
Tuan Daka terasa malu saat putranya telah berucap begitu sangat jelas dengan menyebut nama perempuan yang pernah disukainya.
Nuza tidak menundukkan pandangannya. Malu, sama sekali dirinya tidak merasa malu.
"Maaf, tadi saya salah berucap." Ucapnya yang cukup jelas untuk didengar.
Tuan Galeyandra tidak mempermasalahkan apapun pada Nuza, karena beliau sudah mengetahuinya sendiri. Resiko, sudah pasti siap untuk diterima.
Begitu juga dengan keluarga Gentaram Praja, merasa tidak enak hati, lantaran Nuza yang pernah dijodohkan dengan putrinya dan akhirnya dijodohkan dengan putri dari keluarga besannya sendiri.
Takut, itu sudah pasti tersimpan didalam benak pikirannya Beliau. Apalagi bisa dengan mudahnya untuk bertemu, kekhawatiran akan rusaknya rumah tangga mulai bersemayam didalam benaknya Tuan Gentaram.
Begitu juga dengan Edwin, merasa kesal ketika mendengar nama istrinya disebutkan, akhirnya pergi meninggalkan acara sakral adik perempuannya.
Aluv sudah menahannya, tetapi Edwin masih tidak terima atas perbuatan dari calon adik iparnya.
Sedangkan Naya sendiri merasa sakit hati saat lelaki yang akan menjadi suaminya, ternyata orang yang begitu dekat dengan kakak iparnya.
__ADS_1
Edwin bergegas pergi, Aluv langsung mengejar suaminya.
Tuan Galeyandra dan Bunda Holena yang melihatnya pun, menyuruh salah satu orang kepercayaannya untuk mengawasi anak dan menantunya.
"Kak, tunggu." Panggil Aluv berusaha untuk menghentikan langkah kaki suaminya.
Edwin tidak menghiraukannya, terus berjalan dan keluar dari gedung yang begitu megah.
Aluv yang tidak bisa mengejar suaminya karena hamil, sejenak berhenti di depan gedung.
Seketika, Edwin menyadari jika istrinya sedang hamil. Secepatnya, dan memutar balikkan badan dan menghampiri sang istri.
"Terus,"
"Terus, kamu dengarkan baik-baik, siapa tahu aja namamu akan dipanggil lagi." Kata Edwin masih dengan rasa cemburunya, hanya saja tidak mau mengakuinya.
Saat itu juga, Aluv langsung memeluk suaminya dan bersandar di bagian dada bidangnya.
__ADS_1
"Untuk apa dipanggil? untuk dipermalukan? aku tidak bangga sama sekali, justru aku merasa terhina dan merasa bodoh sendiri di depan publik, seakan aku seorang perempuan yang tersudutkan." Jawab Aluv masih memeluk tubuh suaminya.
Edwin langsung melepaskan pelukan dari istrinya, dan ia langsung menatap wajah ayunya.
"Aku percaya sama kamu, terimakasih karena kamu masih memilihku." Ucap Edwin dan kembali memeluk tubuh milik istrinya.
"Seharusnya yang harus mengucapkan terimakasih itu, aku. Harus berapa kali aku mengatakannya, aku mencari suami yang mau menerimaku dengan segala kekurangan-ku." Jawab Aluv yang merasa beruntung karena telah mendapatkan cinta dari suaminya.
Sedangkan di dalam acara pernikahan Nuza dan Naya yang akan dilanjutkan lagi, keduanya sama sekali tidak menoleh. Sama-sama diam dan tidak berucap.
"Baiklah, kita akan mulai lagi pengucapan kalimat sakralnya. Untuk Ananda Nuza, dimohon untuk diingat kembali nama dari calon mempelai pengantin perempuan." Ucapnya mengingatkan.
Nuza mengangguk.
Setelah tidak ada lagi yang dibahas, acara pun segera dimulai. Pandangan Nuza kini seperti mencari keberadaan seseorang, tetapi tidak menemukannya sama sekali.
Kalimat demi kalimat, acara sakral tengah berjalan dengan sangat khidmat, meski tidak ada sepasang suami-istri yang ikut dalam acara pernikahan Nuza dan Naya.
__ADS_1
Karena tidak ingin semakin lama membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting, acaranya mulai dipercepat. Berharap, semua berjalan sesuai yang diharapkannya.