Penutup Noda

Penutup Noda
Meminta keputusan


__ADS_3

Menikmati pagi hari di taman belakang bersama suami, Aluv seperti mendapatkan perhatian tulus dari suaminya.


Tetap saja, Aluv merasa harus waspada dengan sikap suaminya sendiri.


"Bagaimana pagi-mu hari ini? jika kamu merasa penat, coba pejamkan kedua matamu dan bukalah dengan perlahan sambil menghirup udara segar. Buang keluh kesah-mu, dan nikmati harimu ini dengan sebaik mungkin." Ucap Edwin masih menggenggam tangan milik istrinya.


Aluv menoleh, begitu juga dengan suaminya. Edwin maupun istrinya sama-sama saling menatap satu sama lain.


"Kenapa kamu menatapku begitu? apakah kamu akan mengira jika aku ini hanya menggombal?"


Aluv menggelengkan kepalanya.


"Ya, Kak Edwin suka menggombal." Jawab Aluv dan menatap lurus ke depan.


Edwin yang merasa tertuduh, ia langsung menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Jadi, ucapan dari ku tadi itu, hanya menggombal, begitu-kah maksud kamu?"


Aluv mengangguk pelan, sedangkan Edwin sendiri langsung memegangi kedua pundak milik istrinya dan memutar balikkan badannya hingga keduanya saling menatap.


"Terus, biar ucapan ku tidak terlihat sedang menggombal, bagaimana? haruskah aku membentak, memarahi kamu, memaki, dan memojokkan kamu, begitu-kah yang kamu maksud?"


Bukannya menjawab, lagi-lagi Aluv mengangguk dan menyingkirkan kedua tangan milik suaminya. Kemudian, Aluv kembali ke posisi yang semula. Yakni, menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Kamu jangan mengerjai-ku, Luv. Mana mungkin juga aku akan melakukan yang barusan aku ucapkan sama kamu, itu tidak akan."


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Bertanya sesuatu? tentu saja boleh, memangnya mau bertanya apa?"


"Pernikahan kita mau dibawa kemana?" tanya Aluv sekaligus mengagetkan suaminya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya sendiri.


"Maksud kamu, apa?"


"Ya itu, pernikahan kita mau dibawa kemana? aku merasa jika pernikahan kita ini sangat tidak jelas." Jawab Aluv dengan jujur, tentunya dirinya tidak ingin menjadi budak na*fsu suaminya.


Meski Aluv sadar diri telah melakukan kesalahan yang salah besar, dirinya tetap berusaha untuk menjaga harga dirinya untuk tidak dikatakan sebagai budak naf*su semata.


"Jangan bohongi diri Kakak sendiri, itu sama halnya akan menyakitiku. Aku sadar diri, aku ini wanita kotor dan tak ada guna apapun untuk orang lain."


Edwin masih terdiam, dan berusaha untuk meyakinkan diri sendiri agar bisa memberi jawaban yang tepat untuk dirinya dan juga sang istri.


"Kenapa masih diam? baiklah, aku akan tunggu jawaban dari Kakak. Untuk malam nanti, sepertinya kita akan tidur terpisah." Ucap Aluv yang merasa tidak akan mendapatkan jawaban yang pasti dari suaminya.


Tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang suami, Aluv memilih untuk pergi dari hadapan suaminya.


'Benar dugaan-ku, Kak Edwin tidak akan pernah bisa menerimaku. Seharusnya aku sadar diri dengan kondisiku yang hamil diluar nikah, dan tidak akan mungkin ada lelaki yang akan menerima aku sebagai wanita kotor. Lebih baik aku berpisah saja dengannya, itu akan jauh lebih baik daripada aku harus bermain sandiwara.' Batin Aluv sambil meninggalkan suaminya dengan perasaan penuh kekecewaan.

__ADS_1


Aluv sendiri menyadari, bahwa hubungan pernikahannya saja baru beberapa hari. Tentu saja tidak akan mudah untuk menerima, apalagi untuk jatuh cinta.


Bukan! bukan itu yang menjadi persoalan untuk Aluv, menyadari dirinya sebagai wanita kotor itu benar adanya, tetapi dengan sikap suaminya yang sulit untuk dipahami, itu yang menjadi beban Aluv dalam pikirannya.


Perempuan mana yang akan terima, jika dirinya seakan dijadikan budak naf*sunya semata. Tentu saja tidak akan ada perempuan yang sudi, yang ada harga dirinya semakin direndahkan, pikir Aluv yang berusaha untuk mencari titik terang dalam hubungan pernikahannya.


Saat melihat istrinya pergi dari hadapannya, Edwin pun langsung meraih tangan istrinya dan menahannya agar tidak pergi. Kemudian, Edwin berdiri di hadapan sang istri.


Edwin memejamkan kedua matanya, dan meyakinkan atas keputusannya yang akan diberikan pada sang istri.


"Meski orang lain menganggap kamu adalah wanita kotor, aku sendiri tidak menganggap-mu seperti itu. Aku tidak tahu dengan perasaan ku ini, tapi aku merasa nyaman berada di dekatmu. Percayalah, aku sedang tidak menggombal, tidak. Aku akan membawa pernikahan kita sampai kamu merasa lelah denganku, karena hubungan pernikahan dan cinta itu tidak perlu untuk dipaksakan. Jadi, aku akan menjalaninya hingga kamu merasa lelah denganku." Ucap Edwin yang bisa dijadikan keputusan yang baik untuk didengar.


Percuma mengajaknya untuk berjanji, jika pada akhirnya akan menyerah. Mencoba untuk tetap bertahan selagi bukan kesalahan hina, Edwin tidak akan melepaskannya.


Tetapi jika melakukan kesalahan hina, Edwin tidak akan pernah memberi ampun pada pasangannya, termasuk pada istri pertamanya yang sudah berkhianat dan bermain dengan lelaki dibelakangnya.


Aluv mencoba mencernanya, dan ia mengangguk pelan yang mengisyaratkan bahwa dirinya menerima jawaban suaminya.


Saat itu juga, Edwin langsung memeluk istrinya dengan perutnya yang mulia terlihat buncitnya.


Kemudian, Edwin melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayu milik istrinya. Keduanya sama-sama melemparkan senyumnya masing-masing.


Edwin yang lagi-lagi kecanduan dengan sang istri, ia langsung menc*ium bibir milik istrinya dengan lembut.

__ADS_1


Seseorang yang sedari tadi memperhatikan Aluv dan suaminya, tiba-tiba hatinya terasa panas sepanas api cemburu.


__ADS_2