
Raka merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati di brankar rumah sakit. Setelah sejak semalam begadang menjaga Kiano, akhirnya Bianca tidur juga.
Ruang rawat Kiano dan Bianca berdekatan, sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk memakai kursinya roda. Cukup Raka menggendong istrinya dan membawanya untuk menemui Kiano.
Raka menunduk, mencium kening istrinya yang begitu pucat. Kondisi pun lemah karena memikirkan Kiano yang sampai sekarang belum juga sadar.
Bianca sering menangis, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa anak mereka.
"Kamu nggak salah, Sayang. Berhenti menyalahkan diri kamu ya," bisik Raka lalu kembali mencium kening istrinya.
Raka menarik selimut sampai ke perut sang istri, lalu memberikan usapan di perutnya. Kandungan Bianca lemah, ditambah lagi dengan beban pikiran yang istrinya rasakan.
Raka takut sesuatu terjadi pada janin dalam kandungan Bianca, sebab ia yang tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk sampai terjadi.
Raka membiarkan istrinya istirahat, sementara ia keluar untuk menemui anak buahnya. Jujur saja Raka kecewa, sebab ia sudah membayar mahal orang untuk menjaga istri dan anaknya, namun hasilnya seperti ini.
"Kalian boleh pergi, saya tidak mau kejadian seperti ini sampai terulang. Kembali lakukan tugas kalian seperti biasanya." Ucap Raka dengan tegas.
"Baik, Bos. Sekali lagi kami minta maaf," sahut salah satu dari keempat pria itu, lalu pergi meninggalkan Raka.
Raka menghela nafas, ia memilih untuk pergi ke ruang rawat Kiano yang selisih dua kamar dari tempat Bianca di rawat.
Raka membuka pintu perlahan, hatinya terasa sakit melihat putranya terbaring dengan luka di beberapa titik tubuhnya.
Raka mendekat, ia memegang tangan putranya lalu menciumnya penuh kehangatan.
"Abang, cepat sembuh ya. Demi adik bayi dan mami, kasihan mami sedih lihat kamu seperti ini." Ucap Raka berbisik.
Tidak dapat dibendung lagi air matanya. Pria yang merangkap sebagai seorang CEO itu meneteskan air matanya, tak kuasa menerima situasi seperti ini.
Kemarin mereka masih bisa tertawa-tawa dan sarapan bersama, tapi hari ini Bianca dan Kiano sama-sama harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Sayang, bangunlah. Papi nggak bisa tanpa kamu dan mami, Abang anak pintar kan." Bisik Raka lagi sembari menciumi wajah Kiano.
Andai saja bisa, Raka memilih untuk menerima rasa sakit yang istrinya rasakan dan Kiano rasakan. Biarlah Raka yang menanggung rasa sakit itu daripada anak dan istrinya.
__ADS_1
"Abang Kiano." Panggil Raka dengan lirih.
Raka menyeka air matanya ketika mendengar suara pintu kamar rawat yang terbuka. Dokter datang bersama suster untuk memeriksa kondisi Kiano.
"Selamat pagi, Pak Raka." Sapa dokter itu dengan sopan, lalu memeriksa Kiano.
Raka memperhatikan dengan penuh rasa khawatir, ia benar-benar takut dokter akan memberikan vonis yang berbahaya.
"Dok, bagaimana dengan putra saya?" Tanya Raka.
Dokter itu tersenyum. "Kondisinya sudah jauh lebih baik, kita hanya perlu menunggunya sadar, Pak." Jawab dokter itu.
Raka benar-benar merasa lega, seketika pundaknya terasa lebih ringan mendengar pernyataan dari dokter berkacamata di depannya.
"Tidak ada hal yang serius kan, Dok? Putra saya akan sembuh dan bisa pulih kembali?" Tanya Raka lagi dengan tergesa-gesa.
"Kita sama-sama berdoa ya, Pak." Jawab dokter itu memberikan anggukkan kecil.
Suster lalu menyuntikkan sesuatu ke dalam tabung infusan Kiano, sebuah obat yang Raka sendiri tidak tahu, namun ia yakin itu adalah obat yang akan memberikan efek baik pada kondisi Kiano.
Kini Intan berada di ruangan suaminya, menikmati bubur bersama dengan Intan yang menyuapi Ario.
"Sambil makan, Pak." Tegur Intan kesal sendiri karena Ario begitu fokus pada pekerjaannya.
"Apa? Panggil apa tadi?" Tanya Ario menajamkan pendengarannya.
"Mas, aku panggil mas." Jawab Intan berbohong.
Ya, Intan dan Ario sedang sama-sama belajar mengubah panggilan mereka. Terutama Intan yang didesak oleh suaminya itu.
"Sini deh." Pinta Ario menjentikkan jarinya.
Intan menyipitkan matanya curiga, namun wanita itu bangkit dari duduknya dan mendekati sang suami.
Ketika Intan sudah ada di dekat Ario, pria itu tiba-tiba menarik tangannya dan membuatnya jatuh ke atas pangkuannya.
__ADS_1
"Mas, apaan sih. Kamu nggak ingat kita dimana!" Tegur Intan ketakutan.
"Biarin, siapa suruh kamu panggil aku pak pak pak terus," timpal Ario dengan santai.
Ario membenarkan posisi duduk istrinya, lalu kembali mengetik sesuatu di laptopnya. Bekerja, sambil memangku istrinya yang terus saja memberontak dan minta di lepaskan.
"Mas, nanti ada karyawan kamu masuk, aku yang malu." Ucap Intan menekuk wajahnya.
"Cium dulu." Pinta Ario menunjuk pipinya.
Intan berdecak pelan, ia lekas memberikan kecupan di pipi kanan kiri Ario, bahkan bonus kecupan di bibir.
"Aku nggak minta di bibir loh, Sayang." Kata Ario menyipitkan matanya.
"Bonus, Mas." Sahut Intan lalu beranjak dari pangkuan suaminya.
Intan mengambil bubur diatas meja lalu kembali menyuapi suaminya.
"Habis ini aku mau ke kampus dan langsung ke rumah sakit, nanti kamu jemput aku disana ya." Ucap Intan sambil terus menyuapi Ario.
"Iya, Sayang." Balas Ario manggut-manggut.
"Soal bulan madu hadiah dari Raka dan Bianca mungkin kita tunda dulu, aku nggak bisa ninggalin Bianca sekarang ini." Ucap Intan lagi.
Ya, Intan dan Ario mendapatkan hadiah bulan madu ke Paris selama 7 hari. Namun pasangan suami istri itu bingung dan tidak enak jika harus pergi di saat kondisi anak sahabat mereka tidak baik.
Ario bisa mengerti apa yang istrinya rasakan, jadi ia akan mengalah dan mencari waktu lain untuk bulan madu.
"Iya, Sayang. Aku juga nggak buru-buru kok bulan madu, di rumah juga kan bisa main panas-panasan nya." Celetuk Ario dengan senyuman misterius.
Intan melotot. "Aku tusuk kayak sate usus mau kamu?" Tanya Intan.
"Nggak, maunya aku yang tusuk kamu." Jawab Ario ambigu.
SI ARIO MULUTNYA ENAK DI JADIIN SANTAPAN SAHUR 😕
__ADS_1
Bersambung.................................