Penutup Noda

Penutup Noda
Disangka ingkar janji


__ADS_3

Selesai menikmati makan malamnya, Edwin dan Aluv segera kembali ke kamarnya. Demi istrinya tidak lepas untuk merengek kabur dari perjanjian untuk tidur dalam satu kamar, Edwin tak lepas untuk menggandeng tangan milik istrinya.


Meski terasa risih dan malu dengan ibu mertua dan adik iparnya, Aluv berusaha untuk tetap tenang.


Sampainya di dalam kamar, Aluv kembali teringat dengan persetujuan dengan sang suami mengenai tidur dalam satu kamar.


"Aku duluan apa kamu duluan yang mandi, atau ... kita mandi ..." Ucap Edwin dan terhenti begitu saja.


Tidak lupa, Edwin mengedipkan matanya tanda untuk menggoda istrinya. Semakin hari, tingkah Edwin membuat istrinya bergidik ngeri melihatnya. Dari rayuannya, ajakannya, dan juga permintaannya.


"Aku duluan aja yang mandi, Kak Edwin bisa rebahan dulu. Bukankah baru saja pulang? pasti masih terasa lelah. Jadi, lebih baik Kakak istirahat dulu." Kata Aluv yang lebih memilih untuk mandi lebih dulu.


Takut, jika suaminya yang mandi lebih dulu, maka kesempatan emasnya untuk meminta ritual malam ketika sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ya sudah, tidak apa-apa." Jawab Edwin yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dengan hati yang berbunga-bunga.


Aluv yang tidak ingin mendapat jebakan batman, cepat-cepat segera membersihkan diri.


Edwin yang begitu sabarnya menunggu sang istri yang tengah mandi, berharap semuanya sesuai yang dibayangkannya. Membayangkan apalagi kalau bukan tidur bareng sambil memeluknya, bahkan bisa lebih, pikirnya.


Tidak lama kemudian, Aluv keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sosok suami yang usianya terpaut jauh dengannya, tetapi perhatian dari suaminya mampu menghipnotis.

__ADS_1


Melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi, Edwin segera bergegas untuk membersihkan diri. Sedangkan Aluv sudah duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang sebahu.


Selesai melakukan ritual sebagaimana seorang perempuan sebelum tidur, Aluv segera naik ke atas tempat tidurnya.


Tidak ingin suaminya tergoda, Aluv menutup tubuhnya dengan selimut tebal dengan posisi badan yang meringkuk dan memeluk guling.


Edwin yang sudah merasa gerah dan sudah tidak sabar ingin bermanja-manja dengan istrinya, secepatnya untuk membersihkan diri.


Selesai itu, Edwin keluar dari kamar mandi. Betapa senangnya ketika melihat istrinya sudah berada ditempat tidur. Senyum bahagia tengah dirasakan oleh Edwin, seakan mendapatkan kesempatan emas yang berlipat ganda.


Hanya mengenakan celana kolor dan tanpa baju yang menjadi andalan Edwin, pelan-pelan naik ke atas tempat tidurnya dan berbaring di sebelah sang istri.


Aluv yang menyadari atas keberadaan sang suami, secepatnya langsung menoleh sambil mempertahankan selimutnya.


Takut, jika suaminya akan menarik selimutnya dengan paksa.


Edwin mengernyit ketika istrinya memberi sebuah pertanyaan yang sulit untuk dimengerti.


"Aku mengingkari janji? janji apaan?"


Edwin balik bertanya sambil menunjuk kearahnya sendiri dengan jari telunjuk.

__ADS_1


"Ya, Kak Edwin sudah mengingkari janji Kakak sendiri. Masa ya, Kak Edwin sudah lupa." Kata Aluv yang berusaha untuk menahan tawanya.


"Maksudnya kamu itu, apa? perasaan aku tidak mengingkari janji. Bukankah kita sudah sepakat, kalau kita tidur satu kamar? coba deh kamu ingat-ingat lagi."


Sedangkan Edwin yang merasa tidak mengingkari janjinya, ia tetap bersikukuh atas jawabannya.


"Kata siapa Kak Edwin tidak mengingkari janji, bohong."


Aluv yang melihat suaminya kebingungan, alangkah senangnya ketika dirinya dapat mengerjainya.


"Sudahlah, kamu lagi ngigau, mungkin." Ucap Edwin dan semakin mendekatkan diri di dekat istrinya.


Aluv yang takut akan melewati batasannya, sebisa mungkin untuk menghindari suami sendiri. Bukannya tidak ingin melayani sang suami, Aluv hanya merasa takut ketika suaminya meminta hal lebih darinya. Ditambah lagi dalam satu kamar, mustahil jika akan dirasa aman, pikir Aluv yang penuh kekhawatiran.


"Kamu kenapa sih? aku cuma ingin memelukmu saja, selebihnya nanti kita cicil bareng." Ucap Edwin dengan tangannya yang mulai aktif dan tak lupa kedipan matanya yang terlihat menggoda.


Aluv yang merasa takut, sebisa mungkin untuk menepis tangan milik suaminya yang hendak menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya itu. Lagi-lagi Edwin menatapnya dengan penuh keheranan.


"Kak, kita boleh satu kamar, tetapi tidak untuk satu ranjang." Ucap Aluv yang seketika membuat Edwin menganga saat mendengar ucapan dari istrinya itu.


Benar-benar diluar dugaannya, rupanya dirinya tengah terjebak dengan kalimatnya sendiri.

__ADS_1


PLAK!


Edwin menepuk keningnya sendiri atas jawaban dari istrinya yang kedengaran sangat konyol.


__ADS_2