
"Tuan Edwin kan, ya." Panggil seseorang yang sudah turun dari mobilnya.
"Tuan Daka," sebut Edwin yang tidak menyangkan-nya.
"Kok jalan kaki, mobilnya kenapa?" tanya Tuan Daka.
"Ban mobilnya bocor, Tuan." Jawab Edwin berusaha untuk santai.
"Kalau begitu, ikut saja dengan saya. Lagi pula kita satu arah, dan juga melewati kantor Tuan Edwin, jadi kita bisa berangkat bareng." Ajak Tuan Daka memberi tawaran pada Edwin.
"Ya Kak, ikut aja. Apa ya, kita mau jalan kaki terus. Ayolah, ikut saja ajakan dari Bapak ini." Bisik Naya sambil mencubit lengan kakaknya.
"Apa-apaan sih, bikin malu aja kamu ini." Kata Edwin ikut berbisik.
"Jangan sungkan, mari ikut saya." Ucap Tuan Daka yang tetap berusaha untuk mengajaknya.
"Aw! ya ya ya, ya." Pekik Edwin ketika mendapat cubitan semakin terasa sakit karena ulah dari adik perempuannya.
"Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih banyak atas tumpangannya ya, Tuan."
Dengan perasaan tidak enak hati, akhirnya Edwin menerima tawaran dari Tuan Daka.
Naya yang tadinya tidak bisa membayangkan rasanya berjalan kaki sepanjang jalan, kini dirinya merasa lega karena mendapatkan tumpangan gratis meski duduk paling belakang. Sedangkan sang kakak tengah duduk bersebelahan dengan Tuan Daka.
"Oh ya, kata ayah kamu, hari ini berangkat ke Paris, benarkah?" tanya Tuan Daka membuka suara. Edwin sendiri mengangguk.
"Tuan Daka tahu darimana?" tanya Edwin ingin tahu.
Bukannya menjawab, justru Tuan Daka menoleh kebelakang dan tersenyum tipis. Setelah itu, Beliau kembali menatap Edwin.
"Kita berdua tidak pernah lepas saling menghubungi, tentu saja saya tahu tentang ayah kamu. Oh ya, kalau boleh tahu, yang dibelakang kita ini, adik kamu kah?"
Edwin pun menoleh ke belakang, meski sudah tahu jika yang duduk dibelakangnya adalah adik perempuannya sendiri, rasa penasarannya pun muncul seketika.
"Ya, Tuan. Yang duduk di belakang kita itu, adik perempuan saya. Namanya Kenaya, usianya masih sangat muda." Jawab Edwin berkata jujur.
Naya sendiri yang merasa tengah dibicarakan, merasa risih dan tentunya tidak nyaman.
__ADS_1
Cukup lama memakan waktu dalam perjalanan, akhirnya telah sampai di depan kantornya.
Edwin maupun Naya segera turun. Sebelumnya, Edwin mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih banyak atas tumpangannya ya, Tuan. Maaf, jika kami merepotkan." Ucap Edwin berterimakasih.
"Sama-sama, Tuan Edwin. Kalau begitu saya langsung saja pamitan, sampai ketemu lagi." Jawab Tuan Daka dengan anggukan.
Ketika tidak lagi terlihat bayangan mobil Tuan Daka, Edwin dan Naya segera masuk ke dalam kantor.
Semua karyawan yang melihat kedatangan Bosnya, tak ada satupun yang tidak memberi hormat, satu per satu telah memberi hormat pada Edwin maupun Naya dengan membusungkan badannya.
Meski terasa risih ketika semua karyawannya tengah memberi hormat padanya, Edwin tidak begitu memperdulikannya. Dirinya tetap berjalan dengan tegap sampai di ruang kerjanya tanpa menoleh ke sisi kanan dan kiri.
Berbeda di tempat lain, Alisa yang merasa dirinya harus memperjuangkan Nuza, akhirnya dengan percaya diri, Alisa mendatangi restoran milik keluarga Danuarta.
Sambil celingukan, Alisa mencari keberadaan lelaki yang akan diperjuangkan. Satu per satu, kedua matanya mengamati sosok pelayan yang bermuka Nuza.
Sekilas, Alisa mendapati Nuza yang tengah melayani tamu yang datang. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Alisa segera menghampirinya.
