Penutup Noda

Penutup Noda
Kedatangan seseorang


__ADS_3

Aluv yang mendengar ucapan dari adik iparnya pun, hanya tersenyum. Bagi Aluv tidak berharap lebih akan mendapatkan hal lebih dari suaminya. Yang Aluv minta hanyalah satu, yakni untuk menjadi ayah dari anak yang ia kandung.


Soal cinta dan dicintai, Aluv tudak mempermasalahkannya. Kebahagiaan untuk anaknya, itulah yang paling utama bagi Aluv.


Perjalanan hidup yang paling berat untuk Aluv adalah, memberi kepercayaan dan cinta untuk anaknya kelak.


"Kak Aluv, kenapa melamun? sedang memikirkan Kak Edwin, ya? cie ...."


Kenaya yang melihat kakak iparnya tengah melamun, segera membuyarkan lamunannya.


"Naya, ada-ada saja kamu ini. Kakak tidak sedang memikirkan Kak Edwin kok, serius. Kebetulan saja, tadi Kakak teringat dengan keluarga di rumah." Jawab Aluv beralasan, karena itu sangat memalukan jika harus berterus terang.


Apalagi ada ayah dan ibu mertuanya, itu tidak akan mungkin untuk berkata jujur.


"Karena sudah selesai sarapan pagi, Mama tinggal dulu ya. Kalian berdua kalau mengobrol, cari tempat yang enak untuk dijadikan tempat bersantai." Ucap Bunda Holena sambil bangkit dari posisinya.


Begitu juga dengan Tuan Topan yang juga segera berangkat ke kantor.


Kini, tinggallah Aluv dan Kenaya yang masih duduk di ruang makan.


"Kak Aluv, nanti temani Kenaya ya."


"Kemana, Nay?" tanya Aluv.


"Di rumah aja kok, Kak. Naya mau belajar dari Kakak sebelum masuk ke kantor, pingin belajar sesuatu hal." Jawab Naya.


"Sesuatu hal? apaan? jangan main tebak-tebakan ya Nay, Kakak lagi malas buat berpikir."


"Kak Aluv tenang saja, Naya sedang tidak bermain dengan tebak tebakan. Eh Kak Edwin, sudah mau berangkat, ya? hati-hati diperjalanan ya Kak." Jawabnya dan langsung menyapa sang kakak yang hendak berangkat ke kantor.

__ADS_1


"Ya." Jawab Edwin sambil berjalan dengan membawa tas bawaan.


"Biar aku yang akan membawakan tasnya." Ucap Aluv yang sudah berada dihadapan suaminya.


"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri." Jawabnya datar.


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa melakukannya dengan Papaku dan Kak Kemal." Ucap Aluv dengan posisi tangan yang hendak meraih tas bawaan suaminya.


"Nih," jawab Edwin sambil menyodorkan tasnya.


Kemudian, Edwin langsung berjalan keluar. Aluv sendiri mengikutinya dari belakang suaminya, tetapi tidak segesit dengan langkah kaki sang suami.


Sampainya di depan rumah, Aluv menyodorkan tas bawaan sang suami dan tidak lupa untuk meraih tangan suaminya yang hendak dicium punggung tangannya. Sedangkan Edwin menampiknya.


"Mau ngapain?" tanya Edwin yang tidak mengerti.


"Mencium tangan Kak Edwin sebelum berangkat ke kantor, itu saja dan tidak lebih." Jawab Aluv dengan jujur.


Karena penasaran bagaimana rasanya memiliki istri yang begitu mengerti akan tata krama yang baik, Edwin tidak mempermasalahkan atas sikap Aluv padanya.


Edwin pun kembali mengulurkan tangan kanannya pada sang istri, Aluv pun mencium punggung tangan milik suaminya.


"Hati-hati diperjalanan ya Kak, semoga selamat sampai kantor." Ucap Aluv tanpa malu dan canggung, itu semua demi anaknya untuk mendekati suaminya dan berharap ketika anaknya lahir, sang suami mau menerima kehadirannya.


Memang tidak mudah untuk mendekati suaminya, tapi apa salahnya jika dirinya yang harus berusaha demi anak yang sedang ia kandung.


Edwin yang tidak ingin datang terlambat, dirinya langsung masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan pada istrinya. Aluv sendiri tidak mempermasalahkannya, dirinya tetap berlapang dada ketika mendapati sikap acuh tak acuh dari suaminya sendiri.


Setelah tidak lagi terlihat bayangan mobil yang dinaiki oleh suaminya, Aluv kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aluv, dimana suami kamu?" tanya ibu mertua sambil celingukan mencari keberadaan putranya.


"Kak Edwin baru saja pergi, Ma." Jawab Aluv sambil menunjuk ke arah pintu utama untuk masuk.


"Aduh, mana berkasnya ketinggalan." Ucap ibu mertua menggerutu.


"Berkasnya ketinggalan? punya Kak Edwin, maksudnya Mama?" tanya Aluv ingin tahu.


"Ya Luv, mana hari ini Mama ada acara penting juga. Oh ya, ada Naya." Jawab ibu mertua dan tiba-tiba teringat dengan putrinya yang sudah berada di rumah.


"Biar Aluv saja yang mengantarkan berkasnya Kak Edwin, Ma." Ucap Aluv.


"Tidak, Aluv. Kamu sedang hamil, Mama tidak mengizinkan kamu untuk keluar rumah tanpa suami kamu atau Mama." Kata sang ibu Mertua.


"Tidak apa-apa kok, Ma. Lagian kan, bisa bareng Naya, Ma. Jugaan Aluv tidak ada kesibukan apapun di rumah. Selain itu juga, Aluv tidak merasa jenuh." Jawab Aluv tetap memaksa.


"Baiklah, kalau begitu Mama panggilkan Naya sebentar. Kamu bersiap-siap aja dulu, ya." Ucap ibu mertua.


"Ya, Ma." Jawab Aluv dan bergegas mengganti pakaiannya.


Sedang dalam perjalanan, akhirnya Edwin telah sampai di kantornya. Semua karyawan tidak ada yang bersuara ketika Edwin sudah datang, ruangan kerja benar-benar sangat sunyi.


Sampainya di dalam ruang kerjanya, Edwin segera duduk dan melakukan aktivitas seperti biasanya.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Edwin dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Hanya dengan menekan tombol, pintu pun terbuka dengan sendirinya.


"Permisi, Tuan."


"Masuk lah. Katakan, ada apa? jangan berbelit-belit."

__ADS_1


"Begini, Tuan. Diluar ada seorang perempuan cantik yang memaksakan diri untuk masuk dan juga ingin bertemu dengan Tuan." Jawabnya.


__ADS_2