Penutup Noda

Penutup Noda
Jawaban penuh penyesalan


__ADS_3

Aluv masih mendadak tercengang saat mendapati sosok laki-laki yang ada dihadapannya itu.


"Nu-Nuz-Nuza,"


Dengan gugup, Aluv menyebut namanya.


"Apa kabarmu? baik-baik saja, 'kan?" sapa Nuza.


"I-i-ya, kabarku baik-baik saja. Maaf, aku buru-buru mau ke toilet." Jawab Aluv sekaligus untuk menghindar.


Bukannya memberi ruang untuk Aluv, justru Nuza mendekati Aluv hingga terlihat semakin gugup.


Kini, Aluv sudah mentok pada tembok dengan ketakutan.


"Aku dengar Erwan sudah meninggal, benarkah itu?" tanyanya dengan dengan tatapan serius sambil menahan tangannya padi dinding, hingga membuat Aluv kesulitan untuk menghindar.


"Ya, Erwan sudah meninggal." Jawab Aluv sedikit gemetaran.

__ADS_1


"Berarti kita berjodoh." Ucap Nuza dengan entengnya.


"Tidak, kita tidak berjodoh." Jawab Aluv dengan perasaan takut.


Nuza yang mendengarnya pun tertawa kecil dengan apa yang diucapkan oleh Aluv.


"Kenapa kamu tertawa? apanya yang lucu. Aku sudah menikah. Jadi, biarkan aku pergi." Ucap Aluv berusaha untuk menyingkirkan tangan milik Nuza.


"Tidak mungkin secepat itu kamu menikah, aku tidak percaya denganmu." Kata Nuza yang masih belum juga percaya dengan apa yang dikatakan Aluv.


"Aku serius, sudah aku katakan padamu dari dulu, aku tidak mencinta mu." Ucap Aluv berterus terang.


"Ya intinya aku tidak bisa mencintaimu, dan cinta tidak bisa dipaksakan. Aku hanya menganggap bahwa kita ini hanya berteman baik, tidak lebih." Jawab Aluv apa adanya.


Bagi Aluv, cinta tidak harus dipaksakan dan tidak melulu harus melakukan perjodohan. Meski harus erakhir dengan sebuah penyesalan.


"Aku mohon, lepaskan tanganmu." Ucap Aluv sambil berusaha untuk melepaskan tangan Nuza.

__ADS_1


"Kamu sedang tidak membohongiku, 'kan?"


"Aku serius, aku sedang tidak berbohong. Aku ini perempuan kotor, tidak pantas juga untuk mendapatkan cintamu. Sekarang aku hamil anaknya Erwan karena kebodohan-ku sendiri." Jawab Aluv sambil menunduk dengan penuh penyesalannya.


'Maafkan aku Nuza, aku pikir dengan caraku ini, aku bisa menghindar dari perjodohan kita. Tapi, kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan. Erwan telah meninggal dan pergi untuk selama-lamanya, dan kini aku menjadi perempuan kotor yang tidak ada harga dirinya. Penyesalan, hanya itu yang aku punya.' Batin Aluv penuh penyesalan.


"Jadi, kamu hamil anaknya Erwan? tidak, kamu pasti sedang bermain drama di depanku. Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan barusan."


Nuza yang terkejut mendengar pengakuan Aluv, sungguh diluar dugaannya. Benar-benar tidak menyangka jika Aluv rela melakukan hal semacam itu demi menghindar dari sebuah perjodohan lantaran dirinya sudah terlanjur buta dengan cinta, apapun dilakukannya.


"Aku serius dan tidak berbohong bahwa aku sedang hamil anaknya Erwan, dan lelaki yang menikahi-ku itu adalah kakaknya Erwan. Percuma aku menyesal, semua tidak akan bisa merubah hidupku kembali seperti dulu." Jawabnya lirih dengan penuh penyesalan.


Nuza yang tidak mempunyai hak apapun, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Meski kecewa dengan apa yang dilakukan Aluv, dirinya tidak mempunyai hak untuk menghakiminya.


"Hidupmu ada pada keputusan kamu. Aku tidak mempunyai hak apapun tentangmu, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan kamu sendiri sudah menikah. Aku hanya bisa mendoakan, semoga bahagia dengan pernikahanmu." Ucap Nuza yang juga meresa kecewa karena harapannya hancur untuk mendapatkan sosok Aluv yang sedari dulu sudah sangat dekat dengannya.


Sejak dijodohkan, Aluv dan Nuza semakin renggang kedekatannya karena pihak perempuan yang mencoba untuk menghindari lantaran sudah mempunyai lelaki pilihannya sendiri. Sosok yang dijadikan tempat mencurahkan hatinya, tiba-tiba harus menjadi pasangannya. Sungguh, Aluv tidak bisa menerimanya.

__ADS_1


Demi bisa menghindar dari sebuah perjodohan, Aluv rela melakukan hubungan layaknya suami-istri agar dirinya segera hamil dan secepatnya menikah, dan tentunya bisa lepas dari perjodohan oleh orang tuanya.


Sayangnya, semua rencana yang sudah disusun dengan baik, rupanya takdir berkata lain. Aluv harus menanggung akibatnya, bahkan harga dirinya yang harus dikorbankan. Cinta telah membutakan, hingga harus terjebak didalamnya.


__ADS_2