
Edwin dan kedua temannya tengah bersenda gurau di ruang tamu, ketiganya nampak asik membicarakan sesuatu yang lama tidak pernah mengobrol bareng.
"Bro, perasaan dari tadi aku tidak mendengar putramu menangis?" tanya Dokter Viktor sambil mendongak ke atas tangga.
"Lagi tidur, semalaman nangis terus, mungkin kecapean." Jawab Edwin dengan ekspresi datar.
"Oh, mungkin aja gitu. Oh ya, kita berdua mau langsung pamit aja nih. Soalnya nanti malam aku harus aktif kerja di rumah sakit. Kapan-kapan lagi, aku akan mengajak istriku main ke rumah kamu." Ucap Dokter Viktor sekaligus berpamitan.
"Aku juga ikutan pamit pulang ya, Bro. Kapan-kapan aku akan ajak kedua orang tuaku main ke rumah mu. Nanggung kalau cuma istri, nggak punya soalnya." Timpal Edwan ikut berpamitan.
Saat itu juga, Viktor dan Edwin tertawa bareng ketika mendengar kalimat terakhir dari sahabat. Bukannya ingin mengejek, kalimatnya yang mengundang keduanya tertawa.
"Hem, mentang-mentang udah punya istri, ledek terus ...."
"Makanya, buruan nikah. Kamu sih, jomblo terus yang kamu pertahankan. Apa kamu tidak penasaran dengan itu? hem." Ucap Dokter Viktor yang sengaja mengompori teman dekatnya.
"Jomblo itu bebas, Bro." Jawab Edwan.
"Bebas, tapi sering kena tilang si emak. Sama aja Lu, sudah ah! ayo kita pulang." Ucap Dokter Viktor sekaligus mengajaknya untuk pulang.
"Kalian serius nih mau pulang, apa tidak sebaiknya makan malam aja dulu."
__ADS_1
"Kapan-kapan aja lah, Bro. Mumpung lagi top cer, buat lagi aja, Bro. Hajar terus dah, biar penerus kamu bertambah banyak." Jawab Dokter Viktor, kemudian ia berbisik didekat telinga Edwin.
Edwin sendiri langsung membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Ide kamu benar-benar sangat gila, sudah sana kalau mau pulang. Bisa-bisa aku ikutan gila seperti kalian berdua, tensi darahku ikutan naik." Kata Edwin.
Karena ada kesibukan masing-masing diantara Edwan dan Dokter Viktor, keduanya segera pulang. Sebelumnya, berpamitan terlebih dahulu dengan Bunda Holena yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga.
Dan rupanya, Tuan Topan dan putrinya pulang dari kantor. Tentu saja berpapasan dengan Edwan dan juga Dokter Viktor.
"Loh, kalian berdua mau kemana? kok, sudah buru-buru pulang."
"Ya, Paman. Soalnya saya harus tepat waktu untuk sampai di rumah sakit, Paman." Ucap Dokter Viktor ikut menimpali.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati di perjalanan, jangan kebut-kebutan." Kata Tuan Topan yang tidak lupa mengingatkan.
"Ya, Paman." Jawab Edwan dan Dokter Viktor.
Kemudian, keduanya segera pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Tuan Topan dan Edwin segera menuju kamarnya.
Ketika sudah berada di dalam kamar, Edwin mendapati istrinya tengah mengajak putranya mengobrol, meski tanya sendiri dan jawab sendiri.
__ADS_1
Karena terdengar seperti ada yang membuka pintu, Aluv menoleh pada istrinya. Edwin tersenyum dan mendekati istrinya.
"Sudah bangun?" tanya Edwin dan ikutan duduk disebelah si bayi.
"Sudah, baru aja bangun. Oh ya, teman Kak Edwin sudah pulang?"
"Baru saja mereka berdua pulang, makanya aku masuk ke kamar. Oh ya, apakah kamu sudah membuatkan nama untuk bayimu? maaf, si kecil. Aku tidak tahu harus memanggilnya siapa. Aku minta sama kamu untuk segera memberi nama untuknya, agar aku tidak bingung untuk memanggilnya."
"Kakak aja yang memberinya nama, bagaimana?"
"Aku tidak bisa, kamu ibunya dan kamulah yang harus memberinya nama." Jawab Edwin.
"Tidak apa-apa, aku mengizinkannya. Kelak besar nanti pasti akan bahagia mendengarnya, jika Kak Edwin yang memberinya nama."
"Kamu serius? aku yang harus memberinya nama?" tanya Edwin untuk memastikannya.
Aluv sendiri mengangguk dan tersenyum, seraya menyetujuinya.
"Baiklah, nanti aku akan memilihkan nama yang bagus untuknya. Tapi sebelumnya, aku mau mandi terlebih dahulu." Kata Edwin, lagi-lagi Aluv mengangguk dengan perasaan bahagia.
'Semoga kamu benar-benar mau menerima anakku dengan tulus, bukan karena kasihan.' Batin Aluv penuh harap.
__ADS_1