"Nuza," panggil Alisa yang sudah berdiri di hadapan Nuza yang tengah membawa nampan kosong.
Bukannya menyapa atau yang lainnya, justru Nuza seakan tidak begitu mengenal Alisa.
Geram, kesal, itu sudah pasti tengah dirasakan oleh Alisa sendiri.
"Nuza, kamu tidak mau menyapaku?"
"Aku sedang banyak pekerjaan, tentu saja aku tidak bisa berlama-lama untuk mengobrol denganmu. Aku ada waktu, itupun malam sekitaran jam delapan." Jawab Nuza berterus terang.
"Sekarang saja, kenapa? aku membicarakan sesuatu denganmu."
"Sudah aku bilang, aku sangat sibuk. Jadi, aku sudah tidak ada waktu untuk saat ini."
"Sebentar saja sih, Nuza. Tidak lama kok, serius." Pinta Alisa yang tidak pernah mengenal lelah."
"Baiklah, kamu bisa ikut aku sekarang juga." Kata Nuza yang akhirnya menyerah dan mengajaknya ke suatu tempat yang dijadikan tempat untuk mengobrol.
__ADS_1
Dengan semangat dan percaya diri, Alisa mengikuti langkah kaki Nuza sampai di dalam ruangan yang tertentu.
Ketika sudah berada di dalam ruangan tersebut, Alisa benar-benar seperti mimpi. 'Alangkah bod*ohnya menjadi Aluv, dicintai lelaki sempurna, menolak.' Batin Alisa.
"Cepat kamu katakan, apa yang ingin kamu katakan padaku, Lisa?" tanya Nuza yang tidak ingin berlama-lama berada diruang tersebut.
"Aku mau memberi kabar, jika Aluv sudah menikah dengan seorang duda, apakah kamu sudah mengetahuinya?"
Nuza segera menoleh pada Alisa, tatapannya saja terlihat tidak suka ketika mendengarnya.
"Hanya itu saja kah?"
Bukannya terkejut, justru Nuza bersikap biasa saja dan membuat Alisa merasa bingung.
"Kamu tidak kaget, begitu? seharusnya kamu kaget."
"Untuk apa aku harus kaget mendengarnya, Aluv sendiri yang sudah mengatakannya langsung padaku."
"apa? jadi, Aluv sudah mengatakannya langsung padamu? terus, kamu tidak memberontak?"
"Untuk apa aku marah dengannya, kalau ternyata Aluv lebih bahagia dengan suaminya."
"Jadi, kamu benar-benar melepaskan Aluv?" tanya Alisa karena penasaran dan serba ingin tahu.
"Ya, kenapa?"
"Em ... itu,"
"Itu kenapa?"
"Itu, em ... aku ingin menjalin hubungan denganmu yang lebih serius. Aku tahu, kamu pernah menolak ku karena kamu hanya menyukai Aluv. Tapi, Aluv sekarang sudah menikah, aku berharap kamu akan menerima aku." Jawab Alisa dengan terpaksa mengatakannya langsung.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang ingin sendiri dulu, lebih baik kamu cari lelaki lain yang tepat untuk mengisi kekosongan hatimu. Jujur, aku tidak akan pernah bisa menerima kamu. Bukan karena kamu tidak cantik, tapi ini urusan hati." Ucap Nuza berterus terang.
Alisa yang mendengarnya pun, seakan mendengar kaset yang sedang diputar ulang. Kalimat yang sama, kini harus ia dengarkan yang entah keberapa kalinya. Sudah berkali-kali Alisa selalu mendapatkan penolakan dari Nuza, alasan yang sama dan sama.
"Alisa, aku minta maaf. Tapi ini masalah hati, aku tidak bisa bermain-main dengan pernikahan yang dilandasi perasaan. Percayalah denganku, di luaran sana masih ada lelaki yang mau menerima kamu karena sebenarnya kamu itu cantik." Ucap Nuza berusaha menolaknya dengan cara baik-baik.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri, Nuza masih belum bisa berhenti untuk melupakan Aluv, meski sudah menikah sekalipun. Bayangan kebersamaannya pun, masih terus menguasai pikirannya dan begitu sulit untuk dilupakan.