
Keesokan harinya, Bianca sengaja memasak makanan untuk dibawa Kiano ke sekolahnya. Hari ini ia tidak akan ke kampus, makanya ia bisa memasak di pagi hari.
Bianca tidak bilang pada suaminya, sebab ia tahu pasti Raka tidak akan mengizinkannya untuk melakukan itu.
Padahal hanya sekedar memasak, namun Raka melarang seperti ia ingin menggali sumur saja.
"Bi, tolong bantu tata di meja makan ya. Aku mau ke atas dulu, bangunin Kiano." Ucap Bianca pada bik Jum.
"Baik, Nyonya." Balas bi Jum menganggukkan kepalanya.
Bianca pun beranjak dari dapur, ia berjalan menaiki anak tangga dan hendak pergi ke kamar putranya.
Tangan Bianca baru akan menggapai gagang pintu, namun ternyata pintu sudah terbuka duluan. Kiano keluar bersama bibi dengan penampilan yang sudah rapi.
"Mami!!!!" Panggil Kiano dengan riang.
"Morning, Sayang." Balas Bianca lalu menundukkan kepalanya guna menghadiahi wajah putranya dengan kecupan.
Bianca menggamit tangan Kiano, lalu mengajaknya untuk pergi ke lantai bawah. Namun saat melewati kamar nya dan Raka, tiba-tiba pria itu keluar.
"Eh, Mas. Sudah rapi?" Tanya Bianca pada sang suami.
"Iya, Sayang." Jawab Raka lalu berlutut di depan Kiano dan memberikan kecupan kasih sayang di keningnya.
"Morning, tampan." Sapa Raka dengan senyuman lebar.
"Morning to, Papi." Balas Kiano lalu mencium pipi papinya.
Bianca tersenyum melihat suami dan anaknya. Ia lalu mengajak keduanya untuk segera sarapan, sebab hari semakin siang.
Setiap Selasa, Kiano akan berangkat lebih pagi karena ada olahraga bersama di sekolahnya. Dan itulah alasan Bianca sengaja memasak makanan kesukaan putranya.
Sampai di meja makan, Bianca menarik kursi untuk putranya duduk lalu di susul oleh Raka.
"Mami ambilkan untuk kamu ya." Ucap Bianca lalu membalikkan piring untuk Kiano makan.
Raka memegang tangan istrinya. "Duduk, Sayang. Itu pekerjaan bibi," tutur Raka lembut.
Kiano yang tadi tersenyum lebar, langsung terdiam dengan pandangan mengarah pada papinya.
Bianca menghela nafas, ia melepaskan tangan suaminya lalu tersenyum manis. Bianca beralih menatap Kiano yang terlihat sedih.
"Kiano, mau mami suapi?" Tanya Bianca menawarkan.
"Hari ini mami masak makanan kesukaan kamu loh … mami juga bawakan untuk makan kamu nanti." Tambah Bianca dengan riang.
"Aku bisa makan sendiri, Mami." Balas Kiano menolak.
Bianca menatap putranya dengan sedih. Senyuman di wajah wanita itu seketika menghilangkan dan di gantikan dengan air mata yang berkaca-kaca.
"Abang, mami suapi aja ya. Ini kemauan adik bayi," ucap Bianca dengan lembut.
Bianca menarik kursi, ia duduk di sebelah Kiano lalu mulai menyuapi makanan setelah piringnya ia isi dengan nasi dan lauk pauk.
Kiano menyantap dengan lahap, sebab bagaimanapun, sejak awal Kiano memang ingin sekali disuapin oleh maminya.
"Abang, besok jangan minta disuapi lagi ya. Kan mau punya adik, jadi harus pintar," tutur Raka dengan senyuman hangat.
Raka lalu menatap istrinya. "Dan kamu, Sayang. Besok-besok nggak usah masak," tegur Raka lembut.
"Aku masak untuk Kiano, Mas. Itu nggak bikin aku capek sama sekali," sahut Bianca memberitahu.
"Tetap saja, Sayang. Ingat pesan dokter ya, kandungan kamu lemah dan harus banyak istirahat." Tutur Raka mengingatkan.
Bianca hanya diam saja, ia lanjut menyuapi Kiano dengan begitu telaten.
