
Dokter Viktor selaku teman dekat Edwin, merasa penasaran dengan pernikahan sahabatnya.
"Seharusnya kamu itu bahagia, apakah kamu masih mencintai istri kamu, Sora?" tanya Dokter Viktor dengan berani.
Lagi-lagi Edwin menoleh pada sahabatnya dan kembali menatap lurus ke depan.
"Tidak ada perasaan cinta apapun dengan Sora, bagiku dia sudah mati." Jawab Edwin tanpa menatap Dokter Viktor.
"Terus, apa yang membuatmu seperti ini? seharusnya kamu bahagia, Bro. Kamu bisa menunjukkan diri kamu di hadapan media dan juga mantan istrimu, jika kamu berhasil mempunyai seorang anak. Tunjukkan pada mereka, bahwa kamu bisa mempunyai keturunan dan kamu itu tidak man*dul." Ucap Dokter Viktor.
"Sudahlah, kamu tak perlu menasehati aku. Aku harus kembali menemui istriku, thanks, kamu sudah mengajakku mengobrol." Kata Edwin dan bangkit dari posisi duduknya untuk menemui istrinya.
Dokter Viktor hanya mengangguk dan melihat bayangan sahabatnya hingga tak terlihat lagi.
"Tumben itu anak, biasanya gampang banget cerita. Sekarang dia benar-benar menyembunyikan masalahnya sendiri." Ucapnya lirih dan kembali ke tempat kerjanya.
Sampainya di ruang rawat istrinya, semua sudah berada di dalam. Tidak tahu apa yang harus ia ucapkan, dan juga tidak tahu tentang perasaannya sendiri harus bahagia atau acuh tak acuh.
Edwin masih berdiri di ambang pintu, sedangkan kedua orang tuanya serta kedua mertuanya tengah menggeser posisinya hingga memberi ruang untuk Edwin mendekati sang istri.
Bunda Holena yang melihat putranya tengah berdiri di ambang pintu, segera mendekati putranya.
"Lupakan yang tidak seharusnya kamu ingat dan kamu pikirkan mengenai anak yang baru dilahirkan oleh istrimu. Jika kamu tidak bisa menyambutnya sebagai anakmu, setidaknya kamu bisa menyambutnya sebagai keponakan kamu. Buang ego-mu, istrimu sangat membutuhkan perhatian darimu." Ucap sang ibu dengan suara yang lirih, agar tidak kedengaran oleh yang lainnya.
Edwin tidak menjawabnya, justru mendekati istrinya yang tengah berbaring di atas ranjang pasien.
"Maaf, tadi aku ada perlu dengan Dokter Viktor, suami dari Dokter Elsa yang sudah menangani kamu persalinan. Jadi, aku meninggalkan kamu sendirian." Ucap Edwin beralasan, karena tidak mungkin juga jika dirinya harus berkata jujur.
"Ya, tidak apa-apa." Jawab Aluv dengan singkat, meski dirinya merasa jika suami masih belum siap untuk menerima kehadiran putranya.
__ADS_1
Tuan Gentaram sendiri yang menyaksikannya, merasa dongkol ketika melihat sikap menantunya yang begitu cuek ketika melihat keadaan Aluv yang tengah berbaring lemas di atas ranjang pasien.
Tapi, mau bagaimana lagi. Tuan Gentaram tidak bisa menghakimi menantunya sendiri, lantaran Edwin memang bukanlah ayah biologis dari cucunya.
'Kamu masih beruntung, karena anak yang dilahirkan oleh putriku bukan darah daging kamu. Pantas saja, kamu tidak bisa mempunyai keturunan, sikap kamu saja tidak ada rasa kasih sayang sedikitpun dengan bayi yang tak berdosa.' Batin Tuan Gentaram sedikit geram pada menantunya sendiri.
Kenaya yang biasanya menegur kakaknya, hanya bisa diam dan takut salah berucap karena di hadapannya itu kedua orang kakak iparnya.
Karena tidak ingin mengganggu, Tuan Gentaram dan istrinya maupun Tuan Topan bersama anak dan istrinya juga bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Kini, tinggal Aluv dan suami.
"Bagaimana dengan kondisi kamu? apakah ada keluhan?" tanya Edwin sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Aku baik-baik saja, dan juga tidak ada keluhan apapun." Jawab Aluv, kemudian dirinya mengubah posisinya untuk duduk bersandar.
Edwin yang mengerti, segera membantu istrinya.
"Aku sudah makan, dan aku tidak menginginkan sesuatu." Jawab Aluv sambil menatap wajah suaminya yang terlihat tidak bersemangat.
"Kak Edwin kenapa? kelihatannya ada sesuatu yang sedang Kakak pikirkan."
Aluv yang penasaran, akhirnya mencoba untuk bertanya pada suaminya.
"Aku tidak kenapa-kenapa, aku hanya khawatir dengan keadaan kamu." Jawab Edwin kembali beralasan.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan keadaanku. Terimakasih juga sudah mau menemani aku saat melahirkan. Kakak tidak perlu memikirkan sesuatu, karena aku tidak akan memaksa Kakak untuk menerima kehadiran putraku. Aku sadar diri, karena anak yang aku lahirkan, bukanlah darah daging Kak Edwin." Ucap Aluv tanpa takut.
"Aku akan menerima putramu sebagai putraku." Ucap Edwin meyakinkan istrinya, meski dirinya sendiri tidak tahu apakah siap menerima kehadiran anak itu sebagai putranya atau tidak.
__ADS_1
Aluv tersenyum mendengarnya, dan meraih tangan suaminya.
"Terimakasih, aku sangat bahagia mendengarnya." Kata Aluv dengan hati yang berbunga-bunga ketika suaminya mengatakannya langsung di hadapannya.
Saat itu juga, Edwin mendaratkan sebuah ciu*man tepat pada kening istrinya.
"Oh ya, kamu mau makan buah apa? aku mengupasnya untuk kamu. Ada pir, ada apel, ada buah naga, pilih mana?"
Alih-alih Edwin mencari obrolan lain, selain membicarakan tentang hubungan maupun tentang bayi yang baru dilahirkan maupun membahas yang lainnya.
"Aku mau buah pir saja." Jawab Aluv yang merasa mendapatkan perhatian dari sang suami.
Dengan telaten, Edwin mengupas buah pir-nya untuk sang istri.
"Cie .... yang lagi berduaan, seakan kita di larang untuk masuk." Ledek Naya yang tak pernah bosan.
"Hem, makanya buruan diterima perjodohan dari Papa. Biar kamu tidak meledek Kakak terus, berisik ini telinga."
"Dih, main suruh menerima perjodohan. Udah kek beli kucing dalam karung, aku tidak mau."
"Nanti nyesel, baru tahu rasa kamu." Kata Edwin sambil menyuapi istrinya.
Saat itu juga, justru Aluv sendiri yang merasa tersindir dengan ucapan suaminya itu. Kalimat mana lagi kalau bukan, menolak perjodohan.
"Minumlah, kalau makan hati-hati." Ucap Edwin yang langsung menyodorkan satu gelas air minum pada istrinya.
"Ya Kak, kalau makan hati-hati." Timpal Naya ikut bicara.
"Ya, terimakasih sudah mengingatkan." Kata Aluv.
__ADS_1
Saat itu pula, Tuan Gentaram bersama sang istri masuk ke dalam dan diikuti oleh Tuan Topan bersama istrinya juga.