
Alangkah terkejutnya saat melihat siapa perempuan yang tengah memeluknya. Edwin benar-benar tidak menyangka-nya.
"Alisa,"
Dengan reflek, Edwin menyebut namanya ketika melihatnya.
Aluv yang penasaran, dirinya ssgera mendekati suaminya. Tidak peduli baginya dengan rasa malu, toh dirinya adalah istri sahnya.
"Ya Kak, aku sengaja mau membuat kejutan untuk Kak Edwin."
"Kejutan apaan?" tanya Edwin yang belum mengerti.
"Nanti aja, tidak sekarang." Jawab Alisa dan kembali memeluk Edwin.
Dengan cekatan, Edwin menolaknya.
"Jangan peluk aku, karena aku sudah beristri." Ucap Edwin yang akhirnya berterus terang pada Alisa.
Aluv yang mendengarnya pun, dirinya tersenyum merasa lega dengan kejujuran suaminya.
"Menikah? aku tidak percaya, pasti Kak Edwin sengaja mengerjai-ku kan, percuma saja Kak Edwin bermain drama. Karena aku tidak akan percaya dengan ucapan Kakak." Kata Alisa yang masih belum juga mempercayainya.
Edwin yang malas berbicara, ia segera menoleh ke belakang untuk memanggil istrinya, dan rupanya tengah berjalan mendekat.
Begitu juga dengan Alisa, dirinya ikut mengarahkan pandangannya pada sosok perempuan yang tengah berjalan mendekat.
__ADS_1
Aluv maupun Alisa sama-sama terkejut saat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Alisa."
"Aluvia."
Dengan serempak, Aluv maupun Alisa sama-sama menyebutkan nama satu sama lainnya.
Semua ikut kaget mendengarnya, lantaran keduanya sama-sama mengenalinya satu sama lain, termasuk Edwin sendiri.
"Kok ada kamu di rumah ini? perasaan dari tadi aku tidak melihatmu."
Alisa langsung bertanya lantaran penasaran.
Alisa menganga lantaran terkejut saat mendengar pengakuan dari Edwin, lelaki yang sengaja ia jumpai dan akan menerima perjodohan dari orang tuanya. Tapi rupanya, takdir tidak berpihak dengannya. Justru, Alisa kembali dipertemukan dengan Aluvia yang selalu menjadi pesaingnya.
"Bukankah kamu sudah dijodohkan dengan Nuza? atau jangan-jangan kamu ini perempuan tidak benar, dan lebih tergoda dengan duda."
"Maaf, aku memang perempuan tidak benar. Kalau kamu mau memperjuangkan Nuza, silakan. Maaf, dari dulu aku selalu menolak Nuza. Karena aku tahu, kamu lebih dulu yang tergila-gila dengannya. Makanya aku lebih memilih menghindar dari pada harus ikutan gila sepertimu."
Jawab Aluv dengan berani, tidak peduli jika disampingnya ada sang suami dan juga ada mertua serta adik ipar yang juga ikut mendengarkannya.
"Sudah, sudah, tidak baik berantem dalam keadaan perut lapar. Lebih baik kita makan malam terlebih dahulu, kita akan selesaikan masalah kalian setelah selesai makan." Ucap Ibunda Holena.
"Baik, Ma. Aluv minta maaf, jika sudah membuat masalah."
__ADS_1
Jawab Aluv merasa bersalah karena sudah menggunakan emosinya karena mendapatkan tuduhan dari Alisa, meski memang itu benar, tetap saja telah menuding dirinya dengan terang-terangan.
"Tidak apa-apa, Mama bisa mengerti. Sekarang, ayo kita makan malam dulu." Ucap ibu mertua untuk tidak membuat menantunya menyalahkan diri sendiri.
Mau bagaimanapun, sepenuhnya bukan salah menantunya, tetapi juga mendiang putranya sendiri ikut andil dalam perbuatan itu.
Edwin yang tidak ingin kesehatan istrinya terganggu karena tengah hamil, sebisa mungkin untuk menjaga kesehatan serta kewarasan istrinya dengan sebaik mungkin.
Alisa yang melihat Edwin begitu perhatian dengan Aluv, hatinya tiba-tiba terbakar oleh api cemburu. Ditambah lagi jaraknya sangat dekat, yakni berhadapan. Tentu saja, perhatian Edwin pada istrinya terlihat begitu jelas.
Perasaan dongkol, itu yang tengah dirasakan oleh Alisa. Ingin marah, itupun juga tidak mungkin. Yang ada, dirinya akan terlihat buruk dimata kedua orang tua Edwin, pikirnya.
'Sialan, kenapa harus Aluv terus yang menjadi pemenangnya. Lihat saja, aku akan menghancurkan hidupnya. Bahkan, akulah pemenang yang sesungguhnya.' Batin Alisa yang merasa cemburu.
Aluv yang mendapat perhatian dari suaminya, hatinya pun berbunga-bunga. Entah perasaan yang seperti apa, Aluv sendiri tak mampu untuk menjabarkannya.
Begitu juga dengan Edwin, dirinya begitu telaten melayani istrinya. Entah karena candu, Edwin juga tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan.
Sudah cukup lama tidak memberi perhatian kepada seorang perempuan yang berstatus istri, kini seakan dunianya kembali.
Pernikahan yang pertama diharapkan akan bahagia dan saling menerima satu sama lain, tetapi rupanya hanya bagai angin badai yang menghancurkan hidupnya.
Sejak itu, Edwin tidak pernah memikirkan tentang pernikahan. Seandainya Alisa mau menerima perjodohan itu, Edwin sendiri akan menerimanya.
Tetapi kenyataannya, Alisa menolaknya dengan terang-terangan. Dan kini, saat Edwin sudah memiliki istri, Alisa datang bagai angin badai yang akan menguji pernikahan yang usianya seperti bayi yang baru lahir.
__ADS_1