
Aluv mengangguk dan tersenyum saat mendapat ajakan dari ibu mertuanya.
"Ya, Tante. Maksudnya Aluv, Mam-Mama." Jawab Aluv dengan gugup.
"Kak Aluv jangan takut, Mama sangat baik. Jangan sungkan untuk memanggil Mama, karena Kakak sudah menjadi bagian keluarga kami." Ucap Kenaya ikut menimpali, Aluv sendiri pun tersenyum mendengar adik iparnya bicara.
Setelah mendapatkan ajakan dari Ibu Mertua dan suami, Aluv ikut masuk ke dalam rumah keluarga Galeyandra.
Sampainya didalam rumah, Aluv berdiam diri. Antara bingung dan tidak tahu harus bagaimana.
Edwin yang hampir saja lupa, ia menghentikan langkahnya sebelum melepaskan sepatunya dibawah anak tangga.
"Hampir saja aku lupa." Ucap Edwin setelah melepaskan sepatunya serta kaos kaki.
"Ada apa, Nak? kenapa kamu tidak mengajak istrimu masuk ke kamar mu?"
Sahut ibunya dan bertanya karena tiba-tiba acuh tak acuh dengan istrinya dan terlihat tidak memperhatikan keberadaan sang istri.
"Ya ini, aku mau membicarakan sesuatu hal pada semua yang ada di rumah. Sebelum berprasangka buruk terhadapku, sekarang akan aku jelaskan. Aku tidak peduli, ini keputusan yang benar atau salah. Tapi aku yakin, jika keputusanku ini adalah benar." Ucap Edwin, sang ibu, ayah, adik perempuannya, dan juga sang istri bingung untuk mencernanya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan sama kita, Nak?" tanya sang ibu penasaran.
"Begini maksudnya. Aku tidak akan pernah satu kamar dengan Aluv."
"Tidak satu kamar? apa maksudnya, Nak?"
Belum juga melanjutkan kalimatnya, sang ibu langsung menyambar ucapan dari putranya.
"Ya Edwin, apa maksudnya kamu?"
Sang ayah yang kaget, Beliau ikut menimpali.
Bagi Aluv tidak peduli jika dirinya tidak akan dalam satu kamar dengan suaminya, setidaknya sudah dijadikan istrinya saja sudah sangat bersyukur.
Tetap saja, Aluv kembali memikirkan ketika anak yang dilahirkannya nanti tidak akan diakui ataupun dianggapnya ada oleh suaminya.
Tentu saja akan terasa berat untuk menerima anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Lebih lagi hasil diluar nikah, tentu akan menjadi keputusan berat untuk mengakui anaknya.
Edwin menarik napasnya pelan, lalu membuangnya dengan kasar ke sembarang arah.
__ADS_1
Dengan pasrah, Aluv mendengarkan suaminya bicara. Disamping itu, ibu mertua menggenggam tangan menantunya. Takut, jika putranya akan berbicara yang tidak baik kepada menantunya.
"Maaf sebelumnya, tapi ini sudah menjadi keputusanku sebelum Aluv menjadi istriku." Ucap Edwin.
Berharap, apa yang akan disampaikannya akan diterima oleh kedua orang tuanya dan istrinya sendiri. Tidak peduli bagi Edwin jika dirinya akan dikatai suami yang tidak tahu diri sekalipun, dirinya tetap pada prinsipnya yang tidak akan bisa diganggu gugat, apapun alasannya.
Sang ayah, ibu, istri, dan adiknya, semua masih fokus mendengar penuturan dari Edwin.
Edwin kembali melanjutkan ucapannya lagi.
"Aku tidak akan pernah tidur dan tinggal dalam satu kamar dengan Aluv, ini keputusanku yang tidak akan bisa goyah. Bukan karena jijik, tidak. Aku akan berada dalam satu kamar dengannya setelah Aluv melahirkan anaknya." Ucap Edwin berterus terang.
"Kenapa mesti menunggu melahirkan? kalian berdua ini sudah sah menjadi suami istri, tidak ada halangan apapun pada kalian untuk tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur."
Sang ibu kembali bertanya karena ucapan dari putranya seperti tidak masuk akal sama sekali.
Begitu juga dengan Tuan Topan yang sama halnya seperti istrinya yang merasa aneh dengan jawaban dari putranya.
Aluv sendiri sama sekali tidak berkomentar, dirinya hanya menjadi pendengar setia. Sudah ada yang mau bertanggung jawab saja sudah sangat bersyukur, pikir Aluv.
__ADS_1