Penutup Noda

Penutup Noda
Bersiap-siap


__ADS_3

Masih di kediaman keluarga Gentaram, Aluv kembali di kamarnya seperti yang diminta oleh sang ibu, yakni utuk mandi.


Karena tidak ingin suasana hatinya semakin bersedih, Aluv memilih untuk membersihkan diri. Siapa tahu saja, badannya akan lebih enakan dari yang sekarang.


Sedangkan di ruang kerja, Tuan Gentaram dan putranya tengah membicarakan sesuatu mengenai adik perempuannya yang tengah hamil anaknya keluarga Galeyandra.


"Seriusan nih Pa, besok Aluv mau menikah?" tanya Kemal memastikan.


"Ya, Papa sudah meminta pertanggung jawaban dari Tuan Topan. Mau tidak mau, putranya harus menjadi suami Aluv." Jawab Tuan Gentaram.


Kemal tidak tahu siapa yang harus disalahkan, lelaki yang yang sudah menghamili adiknya itu rupanya sudah meninggal. Tentu saja, dirinya tidak mungkin untuk menyalahkan satu pihak saja. Karena adiknya melakukannya atas dasar naf*su dan hubungan percintaan. Yang pastinya sang adik juga ikut dalam kesalahan itu.


Kemal mengusap wajahnya frustasi, jika lelaki yang akan menikahi adik perempuannya itu tidak akan menerima dengan sepenuh hati untuk menjadikan sang istri.


Tidak tahu harus marah dengan siapa, Kemal membuang napasnya dengan kasar.


"Apakah Papa sudah yakin, jika Aluv akan dinikahi? kalau sampai Aluv disia siakan, bagaimana?"


"Itu tidak akan terjadi, yang pastinya Papa akan selalu memberi ancaman untuk Tuan Topan." Jawab sang ayah.


"Ya sudah ya Pa, aku mau menemui Aluv saja kalau begitu." Ucap Kemal yang teringat dengan kesedihan adiknya saat menangis dalam pelukannya.

__ADS_1


Sedangkan Tuan Gentaram masih disibukkan dengan acara pernikahan putrinya yang tinggal menghitung lewatnya satu malam dan paginya sudah menjadi hari pernikahan Aluv.


Begitu juga di kediaman keluarga Galeyandra. Setelah makan malam, Tuan Topan tengah disibukkan dengan hari pernikahan putranya yang kedua.


Berbeda dengan kedua anaknya, Kenaya dan Edwin tengah sibuk dengan benda pipih-nya masing-masing.


Malam semakin larut, Edwin pun mulai suntuk dengan kesibukannya itu. Bertemu lagi hari seakan menjadi ancaman besar untuk dirinya.


Bagaimana tidak menjadi sebuah ancaman untuk dirinya? pernikahan yang tidak terlintas didalam pikirannya, mau tidak mau Edwin akan menyandang statusnya menjadi seorang suami.


Lebih lagi dengan hadirnya seorang anak, tentunya akan menjadi bahan gosip di media apapun. Meski wajahnya tidak di publikasikan, tetap saja namanya akan muncul di deretan berita tranding.


Malas memikirkan sesuatu yang menurutnya tidaklah penting, Edwin langsung membenarkan posisinya dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Begitu juga di rumah Tuan Gentaram, karena tidak ingin membuat kesehatannya menurun, Aluv memilih untuk beristirahat dengan cukup, agar penat yang bersemayam di kepalanya sedikit berkurang.


.


.


.

__ADS_1


Pagi hari bagai mimpi buruk, Aluv maupun Edwin terbangun dari tidurnya dengan posisi dan tempat yang berbeda. Keduanya sama-sama memikirkan pernikahannya, satupun tidak ada yang tahu seperti yang akan menjadi pasangannya.


Entah lebih muda atau lebih tua, keduanya tidak bisa menebaknya.


"Kak Edwin, bangun. Kak Edwin, ayo bangun." Panggil Kenaya sambil berjalan mendekat.


"Aw! Kak Edwin!"


Kenaya langsung mengambil bantalnya yang baru saja mengenai kepalanya dan balik menyerang sang kakak.


"Berisik! sudah sana keluar, ganggu aja orang tidur." Bentak sang kakak dan langsung menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut tebal, agar tidak diganggu adik perempuannya.


"Sudah pagi ini loh Kak, ayo dong buruan bangun. Katanya mau menikah, semangat dong. Tunjukin sama Kak Sora, kalau kakak bisa dapetin istri yang lebih baik dari mantan kakak ipar."


"Hem, sok tahu kamu. Mendingan juga kamu itu keluar dari kamar Kakak, cepetan keluar sana. Bikin berisik aja kamu itu."


"Edwin sayang, bangun Nak. Loh, Kenaya. Ngapain masuk ke kamar Kakak?"


Panggil sang ibu dan tiba-tiba mendapati putrinya yang sudah berada didalam kamar kakaknya.


"Kenaya mau bangunin Kakak, eee kena timpuk pakai bantal. Kak Edwin itu Ma, reseh banget sama Kenaya."

__ADS_1


"Tidak kok Ma, serius. Kenaya tadi yang duluan reseh, gangguin orang yang sedang tidur saja."


"Kalian berdua ini selalu saja banyak alasan. Sudah cepetan bangun, waktunya untuk bersiap-siap, waktumu tidak banyak. Dan kamu Kenaya, kamu juga cepetan kembali ke kamar kamu untuk bersiap-siap." Ucap sang ibu, Kenaya dan Edwin sama-sama segera bangkit dari posisinya.


__ADS_2