
Hari-hari Raka habiskan untuk membahagiakan istrinya. Ia berusaha keras agar Bianca mau menerima dirinya sebagai seorang suami.
Tidak masalah bagi Raka jika Bianca belum mencintainya, asal gadis itu selalu bersamanya maka hal itu tidak terlalu masalah baginya.
Raka pernah bilang bukan bahwa cinta menurutnya itu seperti pasir, yang akan berkurang jika kita terlalu menggenggam nya.
Raka tidak mau memaksa Bianca yang nantinya malah membuat gadis itu membenci dirinya.
Tanpa terasa juga besok Bianca dan Raka sudah harus kembali ke Jakarta. Mereka berdua akan membeli oleh-oleh hari ini untuk semua orang di rumah.
"Aku cari oleh-oleh untuk Kiano, kamu cari untuk yang lainnya ya." Ucap Bianca pada suaminya.
Raka tersenyum, lalu mengacak-acak rambut istrinya. "Iya, Mami. Buat Kiano harus yang utama ha." Balas Raka sedikit menggodanya.
Bianca mengangguk. "Tentu saja, Kiano yang pertama. Lagipula aku kan sudah janji untuk membelikan oleh-oleh." Kata Bianca.
Raka tersenyum. "Bi." Panggil Raka lembut.
"Apa, Mas?" Sahut Bianca tanpa menatap suaminya dan sibuk mencari-cari baju untuk Kiano.
"Setelah membeli oleh-oleh, ikut saya ya." Pinta Raka dengan suara yang semakin melembut.
Bianca menoleh. "Aneh kamu, Mas. Udah pasti aku ikut kamu lah, masa iya aku pulang duluan." Timpal Bianca sedikit sewot, namun diakhiri tawa kecil.
Raka ikut tertawa, ia pun memutuskan untuk mencari oleh-oleh lain agar setelah ini bisa langsung mengajak istrinya pergi ke suatu tempat.
Setelah beberapa saat, Raka dan Bianca pun selesai berbelanja dan langsung membayar. Belanjaan mereka cukup banyak sehingga harga yang harus dibayar pun banyak.
Sesuai keinginan Raka, Bianca pun ikut kemanapun suaminya mengajaknya. Ternyata Raka mengajak dirinya ke salah satu mall di Bali.
"Mall?" tanya Bianca mengerutkan keningnya.
Raka mengangguk. "Iya, ada yang mau saya ambil." Jawab Raka.
Bianca dan Raka pun masuk ke dalam mall tersebut dan langsung naik ke lantai 3. Barang belanjaan tadi tentu saja ditinggal di dalam mobil.
Raka menggenggam tangan Bianca, ia tidak mau melepaskannya walau hanya sebentar.
"Toko emas?" tanya Bianca lagi dan Raka hanya membalas dengan senyuman.
Raka menyuruh Bianca untuk duduk, ia lalu bicara kepada pelayanan toko emas.
"Pesanan saya?" tanya Raka.
"Ini, Pak. Semuanya sudah di payment ya," kata pelayan itu mengingatkan.
Raka mengangguk, ia membawa paper bag kecil bermerek Tiffany and co.
"Kok cepat?" Tanya Bianca heran.
__ADS_1
Raka menoleh. "Jadi maunya lama sama saya?" tanya Raka.
Bianca menggeleng. "Bukan gitu … ah udahlah, nggak usah dibahas." Jawab Bianca.
Raka dan Bianca pun pergi dengan mobil sewaan mereka. Bianca kira mereka akan kembali ke hotel dan istirahat, namun ia salah.
"Lho, mau kemana lagi?" tanya Bianca mengerutkan keningnya.
"Ke tempat lain, saya mau kasih kamu sesuatu." Jawab Raka dengan penuh senyuman.
Raka meraih tangan Bianca, ia lalu mencium punggung tangan istrinya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
Bianca hanya bisa mengangguk, ia benar-benar akan pasrah kemanapun Raka akan membawanya.
Mobil mereka pun berhenti di pinggir pantai, Raka lalu mengajak istrinya untuk keluar.
"Matanya ditutup ya, biar surprise." Bisik Raka lalu menutup mata istrinya dengan sebuah kain.
Bianca tidak menolak, meski ia sedikit was-was.
"Mas, kamu nggak ada niat untuk buang aku kan?" tanya Bianca.
"Nggak lah, Sayang. Sudah gila saya jika membuang istri saya sendiri." Jawab Raka diakhiri tawa kecil.
Raka lalu menarik tangan istrinya lembut, dan Bianca kembali nurut meski kedua tangan gadis itu berusaha mencari-cari.
"Nyari apa sih?" tanya Raka gemas.
Raka hanya tersenyum, sampai akhirnya langkah Raka berhenti membuat Bianca ikut berhenti.