"Suka nggak masakan mami?" Tanya Bianca.
"Suka banget, masakan mami enak!!" Jawab Kiano manggut-manggut penuh semangat.
__ADS_1
Raka tersenyum mendengar ucapan putranya. Lalu matanya menatap ke arah sang istri yang tidak menyahuti ucapannya sama sekali.
Setelah selesai menyuapi Kiano, Bianca pun beranjak dari duduknya. Ia mengambil kotak makan siang yang sudah ia siapkan.
"Abang, ini mami bawakan makan siang ya. Jangan lupa di habiskan, minum susunya juga." Tutur Bianca lalu memasukkan kotak makan siang itu ke dalam tas Kiano.
Kiano turun dari kursi, ia lalu menggandeng tangan maminya dan melempar senyuman lebar.
"Mami antar aku kan?" Tanya Kiano penuh harapan.
"Nggak, Kiano. Mulai sekarang kamu akan diantar jemput oleh sopir, mami nggak boleh sampai kecapekan kayak kemarin." Raka menjawab saat Bianca hendak menyahut.
"Mas!" Tegur Bianca.
"Apa, Sayang? Yang aku katakan benar, ini demi kebaikan kamu juga." Sahut Raka lembut dan halus.
Kiano sedih, anak itu mengambil tas sekolahnya lalu pergi begitu saja.
"Abang …" panggil Bianca buru-buru mengejar putranya.
Bianca memegang bahu Kiani, lalu berlutut di depan bocah itu.
"Abang, nggak apa-apa ya hari ini berangkat sama pak sopir. Mami janji, besok mami yang antar." Tutur Bianca seraya mengusap wajah tampan Kiano.
"Nanti papi marah." Cicit Kiano menundukkan kepalanya.
Bianca memegang dagu Kiano, lalu sedikit mengangkatnya.
"Nggak kok, besok kan sekalian mami kuliah." Balas Bianca menggelengkan kepalanya.
Kiano pun akhirnya menganggukkan kepalanya nurut. Bocah itu memeluk maminya dengan erat.
"Aku sayang mami." Ungkap Kiano pelan.
"Mami lebih sayang kamu." Balas Bianca lalu melepaskan pelukan putranya.
Bianca menangkup wajah Kiano lalu mencium kening dan pipinya. Kiano membalas dengan mencium pipi maminya.
"Iya, Nak. Hati-hati ya." Tutur Bianca.
"Pak, pelan-pelan saja ya bawa mobilnya." Ucap Bianca pada sopir pribadi yang akan bertugas mengantar jemput Kiano.
"Baik, Nyonya." Balas sopir itu dengan sopan.
Bianca melambaikan tangannya kepada Kiano dengan senyuman yang begitu lebar, sampai akhirnya mobil sudah pergi dan hilang dari pandangannya.
"Sayang …" Raka datang dan langsung mencium kening istrinya.
"Mas, aku mau bicara sama kamu." Ucap Bianca.
"Ini soal–" ucapan Bianca terhenti karena Raka kembali bicara.
"Kita bicarakan setelah aku pulang kerja ya, aku berangkat dulu. Dahh, Sayang." Pamit Raka setelah memberikan kecupan di bibir sang istri.
Bianca menghela nafas, ia ingin sekali bicara pada Raka soal sikapnya yang kurang baik terhadap Kiano sejak tadi.
Bianca hanya tidak mau Kiano berpikir bahwa kasih sayang mami dan papinya terbagi karena kedatangan adik bayi.
"Aku cuma takut Kiano membenciku, Mas. Aku takut itu terjadi," lirih Bianca lalu menyeka sudut matanya.
Bianca pun lekas masuk ke dalam rumah, ia belum sempat sarapan dan sedang tidak ingin sarapan. Bianca hanya makan buah dan minum susu saja.
***
Kiano tampak sedang bermain bersama teman-temannya di taman sekolah. Bocah itu juga sudah menghabiskan makanan yang maminya bawakan untuknya.
"Kiano, aku dengar kau akan punya adik." Ucap Leo pada Kiano.
"Iya, mamiku sedang hamil, dan aku akan segera punya adik." Sahut Kiano dengan bangga.
