
Dengan tenaganya yang cukup kuat itu, akhirnya dirinya dapat menarik paksa perempuan yang dikira telah melemparkan botol minuman.
"Pak, tolong tunjukan rekaman CCTV yang belum lama ini. Saya ingin melihatnya, karena perempuan ini tidak ingin mengakui kesalahannya." Ucapnya pada satpam penjaga taman.
"Baik, Tuan. Sebentar, saya akan perlihatkan pada Tuan." Jawabnya dan segera menunjukkan bukti rekaman CCTV-nya.
"Ish! lepaskan tanganmu." Ucapnya yang terus berusaha untuk berlepas diri dari cengkeraman lelaki yang tengah menuduhnya.
"Diam." Jawabnya dan tak lepas pandangannya pada sebuah layar CCTV.
Dengan terpaksa, akhirnya ikut memperhatikan layar CCTV.
"Nah ini, Pak. Coba Bapak buka waktu sebelumnya, nanti bakal kelihatan siapa pelakunya." Ucapnya untuk meminta diputar rekamannya waktu sebelum dirinya mendapatkan lemparan botol minuman.
Dengan seksama, keduanya begitu fokus ingin melihat siapa pelaku yang sebenarnya.
Betapa terkejutnya saat lemparan itu tengah mengenai kepala milik lelaki yang ada disampingnya.
"Tuh! lihat. Kamu kan, pelakunya." Tuduhnya sambil membentak.
Seketika, ia segera menutup mulutnya karena benar bahwa dirinya itu sang pelaku.
"Maaf. Tadi itu, aku benar-benar tidak sengaja. Sebenarnya aku mau membuangnya ke tong sampah, rupanya salah melempar." Jawabnya dengan lirih, tentu saja karena merasa bersalah.
"Kamu harus mengganti ruginya, titik."
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku sudah meminta maaf denganmu. Jadi, tolong jangan memperpanjang masalah. Aku sendiri sedang pusing, lebih baik kita baikan saja." Jawabnya bernegosiasi.
"Enak saja tidak mau mengganti rugi. Pokoknya kamu harus mau, titik. Kalau sampai kamu berani menolak, aku akan membalas perbuatan kamu. Tentu saja, akan lebih memalukan." Ucapnya yang tak lupa untuk memberi ancaman pada perempuan yang sudah membuatnya sial, pikirnya.
"Ganti, baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit." Jawabnya sambil melirik tajam, tapi tidak akan menakutkan untuk lelaki yang ada dihadapannya itu.
"Tidak. Itu akan menjadi lain ceritanya. Tunjukkan alamat rumah kamu, atau ... aku yang akan mencarinya."
"Tidak perlu, aku akan memberimu nomor ponselku. Jangan khawatir, aku pasti akan menerima panggilan telepon darimu." Ucapnya dan segera merogoh ponselnya.
"Ini, simpan sendiri." Ucapnya lagi sambil menunjukkan ponselnya.
Lelaki yang ada dihadapannya itu, tersenyum menyeringai.
"Jadi, minggir. Aku harus pulang, tidak ada waktuku untuk membuang-buang waktu yang tidak jelas." Ucapnya dan bergegas pergi dari hadapan lelaki yang sudah ia lempar botol minuman.
"He! Bro, senyum kamu misterius sekali."
"Yang lagi dapat mangsa, mau dijadikan apa sama Elu, Bro."
"Istri jadi-jadian." Timpal teman yang satunya.
Keduanya langsung tertawa lepas.
"Aw!" pekik keduanya saat punggungnya dipukul mengenakan botol minuman secara bergantian.
__ADS_1
"Puas! kalian, kita pulang." Ucapnya mengajak untuk segera pergi dari taman tersebut.
Dilain sisi, Edwin akhirnya ikut pulang bersama istrinya dan juga Ibunya.
"Memangnya kamu tidak bekerja? sampai-sampai kamu harus mengantarkan Mama dan Aluv pulang. Lagian juga, Mama dan istri kamu berangkatnya bareng supir.
" Pekerjaanku sudah aku serahkan pada sekretaris Lee dan Kenaya." Jawab Edwin sambil membawakan belanjaan ibunya dan sang istri.
"Apa? kamu serahkan pada Kenaya? apa kamu sudah gila, ha! Kenaya belum mengerti."
"Maksudnya Edwin itu, pekerjaanku hari ini kan, mengajari Naya. Terus, aku meminta sekretaris Lee untuk mengajari Naya, Ma."
"Kamu ini, selalu meninggalkan tanggung jawab."
"Bukan begitu, Ma. Aku cuma tidak ingin ..." Jawabnya yang tiba-tiba terhenti.
"Tidak ingin kenapa? istri kamu digoda lelaki lain? begitu-kah maksud kamu?"
"Sudahlah Ma, jangan dibahas lagi. Ayo kita naik mobil, aku harus kembali ke kantor lagi soalnya." Jawab Edwin dan segera memasukkan barang-barang belanjaan ke bagasi mobil.
Ibunda Holena yang mengetahui jika putranya tengah cemburu, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
'Rupanya putraku tengah jatuh cinta dengan istrinya, semoga saja benar. Kasihan Aluv, jika suaminya sama sekali tidak memiliki rasa cemburu sedikitpun.
Selama perjalanan, Aluv hanya diam tanpa berucap sepatah katapun. Di samping ada ibu mertua, Aluv sendiri tidak tahu harus bicara apa dengan suaminya.
__ADS_1