
Didalam kamar, Edwin tengah berbaring ditempat tidurnya sambil merentangkan kedua tangannya. Berharap, lelahnya akan hilang.
Saat itu juga, ingatannya kembali pada masa lalunya, saat mendapatkan pengkhianatan dari istri pertama.
Begitu jelas skandal perselingkuhan antara istri dengan temannya sendiri, dan terang-terangan meminta untuk berpisah. Amarah yang semakin memuncak, Edwin langsung menceraikan istrinya tanpa berpikir lagi.
Sakit, tetapi tak berdarah. Cukup kecewa ketika istrinya bermain di belakang dengan temannya sendiri. Sungguh, Edwin berubah murka ketika perempuan yang diperjuangkannya telah menyakitinya lantaran dirinya tak bisa memiliki keturunan.
Tidak hanya sampai di situ saja, Edwin kerap menjadi bahan perbincangan oleh orang-orang di luaran sana.
Gosip selalu beredar jika dirinya bukanlah pewaris keluarga Galeyandra, melainkan hanya anak angkat semata. Tetapi, keluarga Galeyandra tidak mempedulikan gosip yang sudah menyebar luas itu.
Tidak peduli akan banyaknya berita yang beredar mengenai gosip yang selalu menyudutkan sosok Edwin yang tidak mempunyai keturunan serta bukan bagian keluarga Galeyandra.
Rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya, pelan-pelan Edwin memejamkan kedua matanya. Tidak terasa juga, akhirnya Edwin dapat tidur dengan pulas.
Begitu juga dengan Aluv, dirinya masih bersama mimpinya hingga tiba waktunya makan malam.
Cukup lama beristirahat, badan pun ikutan terasa lesu dan juga tidak bersemangat. Aluv yang sudah terbangun dari tidurnya, ia segera bangkit dari posisinya. Berharap, badannya akan terasa lebih enakan.
__ADS_1
Sambil duduk ditepi tempat tidur, Aluv menatap lurus kedepan. Ingatannya kembali pada kekasihnya dulu, Erwan.
"Apakah aku benar-benar sudah siap untuk menjalani kehidupan ini? sungguh, ini sangat menyakitkan. Tapi ... aku juga tidak ingin ketika anakku lahir tak mempunyai seorang ayah." Gumamnya sambil menatap lurus pada tembok.
Rasa penat terus menghantui pikirannya, sampai dirinya lupa untuk menjaga kesehatannya agar tidak setres.
"Apa ya, suamiku akan menerima anak yang ada dalam kandungan ku? sedangkan anak yang sedang aku kandung bukanlah anaknya." Gumamnya lagi yang mulai berpikir keras mengenai nasib anaknya nanti ketika sudah lahir ke dunia.
Suara ketukan pintu pun, akhirnya membuyarkan lamunannya. Tak ingin disangka yang bukan-bukan, Aluv segera membuka pintu kamarnya.
"Mam-Mama, silakan masuk."
Dengan terbata-bata saat menyebutkan panggilan ibu mertuanya, Aluv berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Mama duduk disini ya? ayo, kamu juga ikutan duduk disebelah Mama. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan."
Sambil meminta izin, ibu mertuanya menepuk bibir tempat tidur untuk mengajak menantunya ikutan duduk.
"Ya, Ma."
__ADS_1
Jawab Aluv dan ikutan duduk di sebelah ibu mertuanya dengan perasaan sedikit gugup.
"Begini Nak, Maama mau meminta maaf mewakilkan putra Mama, jika Edwin telah memberi keputusan yang cukup berat untuk kamu. Jujur, Mama sendiri kaget mendengar keputusan darinya. Tapi percayalah sama Mama, mungkin Edwin butuh pemikiran yang cukup matang untuk menerima semua ini." Ucap ibu mertua berusaha untuk menjelaskan serta meminta maaf.
"Aluv dapat memahaminya kok, Ma. Aluv tidak mempermasalahkan dengan keputusan dari Kak Edwin, karena pernikahan ini sebuah paksaan. Justru Aluv lah yang seharusnya meminta maaf. Karena Aluv, Kak Edwin yang tidak tahu apa-apa harus ikut menanggung kesalahan Aluv sendiri." Jawab Aluv yang merasa bahwa dirinya salah.
"Jangan bersedih ya Nak, kamu pasti bisa untuk melewati semua ini. Mama tidak akan membiarkan kamu bersedih, dan juga ikut menjaga calon cucu Mama." Ucap ibu mertua sambil merangkul menantunya layaknya anak kandung sendiri.
Aluv benar-benar tidak pernah menyangka-nya, jika ibu mertua begitu baik dan sangat perhatian padanya. Kesedihan yang dirasakan oleh Aluv, sedikit demi sedikit berkurang, hanya suaminya sendiri yang masih menjadi misteri untuknya.
Ibu mertua melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayu menantunya.
"Kamu jangan kaget, jika Edwin sebenarnya sudah pernah menikah. Sekarang setatusnya seorang duda. Karena tidak bisa mempunyai keturunan, istri Edwin berselingkuh dibelakangnya. Saat itulah, sikap kerasnya semakin membeku. Mama berharap, kamu tidak kaget ketika mendapatkan omongan yang tidak mengenakan ditelinga kamu dan hatimu."
Ucap ibu mertua mencoba untuk menjelaskan tentang kebenaran pada putranya. Aluv pun juga kaget, rupanya suaminya adalah seorang duda.
"Aluv tidak mempermasalahkan status Kak Edwin, Ma. Justru, Aluv sendiri perempuan lebih kotor dan tidak pantas untuk menjadi istrinya Kak Edwin." Jawab Aluv sambil menunduk dan juga merasa bersalah.
"Tidak Nak, kamu jangan bicara seperti itu. Yang kamu lakukan itu sebuah kesalahan dan kamu menyadarinya serta menyesali. Jadi, jangan samakan diri kamu dengan mantan istrinya Edwin. Yang dilakukan mantan istrinya itu jauh lebih buruk, meski perbuatan kamu juga tidak terpuji. Sudahlah, kamu jangan membahasnya lagi. Kamu fokus saja dengan kesehatan kamu dan janin yang kamu kandung." Ucap ibu mertua yang hampir saja melukai hati menantunya.
__ADS_1
"Mama sangat baik, Aluv benar-benar sangat beruntung."
Ucap Aluv, tak sengaja meneteskan air matanya karena terharu mempunyai ibu mertua yang begitu sangat bijak dan tidak memandangnya rendah. Bahkan, dirinya merasa diperhatikan.