Penutup Noda

Penutup Noda
Akhirnya


__ADS_3

Aluv yang mendengar percakapan suami dan adik iparnya pun, ingin rasanya segera pergi dari ruangan kerja suaminya. Tapi, apa dayanya yang tak mampu untuk berkutik, Aluv hanya bisa pasrah.


"Kalau Naya pulang duluan, nanti aku pulangnya bagaimana?" tanya Aluv memberanikan diri.


"Pulang bersamaku, dan tidak ada penolakan apapun itu." Jawab Edwin dengan sikap dinginnya.


"Kak Aluv tidak perlu takut, mungkin Kak Edwin butuh teman. Lagian juga sudah menikah, tidak ada yang perlu ditakutin." Sambung Naya ikut menimpali.


"Tapi Nay, bukankah tadi kamu meminta Kak Aluv untuk menemanimu?"


Aluv yang teringat dengan ajakan Naya, akhirnya dipakai untuk dijadikan alasan.


"Lain kali saja ya, Kak. Ah ya, hampir saja aku lupa. Hari ini aku ada janji sama teman-temanku di restoran, ada acara makan siang bersama. Jadi, Kak Aluv pulangnya bareng sama Kak Edwin saja ya, ok." Jawab Naya mencari alasan, demi kedekatan calon kakak iparnya dengan kakak kandungnya sendiri.


"Tega, kamu Nay ..."


Bukannya kasihan, justru Naya tertawa kecil saat melihat ekspresi kakak iparnya.


"Ya sudah ya Kak Aluv, aku pulang duluan. Kak Edwin, aku titip Kakak Ipar. Ingat, jangan membuat Kakak Ipar menangis." Ucap Naya berpamitan.

__ADS_1


"Ya ya ya, ya. Ya sudah sana pulang, cepetan." Jawab Edwin sambil mendorong adik perempuannya sampai di pintu.


Setelah tidak ada lagi sosok Naya, tiba-tiba Aluv berubah menjadi gugup. Pasalnya, ingatannya kembali saat dirinya mendapatkan ciuman dari sang suami. Tentu saja, pikiran selanjutnya mengarah pada hal yang menurutnya sangat kotor untuk dibayangkan.


"Kenapa masih berdiri disitu? duduklah, kamu pasti capek. Nanti akan aku pesankan minimum, agar tenggorokan kamu tidak kering."


Saat itu juga, Edwin langsung memesan minuman untuk sang istri, serta buah-buahan untuknya lantaran sang istri yang tengah hamil. Tentunya, makan buah-buahan sangat baik untuk perempuan hamil, pikirnya.


"Kalau boleh tahu, aku mau disuruh ngapain, Kak? kenapa Naya mesti disuruh pulang?" tanya Aluv memberanikan diri.


Edwin yang mendapati pertanyaan dari istrinya, segera ia mendekati sang istri yang kini sudah duduk di sofa.


Jarak diantara keduanya sangatlah dekat, bahkan tidak ada satu jengkal. Tinggal maju sedikit, keduanya langsung bisa berciu*man. Bahkan, napas hangat milik suaminya sendiri dapat dirasakannya. Aluv semakin gugup dibuatnya.


"Kamu ingin tahu kan, kenapa aku melarangmu untuk pulang?"


Aluv mengangguk, memang kenyataannya ingin mengetahui maksud dari suaminya.


Edwin langsung meraih tangan kanan milik istrinya dan mengarahkannya ke dada bidangnya. Detak jantung Aluv semakin tidak karuan. Bahkan, otak kotornya ikutan membantu mengaktifkannya kembali.

__ADS_1


Pelan-pelan, Edwin mengarahkannya ke suatu tempat.


"Kamu harus bertanggung jawab, kamu harus melakukannya sekarang juga." Ucap Edwin.


Seketika, Aluv membulatkan kedua bola matanya. Benar-benar di luar dugaannya, rupanya sang suami menginginkan sesuatu yang baru saja dipikirkan.


"Tap-tapi, bukankah Kak Edwin sudah memutuskannya sendiri?" tanya Aluv dengan gugup.


"Masih ada cara lain, meski hanya sekedar bermain saja." Jawab Edwin dengan lirih, tentunya didekat telinga istrinya.


Aluv gelagapan, benar-benar menakutkan atas permintaan suaminya itu.


Tidak dapat mengelak juga, jika Edwin sendiri lelaki normal dan tentu saja keinginannya tidak bisa di ganggu gugat ketika sudah tidak bisa dikendalikan.


Edwin yang sudah tidak bisa mengendalikan diri, akhirnya menuntun istrinya untuk melakukan sesuai yang diarahkan oleh sang suami.


Aluv yang juga ikutan terbuai, dirinya pun ikut menikmatinya. Satu persatu, Edwin berhasil membuka kancing baju milik istrinya.


Nanti malam aja ya.. ngilu.. 🤭

__ADS_1


__ADS_2