
Dinda Ayu mendapat kabar dari Bu Minah, kalo Papanya sedang sakit.Ia meminta pulang ke rumahnya,Atas permintaan papanya.
Sampai di rumah, memang benar Papanya sedang terbaring lemah di kamarnya.
"Papa,, maafin Dinda pa, baru bisa jenguk papa"
Dinda menangis dipelukan Papanya.
"Iya Nak, Papa ngerti kok. "
"Kenapa papa gak di bawa ke rumah sakit "
"Papa mau di rumah aja. Papa cuma kecapekan aja kok. "
"Tapi kalo papa tambah parah gimana? "
"Udah gak papa,, kamu tenang aja, "
"Dinda, Papa mau bicara padamu nak,, "
"Tentang Apa pah? "
"Sekarang Papa sudah tidak se kuat dulu lagi, perusahaan Papa masih butuh orang untuk menghendelnya, Sementara kamu dari dulu Papa minta untuk belajar bisnis kamu tidak mau, Kamu malah mengambil jurusan Hukum, sekarang apa kamu mau mengabulkan permintaan papa nak? "
"Apa pah? "
"Menikahlah dengan orang pilihan papa. Dia orangnya sangat cerdas, papa yakin dia bisa membantu papa dalam mengelola perusahaan papa kelak "
"Tapi pah" kata Ayu tertahan ketika melihat ayahnya terbatuk batuk.
"Pah,, pah,, minum dulu pah"
"Ayu, hanya ini permohonan papa. "
Ayu terdiam, dengan air mata mengalir, Dia memikirkan Ivan, kekasihnya yang baru beberapa minggu ini jadi kekasihnya. Ayu tak mau berpisah dengan Ivan, tapi disisi lain dia tak mau mengecewakan papanya yang kesekian kalinya.
"Nak,,, Papa mohon"
"Sebenarnya Ayu sudah punya kekasih pah, tapi Ayu juga gak mau mengecewakan papa, Ayu akan memenuhi permintaan papa sebagai bentuk kebaktian Ayu pada Papa." Ayu memeluk Papanya, sambil menangis.
Makasih nak,, kamu memang anak berbakti, semoga kamu di beri kebahagiaan yang tak terhingga. Ini Doa Papa untuk mu.
"Iya pah,, "
Ayu mengusap air matanya,
"Papa udah minum obat? "
"Belum"
"Ayu bikinin bubur dulu ya pah,,Terus minum obat"
"Emang kamu bisa masak"
"Bisa dong pah,, Kan bu minah selalu mengajariku"
"Kamu memang hebat"
"Bentar ya pah, "
__ADS_1
"Bu minah,,, "Teriak ayu
"Iya Yu, ada apa "
"Ayu mau buatin bubur papah, di bantu siapin ya Bu"
"Iya, beres."
"Buk, emang Mamah kemana kok dari tadi gak kelihatan "
"Tadi sih pergi, gak tau kemana"
"Papah sakit, masih sempet sempetnya pergi"
"Emang pergi kemana?" Ayu menanyakan mana tirinya sambil mengaduk bubur
"Kayaknya sih ada urusan, Tadi cuma siapkan obat buat tuan, terus pergi. "
"Owh,,, udah berapa lama papah sakit buk, "
"Sebenarnya sih, baru satu minggu ini, tapi tiap hari kesehatan ya malah semakin parah. "
"Kalau parah ngapain tidak di bawa ke Rumah sakit"
"kata nyonya gak usah, Rumah sakit kotor, lebih baik rawat jalan di rumah, dan ada dokter khusus yang selalu datang"
"Dokter Ari?!! "
"Bukan? Tapi Dokter irwan"
"Dokter Irwan?!! Kok Ayu gak kenal dokter itu"
"Ya itu Dokter yang bawain nyonya"
"Buk, tolong selesaikan ini dulu. Ayu mau panggil dokter Ari dulu. Tapi jangan bilang ke mama ya,, "
Ayu menelfon dokter Ari, tapi ternyata nomor yang di tuju tidak aktif.
