
Bunda Holena pun tersenyum saat mendengar ucapan dari putrinya sendiri.
"Ya baguslah, berarti untuk jaga-jaga ketika mencari pasangan. Jadi, bisa mendapatkan istri yang benar-benar setia dan menerima segala kekurangannya." Jawab Bunda Holena.
"Ma, jaman sekarang itu dwit, ya nggak Pa. Eh kok Papa, Kak Edwin."
"Gak juga." Jawab Edwin dengan singkat.
"Jutek banget lah Kak Edwin ini. Sepertinya Kak Edwin cepat-cepat nikah deh, biar tidak jutek gitu."
"Diam lah kamu ini, masih kecil jugaan." Sahut Edwin dengan ketus.
"Ya, ya ya." Sahut Kenaya dan tak lupa memasang muka cemberutnya.
Saat itu juga, mobil telah memasuki area Restoran yang ternama itu. Restoran mana lagi kalau bukan Restoran keluarga Danuarta, yakni Restoran Merpati Jaya.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Ajak Bunda Holena.
Kenaya sendiri cepat-cepat untuk segera turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Norak, seperti tidak pernah masuk ke Restoran ini saja kamu itu." Ucap sang kakak dan mengusap wajah ayunya milik Kenaya.
"Kak Edwin, apa-apaan sih." Jawab Kenaya dengan memasang muka masamnya.
"Edwin, jangan usil." Ucap sang ibu melerainya.
"Bilang aja, kalau Kakak butuh istri." Ucap Kenaya dan langsung membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Edwin langsung membalikkan badannya dan menatap wajah adiknya.
"Kamu bilang apa tadi? ayo jawab."
"Tidak jadi, wek ...." Jawab Kenaya tak lupa menjulurkan lidahnya dan langsung berlari.
"Aw! kalau jalan itu lihat-lihat dong, sakit nih kaki aku. Kamu harus bertanggung jawab, titik." Ucap Kenaya dengan kesal.
"Maaf Nona, bukankah Nona sendiri yang jalannya sangat cepat. Bahkan, saya sempat melihat Nona tengah berlari. Jadi, sepenuhnya bukan kesalahan dari saya saja." Jawabnya tetap membela diri.
"Maafkan adik saya yang ceroboh ini, Mas." Ucap Edwin yang akhirnya meminta maaf atas tindakan dari adik perempuannya.
__ADS_1
"Tidak masalah, lain kali harus jaga sikap dan lebih hati-hati lagi ketika berada didalam Restoran ini. Karena tempat ini bukan untuk lomba lari ataupun jalan cepat." Jawabnya, Edwin hanya mengangguk karena memang merasa jika adik perempuannya yang salah.
Saat itu juga, seorang pelayan segera pergi meninggalkan Edwin dan Kenaya.
"Dih, pelayan aja sadis banget." Gerutu Kenaya dan tak lupa mengerucutkan bibirnya hingga terlihat monyong.
"Kalian kenapa lagi? buat gaduh? masalah lagi?" tanya sang ayah memergoki.
Kenaya hanya meringis, sedangkan Edwin tak menjawabnya karena kesalahan memang dari sang adik.
"Pa, Ma, aku mau ke toilet sebentar." Ucap Edwin berpamitan.
"Jangan lama-lama." Jawab sang ibu.
"Ya Ma." Jawab Edwin.
Edwin yang sudah tidak sabar ingin pergi ke toilet, ia berjalan dengan langkah kaki yang lebar dan terburu-buru yang pastinya.
Saat berada di toilet, Edwin dengan buru-buru menyelesaikan hajat kecilnya. Selesai itu, ia segera keluar dari kamar kecil.
__ADS_1
Saat keluar, tiba-tiba terdengar suara perempuan yang tengah muntah-muntah. Edwin yang penasaran dan ingin melihatnya, akhirnya niatnya dilakukan.
"Kenapa dengan perempuan itu? perasaan dari tadi muntah-muntah terus-terusan. Apakah perempuan itu sedang hamil? kasihan sekali, dimana suaminya. Ah siapanya diriku juga, saudara juga bukan." Gumam Edwin sambil memperhatikan perempuan yang tengah muntah.