
Pernikahan, tak pernah terlintas didalam benak sosok Kenaya maupun Nuza. Keduanya sama halnya tidak menginginkan pernikahan yang dilandasi tanpa adanya perasaan cinta.
Ingin marah, itu semua percuma. Kenaya hanya bisa menuruti permintaan dari kedua orang tuanya.
Begitu juga dengan Nuza, ingin memberontak juga tak kuasa untuk melakukannya. Mau tidak mau, pernikahan yang tak diinginkannya itu harus dipenuhi seperti permintaan oleh kedua orang tuanya.
Tidak hanya kedua pengantin yang ingin menolak perjodohan, tetapi Edwin sendiri juga menginginkan hal itu. Pasalnya, meski sudah menikah, istrinya dan adik iparnya sendiri sangat mudah untuk bertemu.
Tidak dapat dipungkiri, Edwin mengetahui semuanya tentang masa lalu istrinya bersama Nuza, calon adik iparnya. Disitulah, Edwin mulai mengkhawatirkan.
Tidak begitu percaya pada istrinya, karena perasaan bisa datang dan pergi kapanpun, termasuk Aluv yang dikhawatirkan akan jatuh hati dengan Nuza, adik iparnya sendiri.
Di dalam ruangan khusus untuk sang pengantin perempuan, Naya tengah di rias secantik mungkin.
Tegang, cemas, gelisah, gugup, telah dirasakan menjadi satu rasa, tidak karuan.
"Kak Aluv," panggil Naya pada kakak iparnya yang tengah berdiri di dekatnya.
"Ya, ada apa?"
__ADS_1
"Aku takut, Kak. Aku kabur aja apa ya?"
"Mau ngapain kabur? nanti nyesel loh." Sahut Ibunda Holena ikut menimpali.
"Ih Mama, ini. Aku takut tau, Ma. Batalin aja ya, Ma ...."
"Hem, tidak bisa. Pengantin prianya sudah datang, sekarang tinggal menunggu kamu, sayang."
"Mama."
"Sudah, beresin dulu riasan wajah kamu." Kata Bunda Holena, Naya sendiri memasang wajah cemberutnya.
"Tidak, Ma. Aluv mau menemani Naya." Jawab Aluv yang tidak tega melihat adik iparnya sendirian tanpa adanya keluarga yang menemani.
"Ya sudah kalau kamu temani Naya, Mama duluan, ya." Ucap Ibu mertua, Aluv mengangguk dan mengiyakan.
Setelah tidak ada lagi ibu mertua, Aluv menemani adik iparnya hingga selesai berias.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Naya telah selesai dirias. Kemudian, Aluv mengantarkannya sampai di dekat calon pengantin laki-laki.
__ADS_1
Edwin yang tengah duduk disebelah ayahnya, hatinya mulai berkobar karena api cemburu yang mulai meluap.
Begitu juga dengan Nuza, justru pandangannya tertuju pada Aluv yang tengah berjalan beriringan dengan calon istrinya sendiri.
Setelah itu, Aluv membantu adik iparnya duduk. Nuza diam, tatapannya dialihkan ke sembarang arah. Takut, emosinya sulit untuk di kendalikan.
Karena waktu akan segera dimulai, Aluv segera duduk di sebelah suaminya. Sedangkan Radien tengah berada bersama baby sitter-nya.
Acara pun dimulai, satu persatu di beri pertanyaan sebelum pengucapan kalimat sakral dimulai.
"Apakah benar, perempuan yang ada di samping Ananda ini adalah calon pengantin perempuannya?" tanya dari seseorang yang akan memulai acara pengucapan kalimat sakral.
Nuza mengangguk, tapi pikirannya entah kemana.
"Ya, perempuan yang ada di samping saya ini adalah benar calon istri saya yang bernama Aluvia Genta ..." Jawabnya tanpa mengoreksi kalimatnya sendiri, dan pengucapannya pun begitu cukup jelas untuk di dengarkan.
Semua yang berada didalam acara tersebut, benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan pemilik nama dan pemilik jiwa dan raganya, Edwin serasa tersambar petir ketika mendengar kalimat tersebut.
Begitu juga dengan Naya sendiri, apa yang ia dengar seperti tidak percaya.
__ADS_1