
Saat itu juga, perempuan yang baru saja diperhatikan Edwin tiba-tiba jatuh pingsan. Dengan cepat tanggap, Edwin langsung menghampirinya dan mengantarkan ke rumah sakit karena takut terjadi apa-apa padanya.
Sambil menunggu, Edwin menghubungi orang tuanya untuk meminta izin jika dirinya tidak bisa ikut makan malam bersama di Restoran ternama.
Dengan panik, Edwin mondar-mandir. Pasalnya, dirinya tidak tahu untuk memberi kabar kepada keluarga perempuan yang ia tolong. Mau tidak mau, Edwin harus menemaninya sampai anggota keluarganya datang menjemputnya.
"Permisi, Tuan. Maaf, Tuan diminta untuk menemui Dokter Elsa di ruangannya. Tuan tinggal lurus saja, kemudian belok kanan. Nanti Tuan akan menemukan ruangan Dokter Elsa sesuai namanya, silakan." Ucap seorang perawat sambil mengarahkan ke ruangan Dokter kandungan.
"Terimakasih banyak, saya permisi." Jawabnya Edwin.
Karena tidak ingin berlama-lama di rumah sakit, Edwin segera menemui Dokter Elsa.
Sampainya di depan pintu ruang Dokter Elsa, Edwin mengetuk pintunya. Dengan otomatis, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya hanya dengan sebuah ketukan saja.
Edwin yang memang sudah tidak sabar, ia langsung masuk ke ruangan Dokter Elsa.
"Silakan duduk, Tuan." Ucap Dokter Elsa tanpa mendongak pada siapa orangnya yang masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
Dokter Elsa masih fokus dengan sesuatu yang sedang dikerjakan.
Begitu juga dengan Edwin sendiri yang tidak begitu memperhatikan sosok Dokter yang ia temui. Setelah itu, ia segera duduk dan tanpa berpikir sosok Dokter Elsa yang kini sudah berada dihadapannya.
Alangkah terkejutnya saat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Elsa, Elu."
Dengan reflek, Edwin menyebut nama Dokter Elsa sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.
Tidak hanya Edwin saja yang terkejut, rupanya Dokter Elsa sendiri juga ikutan kaget dibuatnya.
"Ya, aku Edwin. Bukannya Elu tinggal di luar Negri bareng suami Elu, si kunyuk Viktor itu." Jawab Edwin yang kembali teringat dengan sahabatnya.
"Kamu bilang apa tadi, coba ulangi lagi." Sahut seseorang yang kedengaran ada suara dari ambang pintu.
Dokter Elsa tersenyum dengan mengarahkan pandangannya ke lain arah. Edwin sendiri langsung memutar balikkan badan ke belakang dan melihat siapa orangnya yang datang.
__ADS_1
Seketika, Edwin tertawa puas bersama orang yang baru saja datang. Kemudian, ia segera bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendekati Dokter Viktor. Keduanya langsung berpelukan sejenak dan melepaskan lagi pelukannya.
"Sialan, kamu ini. Pulang tidak kasih kabar, tahu-tahu sudah sibuk aja di rumah sakit." Ucap Edwin yang tidak lupa menepuk punggung sahabatnya.
"Kamu sendiri, ngapain di rumah sakit? sampai-sampai masuk ke ruangan istriku segala. Kamu sedang tidak salah masuk ruangan, 'kan? awas saja kalau ini sebagian ada kejahilan mu padaku." Tanya Dokter Viktor sekaligus memberi sebuah tuduhan pada Edwin.
"Tidak, sayang. Edwin ini sedang menemani istrinya periksa." Sahut Dokter Elsa ikut menimpali.
Edwin langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena kaget ketika mendengar ucapan dari Dokter Elsa yang mengatakan dirinya tengah menemani istrinya periksa kandungan.
"Istri? maksud kamu itu, istrinya Edwin hamil?" tanya Dokter Viktor yang mendadak penasaran.
"Ya, siapa lagi coba. Masak ya, Edwin mengantarkan istri orang periksa kehamilan." Ledek Dokter Elsa dengan tawa kecilnya.
Saat itu juga, Dokter Viktor mengarahkan pandangannya pada Edwin dengan posisi kedua tangannya yang berada dalam saku celananya.
Karena masih penasaran dan ingin tahu jawaban dari Edwin, Dokter Viktor mendekatinya.
__ADS_1