruang kerja, Tuan Topan kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.
Tapi sebelumnya, Tuan Topan mencoba memeriksa beberapa bukti dari calon besannya sendiri.
Dengan rasa penasaran, Beliau berusaha untuk tetap tenang. Meski ada rasa takut jika Tuan Gentaram telah menyalakan api permusuhan. Cukup lama kedua lelaki paruh baya itu tidak pernah ada kata damainya lantaran dimasa lalunya. Entah apa yang menjadikan sebuah konflik, antara Tuan Topan dan Tuan Gentaram layaknya Tommy dan Jerry.
"Awas saja kalau buktinya tidak ada yang benar sama sekali, aku pastikan bahwa jeruji besi tempat yang pantas untuk mu, Tuan Gentaram." Gumam Tuan Topan sambil membuka sebuah kotak yang isinya adalah bukti kedekatan putranya dengan putri calon besannya.
Dengan seksama, Tuan Topan memastikan sebuah bukti yang tengah diamatinya.
Benar-benar sangat terkejut saat melihat sebuah foto yang sama persis dengan foto yang pernah dilihat oleh Beliau. Sedikit-sedikit ada rasa percaya dengan bukti yang dibawakan oleh Tuan Gentaram.
Tidak hanya satu bukti saja, bahkan bukti yang lainnya termasuk hasil tes kehamilan pun ikut menjadi saksinya. Yang mana foto putranya sendiri lah yang memegang bukti tersebut. Entah apa maksudnya, mungkinkah sudah firasat dari mendiang Erwan sendiri yang merasa jika usianya tidak lagi lama.
Tuan Topan benar-benar merasa yakin jika benih yang tumbuh di rahim putrinya Tuan Gentaram adalah benar adanya anak dari mendiang putranya.
Saat itu pun, hati seorang ayah terasa hancur berkeping-keping ketika harus menerima kenyataan. Ingin marah, marah dengan siap? tidak ada yang perlu disalahkan dan hanya akan menjadi bumerang sendiri, pikir Tuan Topan.
Pikiran yang sudah penat dengan pekerjaannya, kini harus ditambah dengan masalah baru yang harus segera ditangani dan di selesaikan secepatnya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Edwin tengah disibukkan dengan pekerjaan yang cukup padat dan benar-benar menguras pikiran nya. Ditambah lagi dengan sebuah paksaan untuk segera menikah, Edwin semakin penat untuk Menyelesaikannya.
"Hei, Bro. Kamu kenapa? kusut bener muka kamu itu. Tidak sedang ketahuan selingkuh, 'kan?"
"Diam! aku lagi malas untuk bicara." Jawabnya dengan nada yang kedengaran membentak.
"Kenapa sih Lu, perasaan kemarin-kemarin nggak gini amat. Apa jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta nih, atau ... bertemu lagi dengan si Sora." Tuduh temannya.
"Mendingan kamu pergi aja deh, berisik."
"Tidak lucu tau, Bro. Oh ya, Viktor alias si Dokter kunyuk itu katanya sudah pulang, benarkah? bagaimana kalau kita kumpul bareng? ayolah, sudah lama ini kita tidak pernah berkumpul dan gila bareng."
"Ogah gue, mendingan juga tidur." Jawab Edwin yang tetap menatap layar komputernya.
"Cih! sok tau kamu. Aku tuh lagi pusing, gue dipaksa menikah."
Akhirnya Edwin berkata jujur dengan keluh kesahnya itu karena agar tidak terus-menerus diberi pertanyaan oleh temannya.
"Dipaksa menikah? yang bener, Bro."
"Ya Edan, ya." Jawab Edwin dengan ketus.
__ADS_1
"Namaku Edwan, Bro. Ingat, bukan Edan, apalagi Edwin. Elu juga sih, bikin nama saja ikut-ikutan segala."
"Serah gue. Lagian juga mana aku tahu soal nama, cih."
"Eh, ngomong-ngomong kapan nikahnya? asik nih, bisa belah semangka, belah duren." Ledek Edwan
"Entar, nunggu kamu menikah duluan. Baru, giliran aku yang akan menikah." Sahut Edwin.
Saat itu juga, tiba-tiba Edwin dikagetkan dengan suara ponsel yang bergetar. Cepat kilat bak sambaran petir, Edwin langsung meraih ponselnya yang ada di hadapannya itu.
Dilihatnya kontak nama yang sangat dikenali nya, Edwin langsung membuka isi pesannya. Edwan sendiri memilih untuk diam dan tidak mengganggu sahabatnya yang tengah fokus dengan pesan masuk.
Karena malas membalas pesan masuk, Edwin langsung menghubunginya.
["Malam ini menikah? yang benar saja sih Pa. Memangnya tidak ada hari esok, begitu kah? benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya Papa." ]
Ucap Edwin dengan perasaan dongkol yang selalu diminta untuk menuruti permintaan orang tua, tanpa alasan apapun.
["Ya, malam ini. Papa minta sama kamu untuk segera pulang setelah pekerjaan mu selesai, jika belum bisa diselesaikan hari ini, kamu bisa meminta bantuan pada sekretaris mu." ]
Jawab sang ayah di seberang telpon.
__ADS_1
["Ya Pa, ya." ]
Dengan terpaksa Edwin menyetujuinya, meski dengan perasaannya yang terasa sangat dongkol.