Penutup Noda

Penutup Noda
Hampir saja


__ADS_3

Edwin semakin tidak sabar, ingin rasanya segera pindah ruangan. Ditambah lagi besok sudah mulai kembali bekerja, tentunya butuh waktu untuk istirahat.


Sedangkan Aluv telah selesai menghabiskan porsi makanannya, perasaan lega itu sudah pasti. Pasalnya, setelah ini dirinya kembali ke kamar untuk bersantai.


Edwin yang melihat ada sesuatu yang menempel di sudut bibir istrinya, Edwin langsung menyentuhnya.


Dengan reflek, Aluv langsug memegangi tangan suaminya untuk menyingkirkan atas apa yang dilakukan oleh sang suami.


Edwin tidak menunjukkan ekspresi apapun, termasuk kesal sekalipun. Dirinya langsung mengambil sesuatu yang menempel di sudut bibir milik istrinya.


"Kalau makan itu jangan seperti anak kecil, malu sendiri." Ucap Edwin.


Kemudian, tangan satunya meraih tangan kanan milik istrinya untuk membuka telapak tangannya dan menunjukkan pada sang istri tentang ada sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya.


Malu, itu sudah pasti. Tapi, mau bagaimana lagi. Aluv hanya tersipu malu saat suaminya memperlihatkan sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya.


"Terimakasih. Maaf, aku sudah lalai." Jawab Aluv dengan malu.


"Ya, aku rasa kamu memang selalu lalai hingga lupa dan tidak memeriksanya lagi." Ucap Edwin tanpa mengoreksi ucapannya barusan.


Aluv sedikit tersinggung atas apa yang diucapkan oleh suaminya, tentu saja mengenai perbuatannya bersama kekasihnya dulu, mendiang adik suaminya.

__ADS_1


Tapi, mau ditutupin segala, tidak ada untungnya. Aluv yang tidak ingin terpancing emosi dan menuruti egonya, dirinya lebih memilih untuk mengabaikan ucapan-ucapan yang menurutnya cukup pedas untuk diterima.


"Sudahlah, aku mau istirahat. Soal kenapa aku tidak bisa tidur denganmu, itu karena aku lelaki normal. Jadi, aku sengaja untuk terpisah tidurnya. Aku rasa Mamaku sudah mengatakan semuanya mengenai diriku dan statusku yang sebelumnya. Sudah malam, tidak baik untuk kesehatan kamu, tidurlah."


Ucap Edwin dengan santainya, seakan menjalani hubungan suami istri yang sesungguhnya tanpa menunjukan kebencian atas pernikahannya.


"Ya Kak, selamat malam dan selamat beristirahat." Jawab Aluv disertai anggukan dan segera kembali ke kamarnya.


Sedangkan Edwin memilih untuk berada di ruang kerjanya sebelum rasa kantuk benar-benar menguasai dirinya.


Sampainya di dalam kamar, Aluv mengunci pintunya.


Entah mengapa, dirinya merasa dilema dengan perlakuan dari sang suami yang menurutnya begitu aneh. Kebanyakan orang menikah karena sebuah paksaan, pasti ada rasa enggan untuk bicara, tetapi tidak pada diri Edwin.


"Aku sedang tidak bermimpi, 'kan? jika ya, semoga mimpi ini akan segera berakhir. Aku tidak ingin hidup penuh mimpi. Aku takut, jika mimpiku akan berubah menjadi kenyataan yang sangat buruk. Bahkan, beban itu sangat berat untuk aku pikul sendirian." Gumam Aluv sambil duduk bersedih ditepi tempat tidur.


Berbeda dengan Edwin, dirinya memang benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, untuk mengingat istrinya saja tak terlintas dalam ingatannya.


Karena waktu masih lama untuk mendekati jam tengah malam, Edwin menyibukkan diri dengan tugasnya yang masih menumpuk karena sebelumnya telah memikirkan pernikahannya sendiri yang harus seperti apa untuk menjalaninya.


Tanpa sengaja, ada sesuatu yang jatuh dari meja kerjanya.

__ADS_1


"Apa ini?" gumamnya penuh tanda tanya.


"Foto, foto siapa ini?" gumamnya lagi dan memeriksanya dengan sangat jeli.


"Sora, rupanya foto perempuan itu." Ucapnya lirih dan langsung merobeknya serta membuangnya ke tong sampah.


Geram, kesal, benci, kini telah terkumpul menjadi satu. Ingatannya kembali di masa lalunya, yang mana telah mendapatkan sebuah pengkhianatan yang cukup menyakitkan dan tidak akan terlupakan, ditambah lagi bahwa dirinya lah yang melihatnya begitu nyata.


Untuk membuang ingatannya pun terasa begitu sulit, antara cinta buta dan sebuah pengkhianatan. Tidak dapat dipungkiri, Edwin telah menjalani hubungan asmara cukup lama dengan mantan istrinya itu, dan tentunya banyak kenangan yang sudah dilewatinya bersama.


Edwin yang seperti kesetanan, ia bergegas keluar dari ruang kerjanya. Entah apa yang akan dilakukannya, hingga menuju kamar istrinya.


Sampainya di depan pintu, Edwin sadar dengan keputusannya sendiri.


"Kak Edwin, mau ngapain berdiri didepan pintu?" tanya Aluv dengan gugup.


Bagaimana tidak gugup, saat membuka pintunya, sosok suaminya sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Tidak ada apa-apa, aku salah kamar saja. Kamu ngapain keluar dari kamar? sudah malam, lebih baik kembali masuk ke kamarmu dan beristirahatlah." Jawab Edwin beralasan, dan tidak lupa untuk berbasa-basi bertanya.


Padahal dirinya paling enggan untuk bertanya, karena sesuatu alasan, akhirnya mau tidak mau dirinya bermain drama sendiri.

__ADS_1


"Oh, kirain ada perlu. Aku mau ambil air minum, tadi lupa mau membawa ke kamar."


"Tidak ada. Ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat." Ucap Edwin dan langsung bergegas masuk ke kamarnya sendiri.


__ADS_2