"Siap?" tanya Raka dan Bianca hanya diam saja.
Raka pun membuka penutup mata istrinya sehingga kini Bianca bisa melihat sebuah meja yang dihias dengan begitu romantis. Terdapat dua kursi yang saling berseberangan.
Lilin yang ada di dalam wadah khusus untuk mencegahnya padam berada di tengah-tengah meja berbentuk lingkaran itu.
Jangan lupa hidangan yang Bianca sendiri belum tahu apa isinya.
"Surprise manis di malam terakhir honeymoon kita." Bisik Raka seraya memberanikan diri untuk memeluk Bianca.
Bianca tersentak, namun ia berusaha untuk tidak menolak karena takut akan menyinggung perasaan Raka seperti yang sudah-sudah.
"Mas, lagi?" tanya Bianca.
Maksud dari pertanyaan itu adalah, kejutan lagi? Sementara selama honeymoon Raka sudah banyak memberinya kejutan manis.
"Iya, kamu suka nggak?" tanya Raka dengan penuh harapan.
Bianca mengangguk. "Sangat suka, Mas." Jawab Bianca jujur.
__ADS_1
Raka pun menarik tangan istrinya, ia juga membantu Bianca untuk duduk. Raka tidak langsung ikut duduk, ia malah berdiri di belakang Bianca, lalu memberikan paperbag yang ia bawa dari toko emas tadi.
"Buka, Sayang. Semoga kamu suka," tutur Raka lembut.
Bianca pun segera membukanya, dan ternyata isinya adalah sebuah kalung cantik dengan liontin berbentuk love, namun dalam lingkaran love itu terdapat huruf R dan B, yang merupakan singkatan dari nama keduanya.
"Cantik banget." Ucap Bianca dengan mata berkaca-kaca saking sukanya.
"Aku bantu pasang ya, dan jika bisa jangan di lepas." Kata Raka dan Bianca hanya membalasnya dengan senyuman.
Raka pun membantu Bianca memakai kalung cantik itu, lalu setelahnya ia berikan kecupan di pipi dan kepala Bianca.
"Tambah cantik." Ucap Raka.
Raka pun duduk di depan istrinya, ia lalu menuangkan sebuah minuman yang tidak beralkohol sama sekali.
"Saya nggak mau kamu minum-minuman beralkohol, jadi saya siapkan ini saja ya. Alkohol nggak bagus buat perempuan," ucap Raka menjelaskan.
"Iya, Mas. Aku juga nggak pernah minum-minum gitu." Balas Bianca.
Mereka pun makan bersama, makanan yang tidak terlalu berat sehingga tidak terlalu membuat kenyang.
Sambil makan, tangan Bianca sesekali memegang kalung yang melingkari lehernya dengan cantik.
"Kenapa kamu selalu kasih aku kejutan manis, Mas? Sementara aku nggak kasih kamu apa-apa." Cicit Bianca jadi malu sendiri.
"Kewajiban suami membuat istrinya bahagia, Sayang. Dan saya ingin menjalankan kewajiban itu sebaik mungkin." Balas Raka dengan tatapan cinta tertuju pada istrinya.
"Dan ya, kamu bisa membalas semua ini dengan selalu ada di samping saya sebagai teman seumur hidup." Tambah Raka.
Bianca tersenyum tipis. "Maaf jika belum bisa mencintai kamu dan memberikan apa yang seharusnya menjadi hak kamu." Ucap Bianca lalu menghela nafas.
"Tapi aku janji sama kamu, Mas. Aku akan selalu ada disamping kamu," kata Bianca lagi.
Raka yang mendengar ucapan istrinya tentu saja sangat bahagia. Ia bangkit dari duduknya, lalu menarik Bianca untuk ikut bangkit.
Raka mencium bibir istrinya tanpa bicara apapun. Bianca tidak menolak, ia bisa merasakan apa yang suaminya lakukan sekarang adalah bentuk kebahagiaan yang tengah dirasakan nya.
Ciuman Raka terasa begitu lembut, namun tetap menuntut. Halus, namun tetap terasa manis. Bianca tidak akan pernah bisa dan tidak akan mau menolak ciuman dari Raka.
"Sayang, apa artinya kamu sudah menerima saya sebagai suami kamu?" tanya Raka setelah melepas tautan bibir mereka.
Bianca tersenyum. "Iya, Mas. Aku juga akan belajar lebih keras untuk mengenal kamu." Jawab Bianca lembut.
Raka memeluk tubuh istrinya erat, ia menciumi bahu dan pipi Bianca bergantian.
"Terima kasih, Sayang. Saya sangat bahagia, i love you!" bisik Raka dengan kebahagiaan yang memenuhi dadanya.
MAS RAKA, AKU KOK IKUT BAHAGIA YA😭
__ADS_1
Bersambung............................