Penyamaran Konglomerat

Penyamaran Konglomerat
*Episode 12


__ADS_3

Di kantor MAHENDRA GROUP


Dinda masuk ke ruangan papanya, terlihat papanya lagi termenung di kursi kebesarannya.


"Siang pa,,, " Sapa Dinda


"Siang.Dinda,,, putri papa" Mahendra bangun dari duduk nya untuk menghampiri Dinda dan memeluknya, karena memang sudah lama tidak bertemu.


"Akhirnya kamu mau menemui papa nak,, maafkan papa nak, telah menyakiti perasaanmu. "


"Sudahlah pah,gak usah bahas lagi. Dinda juga minta maaf, karena selama ini Dinda masih seperti anak kecil. Dinda yang kurang dewasa dalam mengambil sikap."


"Ayo duduk dulu,kita ngobrol sambil disana. Kamu sudah mkaknan belum, papa pesankan kamu makanan kesukaan mu ya,," papanya mempersilahkan Dinda duduk.


"Gak usah pa,, Dinda udah makan tadi di rumah."


"Sekarang kamu tinggal di mana nak? "


"Di kota X pa, aku tinggal sama bu minah. "


"Papa selama ini cari kamu kemana mana.Ternyata kamu disana.Apa kamu gak pernah ingat papa dan mama? "


"Ya ingatlah pah,, cuman Dinda emang belum mau pulang. Ada hal yang harus dinda selesaikan dulu. "


"Emang hal penting apa yang membuat kami enggan untuk pulang. Apa kamu semarah itu sama papa? "


"Bukan pa, tapi ini misi penting. makanya Dinda menyembunyikan keberadaan Dinda dari siapapun. "


"Maksud kamu apa? "Mahendra merasa binggung


"Dinda ingin menguak kematian almarhum mama pah,"


"Tapi kejadian itu sudah lama sekali nak,, kasusnya pun sudah di tutup. "


Dinda berdiri menuju jendela ruangan yang sangat besar, melihat kearah luar, pemandangan taman perusahaan, dan seberang jalan terlihat dengan lalu lalangnya kendaraan.


" Maka dari itu pah, karena kasus nya sudah sangat lama, pembunuhnya pun sudah lengah. Dan kini tiba saatnya aku menyelidiki kasus ini sendiri. Aku yakin yang bersangkutan dengan semua ini, juga dalang dibalik kasus yang ingin menghancurkan perusahaan kita pah"


Dinda tertunduk sedih, menginggat almarhum mamanya. Dinda ingat betul ketika kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


Kejadian yang membuat Dinda tak bisa melupakan peristiwa itu. Mamanya meninggal kecelakaan ketika menjemput Dinda di sekolah. Pas asik asiknya bernyanyi dalam mobil, tiba tiba dari arah belakang ada mobil yang mengikutinya. Mobil itu sudah menunggu sangat lama, sepertinya memang sudah mengincar target. Merasa mobilnya di ikuti orang asing, firasat mama Dinda gak enak, kemudian mempercepat laju kendaraan. Tapi nasib berkata lain, ketika jalan sepi dan berbelok, mobil di belakang menabrak mobil mamanya, dan jatuh ke jurang. Saat itu Dinda masih berumur 7 tahun, Dinda terpental keluar dan mamanya meninggal di tempat.Pembunuh itu keluar dari mobil, dengan tertawa sangat puas. Ketika itu Dinda masih sadar,Dan membuka sedikit matanya, melihat pembunuh itu dengan memakai gelang kaki yang ada inisial F. Tapi Dinda tidak sempat melihat wajahnya, karena setelah itu Dinda pingsan. Dinda menangis tersedu sedu tiap me nginggat peristiwa itu, Andai waktu itu Dinda tidak meminta mamanya yang jemput ke sekolah, pasti mamanya masih hidup.


Mahendra mendekati Dinda,, dia menenangkan Dinda dengan mengelus ngelus pundak Dinda.


"Maafkan papa nak, tidak bisa menjaga mamamu dengan baik. Terus sekarang kamu punya rencana apa"


Tolong rahasiakan keberadaan Dinda pah, dan sekarang Dinda bekerja di perusahaan Matoya.


"Aku ingin tau siapa tikus tikus itu. mereka menjalankan semua rencana dengan sangat rapi, maka kita juga harus cerdik dan rapi pah. "


"Papa dukung semua rencana kamu nak, tapi apa kamu gak mau pulang dulu nak.. "


"Kapan kapan aja pah. "


"Apa kita makan dulu ya, kita ke restoran sekarang. "


"Besok aja pah, tadi Dinda udah makan "


"Tadi kamu makan apa? udah lama lo gak makan bareng papa"


"Makan oseng tempe sama sayur kangkung. "


Apa??!! oseng tempe sayur kangkung?? emang ATM kamu udah habis? sampe anak papa makannya kayak gitu.


"Memblokir?!! Siapa yang memblokir ATM kamu, papa gak memblokirnya" Mahendra merasa binggung dengan perkataan Dinda.


"Apa mungkin mama Siska yang memblokir ya, nanti aku tanyakan pada Siska. Keterlaluan sekali dia. sampe anaku tinggal di rumah yang kecil dan makan oseng tempe terus."


"Udahlah pah, gak usah bahas lagi.Dinda udah biasa kok dengan kehidupan sederhana."


"Ini ATM papa kamu bawa. Pokoknya papa gak mau kalo sampe anak papa satu satunya ini kenapa kenapa." Mahendra menyerahkan kartu ATM black card.


"Janji sama papa untuk selalu jaga diri kamu, dan kamu harus tetap lapor ke papa tiap satu minggu sekali dengan datang kemari. "


"Siap pah..." Dinda memberi tanda hormat ke papanya.


Dinda Pulang dulu ya pah, kasian Adit menunggu kelamaan.


"Siapa Adit, pacar kamu? "

__ADS_1


"Bukan, asisten akun pah. "


hufhhhh....Mahendra menarik nafas lega, kalo sampe dinda udah punya pacar, bisa berantakan rencana perjodohannya dengan satya ivan,tapi untuk saat ini belum saatnya aku membicarakan perjodohan ini, bisa bisa nanti Dinda kabur lagi. pikir Mahendra.


Sementara Dinda juga belum berani bicara soal kekasihnya kepada papanya, karena Dinda belum yakin kalau papanya akan setuju dengan hubungan mereka. Papanya pembisnis sementara kekasihnya seorang dokter.


๐˜๐˜ฆ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด,,,๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ,๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต,,,๐˜ข๐˜ญ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ,,,๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ,,,, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข... ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜‰


๐˜๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ท๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜บ๐˜ข ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ



๐˜๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜‹๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ถ ๐˜”๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข



๐˜๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜™๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‘๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฐ



Visual Roy Mahendra



๐˜๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ



๐˜๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ


๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜๐˜ท๐˜ข๐˜ฏ



๐˜๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข ๐˜”๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข



๐˜๐˜ข๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ท๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜™๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช?? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ,,,

__ADS_1


๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ท๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜บ๐˜ข,,, ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ , ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ.


๐˜ˆ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ selanjutnya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


__ADS_2