"Duh. kok gak aktif sih,, "
"Aku telfon Rudi aja kali ya,, siapa tau dia bisa bantu aku. Tapi gimana ya,, "
"Udahlah, demi Papa aku Terima resikonya, toh Rudi udah di jodohkan aku juga. Aku dan dia gak bakal bisa bersatu, mungkin emang ditakdirkan sebatas teman.
Ayu menelfon Rudi, yang kebetulan Rudi sedang pulang dari Rumah sakit, tempat dia kerja.
tulit tulit tulit, suara HP Rudi, tertera nama Ayu.
"Ayu,, menelfon ku?!" Rudi sangat gembira
Ha lo, Yu " Suara Rudi agak terbata
Ha lo Rud, begitu juga dengan Ayu, lidahnya agak kaku untuk bicara dengan Rudi
"Ada apa? Gimana kabarmu"
"Kabarku baik, cuma aku butuh bantuan kamu. Bisakah kamu menolongku"
"Oh bisa nisa, Apapun untuk mu aku bersedia menolongmu"
__ADS_1
"Datanglah ke alamat itu, nanti aku kirimkan alamat nya, "
"Baik lah,, Aku kesana sekarang "
"Makasih ya,, aku tunggu" Ayu menutup telfonya
Di seberang Rudi sangat senang, akhirnya ayu mau bicara lagi padanya. Rudi langsung menuju alamat Rumah yang di kirimkan lewat pesan tadi. Sampai di alamat itu, Rudi merasa heran, Alamatnya bener, tapi kok rumahnya besar banget
Kemudian Rudi menelfon Ayu, memastikan alamat yang di kirimkan itu benar.
"Halo Yu, aku sudah sampai di alamat yang kamu kirimkan. Aku ada di depan. Tapi benarkah ini rumahnya"
"Iya, masuk lah,"
security melihat Rudi ada di depan rumah, dia menghampiri Rudi,
"Maaf mas, cari siapa ya"
"Ini pak, tadi temen saya meminta datang ke alamat ini. Memperlihatkan pesan yang dikirimkan Ayu"
"Oh mas ini temenya non Dinda ya,, silahkan masuk mas, "
Dinda?!!Siapa Dinda , Rudi bertanya dalam hati karena binggung.
Rudi menekan bel rumah, dan di bukakan oleh Bu minah.
"Bu minah?!!! "
Nak Rudi,, Silahkan masuk nak, Ayu udah menunggu di dalam" Bu minah langsung membawa Rudi ke kamar Mahendra yang sedang terbaring lemah di kamarnya, terdapat Ayu yang baru saja menyuapi Papanya
"Rudi, Akhirnya kamu datang. Tolong periksa papah aku. "
"Papah kamu?!!!" Rudi masih binggung
"Udah ceritanya panjang,, nanti aku ceritain. sekarang tolong papahku dulu. "
"Rudi mulai memeriksa kesehatan Mahendra,Tapi semua terlihat baik baik saja"
"Tapi kenapa papa semakin hari semakin melemah"
Rudi melihat obat yang akan di minuman Mahendra. "Ini kenapa ada obat disini? "
"Itu obat papah, "
"Apa?!! "
"Tapi Ini bukan obat untuk manusia, tapi obat untuk menjinakkan hewan, kalo manusia meminum obat ini secara terus menerus akan menyebabkan kerusakan syaraf syarafnya. "
"Obat hewan?!!! " Ayu Mahendra dan bu minah bersamaan.
Ayu semakin syok mendengar penjelasan Rudi. Kini semakin jelas tujuan mama tirinya, yang bikin Ayu semakin geram.
"Pantas saja, tuan tiap minum obat itu, bukannya semakin sehat, tapi semakin lemah. "
Tutur bu minah
Pah, sudah tau kan tujuan mamah sekarang??Kita ikuti cara mamah, Biarkan obat itu di situ, tapi jangan sampai papah minum.
Aku akan ganti obat itu dengan vitamin.Biar cepat segera pulih. Obat itu kamu buang aja, takutnya ke minum lagi. Kata Rudi
__ADS_1
Makasih Rud, kamu udah menolong ku.
Iya sama sama, ini resepnya kamu beli di apotik ya, kalo vitamin itu aku udah bawa ,tapi di mobil. Nanti aku ambilkan.