Penutup Noda

Penutup Noda
Resmi


__ADS_3

Acara pernikahan telah berjalan lancar dan tidak ada suatu halangan apapun. Pengucapan kalimat sakral telah di ucapkan oleh Nuza dengan sangat jelas. Kini, Kebaya dan Nuza telah resmi menjadi sepasang suami-istri yang sah menurut agama dan hukum.


Satu persatu telah memberi ucapan selamat untuk keduanya, Nuza dan Naya. Berbeda dengan Edwin, dirinya masih menyimpan rasa kekesalannya saat teringat nama istrinya yang disebut saat pengucapannya.


Aluv yang tidak ingin membuat suaminya cemburu, lebih memilih untuk menghindari dan menyibukkan diri dengan putranya.


Naya yang tidak melihat keberadaan kakak iparnya, pikirannya mulai gelisah mencarinya.


"Selamat atas pernikahan mu dengan adik perempuan ku, Naya. Jaga adikku dengan baik. Jika sampai kamu menyakiti hatinya, aku tak akan segan untuk memberi pelajaran padamu." Ucap Edwin tak lupa memberi sebuah pesan pada adik iparnya.


Nuza mengangguk.


"Baik, jangan khawatir. Terima kasih sudah memberiku ucapan selamat." Jawab Nuza dengan datar.


Tanpa berucap lagi, Edwin segera pergi begitu saja.


"Kak," panggil Naya menghentikan langkah kaki sang kakak.

__ADS_1


Edwin memutar balikkan badan dan menatap adik perempuannya.


"Ya, ada apa?" jawabnya dan bertanya.


"Kak Aluv dimana? aku tidak melihat kakak ipar."


"Lagi bersama Radien, katanya menitipkan salam untuk kamu." Jawab Edwin beralasan, Naya berubah menjadi sedih saat mendengar alasan dari kakaknya sendiri.


"Ya, terima kasih, Kak." Kata Naya merasa dilema.


"Ya sudah, Kakak mau langsung pulang. Karena kakak iparmu sedang hamil, jadi harus banyak istirahat. Baik-baik ikut suami kamu. Jika ada apa-apa, kamu langsung hubungi keluarga di rumah, ok."


'Ada apa dengan Kak Edwin? apakah karena cemburu? sampai-sampai Kak Aluv tidak mau menemui aku.' Batin Naya dengan segala tebakannya.


Nuza masih diam, hatinya terasa sakit saat mendengar bahwa Aluv tengah hamil lewat ucapan kakak iparnya sendiri.


Karena sudah tidak ada lagi tamu undangan dan acaranya pun sudah selesai, Nuza dan Naya dibawa ke hotel yang sudah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya masing-masing.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju hotel, Naya hanya bisa melamun dan bersandar. Begitu juga dengan Nuza, hatinya masih terasa panas saat bertemu kakak iparnya dan ditambah lagi dengan kabar bahwa Aluv tengah hamil, membuat otaknya terasa mendidih.


Ingin marah, tak tahu harus marah dengan siapa. Ingin berteriak, tak mampu juga untuk melakukannya.


Cukup lama dalam perjalanan menuju hotel, akhirnya sampai juga ke tempat yang di tuju untuk dijadikan tempat penginapan selama satu minggu.


"Tuan, kita sudah sampai." Ucap seorang Supir setelah mematikan mesin mobilnya.


"Terima kasih banyak, Pak." Sahut Nuza, segera ia melepaskan sabuk pengamannya.


Begitu juga dengan Naya, meski dengan terpaksa, ikut melepaskan sabuk pengamannya dan ikutan turun dari mobil.


Sambil berdiri dengan tegak, Nuza berjalan memasuki hotel dan diikuti oleh istrinya dari belakang.


Semua staf menyambutnya dengan hangat, lantaran Nuza adalah pemilik hotel tersebut. Selain memiliki Restoran yang cukup terkenal, keluarga Nuza juga memiliki hotel.


Dengan kedisiplinan dan ketekunan, sejauh ini masih menduduki kesuksesan yang terus berkembang dan maju. Bahkan, begitu banyak cabang Restorannya setelah di pegang oleh penerus dari kakek buyut Ezal, lelaki yang pernah menjadi saingan kakek buyut Tirta Danuarta.

__ADS_1


Semakin lama, keluarga Danuarta semakin sukses oleh penerusnya dari anak ke cucu dan seterusnya.


__ADS_2