
Edwin yang sebenarnya tidak ingin menanggapi ucapan ibunya, dengan terpaksa menoleh.
"Ada apa lagi sih Ma? aku capek, ingin istirahat." Sahut Edwin dengan lesu.
"Tidak ada apa apa, Mama hanya ingin memastikan saja. Apakah Papa kamu sudah memberitahumu untuk segera pulang? jika ya, berarti kamu sudah tahu."
"Ya, Papa meminta Edwin untuk segera pulang. Soal pernikahan terserah Papa, Edwin nurut saja Papa dan juga Mama." Jawabnya dengan malas.
"Maafkan Mama yang tidak bisa mencegah kemauan Papa kamu, Nak. Mama hanya bisa memberimu doa yang terbaik untuk kamu, setidaknya kamu menyelamatkan calon keponakan kamu untuk dijadikan anakmu. Mau bagaimanapun, janin yang ada di rahim calon istrimu nanti adalah darah daging adikmu sendiri."
Ucap sang ibu yang merasa tidak tega melihat putranya harus menanggung resiko yang bukan kesalahannya.
"Mama tidak perlu sedih, seharusnya bahagia." Jawab Edwin dengan tatapan yang tidak bersemangat.
Mau bagaimanapun, pernikahan tetap membutuhkan perasaan saling suka atau diantara salah satunya ada yang menyukai. Tetapi tidak untuk dirinya, pernikahan yang harus dipaksakan dan tanpa ada cinta sedikitpun.
Jangankan untuk perasaan cinta, pertemuan dengan calon istrinya saja tidak dikenali. Bagai membeli kucing dalam karung, yang tidak tahu seperti apa didalamnya.
Menolak saja juga tidak mungkin, yang ada hanya akan timbul perkara baru yang siap menghancurkan reputasinya sendiri. Bukan takut nama baiknya hilang, karena sadar diri jika menjaga nama baik itu sangatlah susah dan tidak segampang membalikkan telapak tangan.
Bunda Holena yang merasa tidak bisa mencegah keputusan dari sang suami, Beliau hanya bisa pasrah dan memberi doa dan menyemangati putranya.
__ADS_1
"Mama akan bahagia jika kamu bahagia, Nak. Tapi, jika kamu bersedih, Mama juga ikut bersedih. Bahkan, Mama akan merasa sangat bersalah padamu." Ucap sang ibu sambil memegangi kedua lengan putranya.
"Doakan saja yang baik-baik untuk Edwin, Ma. Ya sudah kalau begitu, Edwin mau masuk ke kamar untuk istirahat." Jawab Edwin.
"Ya, istirahat lah. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, Mama akan memanggilmu." Ucap sang ibu, Edwin mengangguk pelan.
Kemudian, ia langsung menuju kamarnya. Sedangkan Bunda Holena pergi ke dapur untuk menyibukkan diri bersama asisten rumahnya.
Berbeda dengan Kenaya, dirinya tengah disibukkan dengan laptopnya.
"Eh, kenapa aku jadi teringat si pelayan restoran itu ya. Ah, ngapain juga aku memikirkannya. Dih, kepedean akut entar orangnya kalau tahu aku telah mengingatnya. Jangan sampai, jangan sampai." Gumamnya sambil mengacak rambutnya sendiri yang tidak gatal.
Berbeda lagi dengan Aluvia yang tengah berada di belakang rumah, tepatnya kebun bunga yang selalu menjadi pengobat kejenuhannya.
"Lagi membuang kejenuhan saja kok, Ma." Jawab Aluv dengan lesu.
"Sekarang sudah sore loh sayang. Apa kamu tidak ingin mandi? tidak baik untuk perempuan hamil mandi terlalu sore, Nak." Ucap sang ibu mengingatkan.
"Aluv sedang tidak ingin mandi, Ma. Lagian juga badan Aluv tidak kotor." Jawab Aluv tak bersemangat.
"Tapi ini sudah sore, sayang. Tidak baik untuk melamun. Ayo kita masuk, malam ini Kakak kamu akan pulang. Jadi, jangan jorok begini." Ucap sang ibu.
__ADS_1
Aluv yang mendengar kakaknya akan pulang ke rumah, tiba-tiba terbesit rasa takut jika dirinya akan mendapat tamparan dari sang kakak yang sifatnya sangatlah keras. Bahkan, tidak segan-segan untuk menyakiti orang, pikir Aluv dengan segala kecemasannya.
"Kak Kemal pulang, benarkah?" tanya Aluv dengan perasaan takut dan juga menggigit bibir bawahnya.
"Ya, Kak Kemal akan pulang malam ini. Jadi, ayo masuk ke rumah dan segera mandi. Papa yang menjemput Kakak kamu. Sedangkan kamu cukup menyambutnya saja." Jawab sang ibu.
"Tapi Ma, kalau Kak Kemal murka, bagaimana? Aluv takut. Apalagi Aluv sedang hamil dan tidak ada suami, pasti marah besar." Ucapnya dengan gelisah.
"Tidak, Kakak kamu tidak akan murka dengan kamu. Percayalah sama Mama, semua akan baik-baik saja." Kata sang bunda menenangkan putrinya agar tidak gusar dan ketakutan.
Saat itu juga, rupanya Aluv dan ibunya dikagetkan dengan suara langkah kaki yang kedengaran cukup jelas. Anak dan ibu tiba-tiba berubah menjadi cemas, takut yang pulang benar si Kemal bersama ayahnya.
Aluv dan ibunya langsung menoleh pada pintu belakang. Seketika, anak dan ibu benar-benar terkejut saat melihatnya.
Aluv yang ketakutan, ia langsung bersembunyi dibelakang ibunya sambil memegangi lengannya.
Dapat pertanyaan nih si otornya,
Apakah perempuan hamil boleh menikah?
jawabnya boleh dan pernikahannya pun sah, hanya saja tidak boleh melakukan hubungan suami-istri sampainya melahirkan.
__ADS_1
Boleh melakukannya setelah melahirkan.