__ADS_1
"Kiano, apa kau tidak tahu. Punya adik itu sangat tidak enak, nanti orang tua kita akan lebih sayang pada adik daripada kita." Celetuk Fathir, teman Kiano lainnya.
"Tidak juga kok, aku punya adik dan mama papaku tetap sayang." Sahut Sisi, teman perempuan Kiano.
"Iya, Kiano. Jangan dengarkan kata Fathir, dia berbohong." Tambah Ara menunjuk Fathir.
Kiano hanya diam dengan wajah yang bingung. Bocah itu seketika terpikir tentang sikap sang papi yang sejak kemarin terus melarang nya ini itu kepada maminya.
"Apa punya adik itu memang tidak menyenangkan." Ucap Kiano dengan polos.
"Menyenangkan kok, kau jangan takut." Sahut Sisi memberitahu.
Kiano lagi-lagi hanya diam. Tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi, membuat Kiano dan teman-temannya langsung masuk ke dalam kelas.
Kiano merapikan buku-bukunya, ia harus bersiap untuk pulang sebab bu guru sudah menginstruksi bahwa mereka sudah diperbolehkan untuk pulang.
Kiano menggendong tasnya keluar dari sekolah, dan ia terkejut saat melihat mama jahatnya ada di sana.
"Kiano, anak mama." Sapa Yola melambaikan tangannya.
"Aku tidak mau, mama jahat." Tolak Kiano ketakutan.
"Hei, jangan takut Sayang. Mama nggak jahat kok, mama malah mau ajak Kiano jalan-jalan." Jelas Yola dengan lembut.
Kiano menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau, aku mau pulang dan bertemu mami Bia." Tolak Kiano menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Mendengar ucapan Kiano, Yola lekas berlutut di hadapan bocah yang merupakan anak kandungnya.
"Mami Bia? Memang dia masih sayang sama kamu?" Tanya Yola sengaja menyalakan percikan api diantara hubungan anak dan ibu sambung.
"Tentu saja, kenapa mami tidak menyayangiku. Mami Bia sangat baik, tidak seperti mama jahat." Jawab Kiano jujur dan polos.
Yola tertawa dibuat-buat, ternyata menghasut Kiano bukanlah perkara yang mudah.
"Mama tahu, tapi itu kan dulu. Sekarang mami Bia akan punya adik, dan dia akan melupakan kamu." Ucap Yola.
"Tidak! Mami Bia akan selalu sayang sama aku." Sahut Kiano berteriak.
Yola panik, ia buru-buru menutup mulut bocah itu dengan pelan sambil memintanya untuk diam.
"Baiklah, sekarang jawab mama. Kamu pulang sama siapa?" Tanya Yola mengerutkan keningnya.
"Sopir." Jawab Kiano pelan.
"Sopir, memang mami tidak menjemput kamu?" Tanya Yola semakin mengorek informasi.
Kiano menggeleng. "Papi bilang akan membuat mami kelelahan dan adik terluka." Jawab Kiano polos.
Yola tersenyum lebar. "Begitu ya, jadi papi juga akan melupakan kamu setelah punya adik bayi. Lihat saja, sekarang dia lebih sayang sama adik bayi dan mami." Kata Yola berpura-pura sedih.
Kiano terdiam, mendengar dan mencerna kata-kata dari mama jahatnya.
"Mama bohong, lepasin tangan aku." Pinta Kiano menepis tangan Yola.
"Kamu ikut mami saja yuk, karena percuma saja soalnya papi sudah di rebut oleh mami Bia untuk sayang pada adik bayi saja." Ajak Yola lembut.
"Mami tidak seperti itu!" Sahut Kiano tidak terima.
Kiano tiba-tiba menangis dengan keras, dan bersama itu sopir jemputan Kiano datang.
"Mau sama mami!!!" Rengek Kiano.
"Iya, Den. Ayo pulang sama pak sopir," ajak sopir itu lalu buru-buru mengajak Kiano pergi dari hadapan Yola.
Kiano masih terus menangis, meminta agar segera sampai dan memeluk maminya.
Kiano takut jika apa yang teman-teman dan mama jahatnya katakan adalah benar. Bocah itu masih terlalu polos.
SEMOGA ABANG KIANO NGGAK MUDAH TERHASUT YAA🥺
__ADS_1
Bersambung........................