
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Aluv dapat menyelesaikan pembuatan pudingnya.
"Bi Inah," panggil Aluv usai membereskan semuanya.
"Ya Non," sahut Bi Inah sambil melakukan aktivitasnya.
"Ini Bi, kalau pudingnya udah dingin, tolong masukin kedalam kulkas ya Bi." Ucap Aluv sambil mengembalikan celemek ke tempat semula.
"Ooh, ya Non. Nanti kalau sudah dingin, Bibi masukin ke dalam kulkas." Jawab Bi Inah disertai dengan anggukan.
"Maaf ya Bi, merepotkan. Aluv pamit duluan, maaf juga jika tidak bisa membantu Bi Inah masak." Ucap Aluv sekaligus pamit.
"Tidak apa-apa kok, Non. Lagian juga masih ada beberapa pelayan yang siap membantu Bibi. Jadi, Nona Aluv tidak perlu khawatir." Jawab Bi Inah, Aluv pun tersenyum dan meninggalkan Bi Inah sendirian di dapur.
Saat berada di ruang keluarga, Aluv tidak menemukan siapapun termasuk ibu mertua maupun suaminya.
Tidak ada yang bisa diajak mengobrol, Aluv memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Aluv,"
Mendengar namanya di panggil, Aluv menoleh ke sumber suara. Dilihatnya ibu mertua tengah berjalan mendekatinya.
"Ya, Ma." Jawab Aluv.
Penasaran, itu sudah pasti. Aluv pun tersenyum pada ibu mertuanya.
"Sudah selesai membuat pudingnya?" tanya ibu mertua.
"Sudah kok, Ma. Cuma belum di masukkan ke dalam kulkas, soalnya masih panas." Jawab Aluv.
"Ya, Ma." Jawab Aluv singkat, dirinya belum berani untuk banyak pertanyaan dengan ibu mertuanya.
Mencoba diam untuk memahami isi keluarga mertuanya, Aluv sangat hati-hati dalam berucap. Takut, ucapannya akan merendahkan dirinya sendiri.
"Ayo kita duduk, Luv." Ajak ibu mertuanya, Aluv pun langsung duduk dan saling berhadapan.
__ADS_1
"Begini Luv, sebenarnya yang mau Mama katakan ini tentang kamu dan Edwin."
"Maksud Mama?" tanya Aluv yang lupa telah memotong ucapan ibu mertuanya karena rasa penasaran yang sudah menggebu ingin tahu.
Ibu mertuanya pun tersenyum ketika menantunya yang begitu penasaran.
"Begini maksud Mama, malam ini kalau tidak besok siang, putrinya sahabat Papa akan datang kemari. Kedatangannya ke sini hanya untuk liburan saja, namanya Alisa. Jadi, Mama minta sama kamu untuk tidur satu kamar dengan Edwin. Mama tidak ingin ada gosip buruk menimpa kamu." Jawab ibu mertua menjelaskan sedetail mungkin.
Aluv terdiam, dirinya sendiri menyadari dengan nasib seperti apa yang sedang dijalaninya itu. Hidup seakan menjadi bahan pergunjingan bagi orang yang suka bergosip. Malu, menyesal, itu sudah pasti.
Tapi, apa daya seorang Aluv yang hanya bisa menyesali atas perbuatannya sendiri.
"Kamu kenapa, Luv?" tanya ibu mertuanya yang sempat memperhatikan menantunya terlihat bersedih.
"Mama tidak ada maksud apapun padamu, Mama hanya ingin hubungan pernikahan kamu baik-baik saja dengan Edwin. Tidak ada kata untuk memojokkan kamu. Justru, kamu perempuan yang pantas untuk menjadi istrinya Edwin. Mama tidak mempermasalahkan kondisi kamu yang seperti apa, karena ini semua juga ulah dari mendiang Erwan, putra Mama juga. Jadi, berhentilah untuk terus menunjukkan kesedihan kamu ini. Mama yakin pada saatnya nanti kamu akan temukan bahagiamu."
Ucap Ibu mertua yang berusaha untuk meyakinkan menantunya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak atas perhatiannya, Ma. Mama sangat baik, dan selalu menenangkan pikiran Aluv." Jawab Aluv merasa diperhatikan.