
Tidak ada lagi yang harus di permasalahkan dengan kehamilan Aluv. Bahkan, kedua orang tuanya sendiri begitu bahagia ketika mendengar putrinya hamil, begitu juga dengan Kemal yang tidak lupa ikut memberi ucapan selamat untuk adik perempuannya.
Di lain itu juga, Tuan Topan dan istrinya tengah disibukkan dengan hari dan tanggal pernikahan putrinya yang hanya menunggu dalam waktu yang cukup dekat.
Naya begitu gelisah, lantaran harus menerima perjodohan yang benar-benar tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ingin memberontak dan menolak, Naya sendiri tak mampu untuk melakukannya.
Begitu juga dengan Nuza, dirinya sendiri ingin rasanya menolak dan membatalkan pernikahannya.
"Pa, yang benar aja, Nuza harus menikah dengan adik iparnya Aluv."
"Terus, kenapa? gadis itu anak yang baik. Bahkan, tidak kalah cantiknya dengan Aluv."
"Tapi, Pa ... Nuza tidak cinta dengannya." Kata Nuza yang berusaha untuk menolak.
"Karena kamu tidak pernah mau melihat diri kamu sendiri, Aluv tidak mencintaiinta kamu." Ucap sang ayah memberi penegasan untuk putranya.
__ADS_1
"Ya, sayang. Yang dikatakan oleh Papa kamu itu ada benarnya. Lupakan Aluv, dan isi lah hatimu dengan perempuan yang mau menerima kamu dengan setulus hatinya. Jangan mencintai perempuan yang pernah mengatakan bahwa tidak cinta denganmu, kamu lelaki dan harus bisa menjaga harga diri kamu. Jangan sampai kamu menjadi seorang pengemis dengan perempuan yang tidak pantas untuk kamu miliki." Timpal Bunda Enja ikut mengingatkan putranya.
"Sudahlah, kamu terima saja keputusan dari Papa. Besok, persiapkan diri untuk menikah." Ucap Tuan Daka dengan keputusannya yang tidak bisa untuk dirubah.
Nuz yang tidak lagi mempunyai pilihan lain, dirinya terpaksa menerima keputusan yang sudah ditetapkan oleh orang tuanya.
Di sisi lain, Aluv tengah menikmati harinya dengan putra sulungnya. Sedangkan Edwin sendiri tengah disibukkan dengan pekerjaannya yang begitu menumpuk, lantaran, kedua orang tuanya tengah disibukkan dengan acara pernikahan yang tinggal menunggu hari berganti.
Cukup lama waktu lama waktu yang sudah dilewati oleh Aluv dan yang lainnya, tak terasa waktu yang sudah dijalaninya telah tiba.
Dan kini, rupanya telah dijalaninya waktu kehamilan yang sudah beberapa bulan kemudian. Bahkan, tidak ada keluhan apapun pada dirinya.
Tak terasa, hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga Galeyandra dan Danuarta, rupanya telah tiba waktunya untuk bersiap-siap. Yang mana Aluv tengah di bantu untuk persiapan pernikahannya.
"Ma, seriusan nih, kalau hari ini Naya akan menikah?"
__ADS_1
Bunda Holena tersenyum saat melihat putrinya terlihat begitu cantik ketika mengenakan baju pengantinnya.
Bukannya menangis dan bersedih, justru Naya bersikap biasa-biasa. Bahkan, dirinya terlihat baik-baik saja dan tidak ada keluhan apapun.
Entahlah, hanya Naya sendiri yang tahu atas perasaannya sendiri.
Wajahnya terlihat ceria, tapi tidak tahu dengan hatinya.
Sama halnya dengan Nuza, dirinya tengah dibantu mengenakan jasnya oleh ibunda tersayang.
"Kamu seperti Papa kamu, tampan dan berkharisma. Semoga pernikahan yang dipilihkan Papa kamu, itulah yang terbaik untuk menjadi teman hidupmu." Ucap Bunda Enja meyakinkan putranya.
Nuza tersenyum tipis, tak ada gunanya jika harus menuruti egonya, pikirnya.
Saat itu juga, Nuza kembali teringat ketika dirinya dijodohkan dengan perempuan yang pernah membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
Sayang disayang, perempuan yang disukainya ternyata sudah mempunyai dambaan hati dan tidak bisa untuk berpaling. Kecewa, itu sudah pasti. Tetap saja, Nuza tidak bisa untuk meluapkan kekecewaannya.