
Sang ibu ikutan bingung memperhatikan putrinya yang terlihat mencari keberadaan seseorang.
"Memangnya siapa yang menolong kamu, Luv? lagian juga Mama dan Papa baru saja masuk. Tidak ada siapa-siapa di depan ruangan kamu ini. Ya kan, Pa? tidak ada seseorang yang terlihat sedang menunggu."
Ucap sang ibu dan menoleh kepada Beliau.
"Ya Luv, Papa juga tidak melihat ada seseorang yang menunggu kamu di luar. Mungkin orangnya sudah pulang, memangnya yang menolong kamu itu, lelaki atau perempuan?" sahut ayah Gentaram dan juga bertanya.
"Tadi orangnya sih bilang, mau menunggu di depan. Soalnya Aluv yang menyuruh orang itu, Ma." Jawab Aluvia dan menggigit bibir bagian bawah karena kehilangan sosok yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Aluv sendiri tidak begitu paham dengan sosok laki-laki yang sudah menyelamatkan nyawanya. Selama menjalin hubungan dengan Erwan, dirinya tidak pernah diperkenalkan dengan anggota keluarganya.
Tentu saja, Aluv sama sekali tidak mengenal anggota keluarga mendiang mantan pacarnya sendiri. Meski Edwin sosok yang dikenali oleh media sosial, tidak ada waktu bagi Aluv untuk ingin tahu tentang keluar Galeyandra.
Yang diketahui Aluv tentang keluarga Galeyandra yaitu, keluarga yang cukup kaya dan juga terkenal. Untuk mengetahui hal lebih lainnya, Aluv tidak begitu ingin tahu.
__ADS_1
Kesetiaan dan tanggung jawab saja sudah sangat cukup, pikir Aluv yang tidak ingin muluk-muluk.
Sedangkan Edwin yang terbangun dari tidurnya karena sebuah permintaan dari perempuan yang ia tolong, segera ia bangkit dari posisinya dan masuk kedalam ruang rawat pasien untuk pamit pulang karena rasa kantuk dicampur dengan rasa lapar menjadi satu.
Saat membuka pintunya, Edwin terkejut ketika mendapati dua orang yang sudah berada didalam ruangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tua perempuan yang sudah ia tolong.
Tanpa ada rasa canggung dan malu, Edwin menghampiri Aluvia yang tengah duduk bersandar di atas ranjang pasien. Sedikitpun, Edwin tidak begitu memperhatikan sosok lelaki paruh baya yang seumuran dengan orang tuanya.
"Tugasku sudah selesai, aku mau pulang." Ucap Edwin berpamitan, dirinya pun tidak ingin berlama-lama dan juga menjadi sasaran empuk dari orang yang akan berniat buruk pada dirinya.
"Ya, terimakasih banyak karena sudah menolong ku." Jawab Aluvia dan tersenyum.
Edwin tidak menyahut sama sekali, dirinya hanya mengangguk tanpa menyapa pada kedua orang tua Aluvia. Bahkan, menoleh saja pun tidak. Karena malas basa-basi, Edwin langsung pergi begitu saja dengan sikap dinginnya itu.
Tuan Gentaram yang lupa untuk mengucapkan kata terimakasih, Beliau segera menghentikan langkah kaki Edwin.
__ADS_1
"Anak muda, tunggu sebentar." Panggil Tuan Gentaram menghentikan langkah kaki Edwin yang hendak keluar.
Tanpa menoleh, Edwin hanya berhenti begitu saja.
Tuan Gentaram yang memang merasa berhutang budi karena putrinya sudah diselamatkan, akhirnya mengalah dan menghampiri Edwin.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu? atau ... dari keluarga siapa." Tanya Tuan Gentaram ingin tahu.
Edwin langsung menoleh dan membalikkan badannya. Kemudian, ia langsung mendongakkan pandangannya pada Beliau dengan ekspresi kedua tangannya yang berada disaku celananya.
Dengan santainya, Edwin menatap Tuan Gentaram.
"Ada perlu apa? sampai-sampai Anda ingin mengetahui namaku serta identitas saya." Jawab Edwin dengan sebuah pertanyaan.
"Tidak ada perlu apapun, saya hanya ingin tahu saja dah tidak ada yang lebih selain rasa ingin tahu." Jawab Tuan Gentaram yang menyimpan rasa penasaran.
__ADS_1
"Maaf, nama dan identitas saya sangat tersembunyi. Jadi, saya tidak akan menyebutkannya pada Anda." Ucap Edwin dan tersenyum tipis.