
Ketika berada di ruang keluarga, Tuan Topan dan istrinya menyapa besannya. Kemudian, kedua orang tua Edwin ikut duduk bersama.
Edwin yang sudah berjanji dengan istrinya, tak lupa untuk meminta tolong pada Mbak Mala agar segera memanggilkan istrinya dan sekaligus menyuruhnya untuk menunggu si bayi. Karena tidak mungkin juga untuk diajaknya turun, pikir Edwin.
Karena tidak sabaran, Edwin ikut masuk ke kamarnya untuk mengajak istrinya keluar.
Tuan Gentaram yang sudah duduk berhadapan dengan besannya, Beliau bersikap biasa-biasa saja. Tidak ada satupun yang berlaga ramah, entah apa penyebabnya.
"Pa," panggil suaminya masing-masing.
Bunda Holena dan istri Tuan Gentaram tak sengaja memanggil dengan serempak.
Tuan Topan sendiri dan juga juga Tuan Gentaram sama halnya menoleh pada istrinya masing-masing.
"Mau sampai kapan, kalian berdua akan terus bermusuhan." Ucap istrinya Tuan Gentaram yang akhirnya membuka suara lebih dulu.
Tuan Gentaram sendiri langsung menatap besannya dengan tatapan sinis, Tuan Topan langsung melengos. Keduanya bak kakak-beradik yang tengah berebutan barang mainan.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian berdua tidak harus bermusuhan seperti ini. Kita sudah besanan, malu dilihat anak-anak, jika orang tuanya saling bermusuhan. Jadi, lupakanlah masa lalu."
"Tidak mau, gara-gara Gentaram, aku gagal memenangkan proyek itu." Sahut Tuan Topan yang masih belum juga terima atas persaingan sengit diantara keduanya di masa lalu, masa saat meniti karirnya, masa setelah menikah.
Keduanya berawal dari persahabatan yang begitu dekat dan mempunyai mimpi yang sama untuk menjadi orang sukses. Persahabatan tidak hanya berdua, tetapi juga dengan Tuan Daka Danuarta, pemilik Restoran Merpati Jaya.
"Itu keberuntunganku, tidak ada yang bisa menghalangi kesuksesanku." Timpal Tuan Gentaram yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
"Kalian berdua dulunya bak sodara kandung, sekarang jadi tommy dan jerry." Kata sang istri ikut mengomentari.
"Ada apa ini?" tanya Edwin saat merasa aneh dengan ayah mertua maupun ayahnya sendiri.
"Tidak ada apa-apa, kita baru saja selesai ngobrol. Ayo Nak, duduklah." Jawab Ibunda Holena beralasan, putranya hanya mengangguk dan mengajak istrinya untuk duduk.
Tetapi sebelumnya, Aluv mendekati kedua orang tuanya untuk menyambutnya dengan santun.
"Apa kabarnya, Pa, Ma?" sapa Aluv setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan santun.
__ADS_1
"Kabar Mama dan Papa, sangat baik, Nak. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab ibunya dan balik menyapa putrinya.
"Kabar Aluv juga baik kok, Ma. Seperti yang Mama lihat." Kata Aluv.
"Sayang, duduklah. Kita tidak punya waktu lagi, takutnya nanti kemalaman." Ucap Edwin pada istrinya.
Aluv mengangguk dan ikut duduk disebelah suaminya.
Karena tidak ingin berlama-lama, akhirnya Edwin segera menjelaskan semuanya.
"Pa, Ma," panggil Edwin mengarahkan pandangannya pada ayah dan ibu mertua.
"Ya, Nak, ada apa?" sahut Tuan Gentaram dan bertanya.
"Sebelumnya Edwin minta maaf yang sudah menyuruh Papa dan Mama untuk datang ke rumah. Permintaan untuk datang kesini itu, sebenarnya hanya ingin membahas tentang anak yang dilahirkan oleh Aluv, yakni istri saya. Bukannya saya menolak, saya tetap menerimanya sebagai anak saya sendiri. Yang akan kita bicarakan, yakni mengenai status yang sebenarnya." Ucap Edwin membuka suara yang cukup panjang apa yang dibicarakan.
Tuan Gentaram mencoba untuk diam dan berusaha untuk mencerna apa yang dimaksudkan oleh menantunya. Begitu juga dengan istrinya, sama halnya ikutan bingung untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh suami putrinya.
__ADS_1