
Saat mendapat penolakan dari Nuza, Alisa seperti memalukan diri sendiri dihadapan lelaki yang selama ini ditaksirnya.
"Baiklah, aku pamit. Terimakasih banyak atas jawaban dari kamu." Ucap Alisa sambil menundukkan pandangannya.
"Aku hanya bisa berpesan, jangan pernah menyimpan kebencian kepada siapapun, kamu pasti akan menemukan lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu. Terimalah lelaki yang mencintaimu, bukan kamu yang harus mengemis pada lelaki. Kamu seorang perempuan, jaga harga diri kamu. Aku doakan, semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang pantas untukmu." Ucap Nuza, Alisa segera mendongak.
"Ya, aku akan belajar dari semua kejadian yang pernah aku lewati. Terimakasih banyak karena sudah sudi untuk memberi nasehat untukku. Maafkan aku, mungkin karena aku keinginan ku yang menggebu, sampai-sampai aku lupa dengan tujuan hidupku. Aku doakan kamu juga, semoga menemukan pengganti Aluv." Jawab Alisa yang kini mulai menyadari tentang sikap dan perbuatan yang pernah dilakukannya selama ini.
Nuza mengangguk pelan, dan tak lupa untuk tersenyum.
"Aku pamit, sampai bertemu lagi." Ucap Alisa berpamitan.
Karena sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, Alisa segera pergi dari restoran milik Nuza, pewaris tunggal keluarga Danuarta.
Di tempat lain, Aluv tengah berada di Mall bersama ibu mertuanya.
"Aluv," panggil ibu mertua.
"Ya, Ma, ada apa?" sahut Aluv dan menoleh pada ibu mertuanya.
"Kita makan siangnya di restoran saja, ya." Ajak Ibunda Holena.
"Ya, Ma. Aluv ngikut saja sama Mama." Jawab Aluv sambil berjalan menuju kasir.
Selesai membayar semua belanjaan, ibu mertua dan menantunya segera pindah tempat. Dimana lagi kalau bukan ke restoran untuk makan siang.
Ketika sudah sampai di depan restoran, Aluv dikejutkan dengan restoran yang tidak asing baginya.
"Ayo kita turun, kita makan siangnya di restoran ini saja. Di Samping makanan yang sangat enak, jugaan sudah menjadi langganan."
__ADS_1
"Ya, Ma." Jawab Aluv dengan singkat, meski terasa berat untuk masuk kedalam dan harus bertemu lagi dengan Nuza, pikirnya.
Sambil berjalan, Aluv dan ibu mertuanya celingukan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk menikmati makan siangnya.
Tetapi tidak untuk Aluv, justru dirinya tengah dikhawatirkan jika harus bertemu dengan Nuza.
"Aluv, ayo kita duduk di sana saja. Sepertinya cukup nyaman." Ajak ibu mertua sambil menunjuk kearah yang ditunjukkan.
"Ya, Ma." Jawab Aluv dan mengikuti langkah kakinya.
Sedikit ragu, tetapi tak membuatnya berani untuk menolak ajakan dari ibu mertuanya.
Saat sudah berada di tempat yang dipilih, Aluv dan Ibunda Holena segera duduk berharap.
Tidak lama kemudian, datanglah seseorang yang mengenakan baju pelayan. Betapa terkejutnya ketika Aluv menatap seseorang yang ada di hadapannya itu.
"Nak Nuza,"
"Ya, Tante. Rupanya Tante Holena, saya kira hanya pelanggan biasa. Oh ya, Tante mau pesan apa? gratis deh buat Tante, dan ..."
Ucap Nuza, seketika terhenti dari ucapannya.
"Dan, kenapa?"
"Tidak apa-apa kok, Tante. Maksud saya, anaknya Tante, 'kan?"
Nuza yang tidak ingin Ibunda Holena mengetahui keakraban menantunya dengan Nuza akan diketahui, sebisa mungkin untuk berpura-pura tidak saling mengenal.
"Oooh, ini istrinya Edwin, menantu Tante." Jawab Ibunda Holena.
__ADS_1
"Oooh, saya baru tahu, Tante. Kalau begitu, silakan Tante memesan makanan kesukaan Tante dan menantu Tante." Ucap Nuza sambil menyodorkan berbagai macam pilihan menu makanan serta minuman.
Setelah memesan, Nuza segera kembali ke belakang. Sedangkan Aluv merasa malu ketika dirinya harus bertemu kembali dengan sosok lelaki yang sudah dianggapnya bagian keluarga sendiri.
"Aluv, ponsel kamu bunyi."
Seketika, Aluv dibuatnya kaget ketika ibu mertua memanggilnya. Cepat-cepat dirinya segera merogoh ponselnya yang ada didalam tasnya.
'Kak Edwin, mau apa menelpon-ku?' batin Aluv bertanya-tanya. Kemudian, ia segera menerima panggilan dari sang suami.
["Aku ada di restoran Merpati Jaya bersama Mama."]
Tiba-tiba sambungan telpon terputus begitu saja saat Aluv mengatakan jika dirinya bersama ibu mertua tengah berada di restoran.
"Siapa, suami kamu?" tanya ibu mertua.
Aluv mengangguk.
"Ya, Ma. Tapi, tiba-tiba ponselnya mati." Jawab Aluv beralasan, meski kenyataannya telah diputus panggilan telponnya oleh sang suami.
"Oooh, kirain siapa. Mungkin saja ponselnya kehabisan baterai." Ucap Ibunda Holena.
Tidak lama kemudian, Nuza telah datang dengan membawakan makanan yang dipesan oleh Ibunda Holena.
Entah sudah sejak kapan, Edwin berada di depan restoran. Tiba-tiba saat itu juga, datanglah sosok Edwin yang sudah berdiri didekat istrinya.
Aluv maupun Nuza sama-sama kagetnya.
Entah ada angin apa, Edwin langsung duduk didekat istrinya dan semakin mendekatkan tempat duduknya hingga jarak pada keduanya sudah menempel bak perangko.
__ADS_1