Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Permintaan Yola


__ADS_3

Setelah persiapan pernikahan dilakukan, akhirnya besok Intan dan Ario akan menikah. Kini kedua calon mempelai tengah melakukan proses pingitan, dimana keduanya dilarang bertemu.


Intan pun dilarang untuk keluar rumah, sementara Ario masih sempat untuk ke kantor dan mengerjakan sisa tugasnya agar besok ia tak perlu pusing-pusing memikirkan pekerjaan.


Di rumah Intan, ada Bianca dan Kiano yang datang sesuai perkataan wanita hamil itu.


Meski tidak akan lama, namun setidaknya Bianca bisa menemani sahabatnya sebentar. Kasihan juga Intan bosan sendirian nanti.


"Nggak nyangka gue bisa nikah dalam waktu yang bisa dibilang singkat." Kata Intan menundukkan kepalanya.


"Itulah takdir, Tan. Kita nggak tahu kapan jodoh itu datang dan dari mana saja. Buktinya ya begini," sahut Bianca pelan.


"Kalo waktu itu gue nggak minta tanggung jawab sama pak Ario, dan nggak ngajak dia ketemu Erik, belum tentu ya gue nikah sama dia." Ujar Intan, sekedar bercerita mengisi kekosongan topik.


"Ya nggak sih, namanya takdir Tuhan kita mana tahu. Mungkin lo sama pak Ario bakal tetap bersama, meski dengan cara yang berbeda." Sahut Bianca menjelaskan.


"Cara yang lebih baik daripada ini, mungkin." Cicit Intan, lalu menghela nafas.


Bianca tersenyum, ia menggenggam tangan Intan, lalu memberikan usapan lembut di punggung tangan sahabatnya.


"Apapun itu, gue yakin ini yang terbaik. Udah nggak perlu lo sedih-sedih, kan besok mau nikah." Tutur Bianca, membuat Intan tersenyum manis.


Intan mengangguk dengan senyuman yang begitu lebar. Memang benar, apa yang diucapkan sahabatnya adalah kebenaran.


Sudah bukan waktunya ia untuk bersedih, karena besok ia akan menikahi pria yang sempat ia benci, namun pelan-pelan mulai ia sukai. Setelah pernikahan nanti, Intan pun akan belajar untuk mencintai Ario sebagai suaminya.


"Ngomong-ngomong Kiano mana?" Tanya Intan teringat pada bocah itu.


"Main sama keponakan lo dibawah, nanti juga kesini kalo udah kangen sama gue." Jawab Bianca terkikik.


"Gitu ya, Mami Bia." Ledek Intan ikut tertawa.


Tidak lama setelah itu, benar saja apa yang Bianca katakan. Kiano datang dan langsung merengek pada Bianca.


"Mami …." Panggil Kiano dengan manja.


Bianca dan Intan semakin tertawa melihat Kiano yang manja. Kata-kata Bianca terbukti, Kiano datang jika sudah merindukan maminya.


"Kenapa, Sayang?" Sahut Bianca lembut.


"Aku ngantuk, mau tidur." Jawab Kiano lalu menguap dengan mulut yang terbuka lebar.


Bianca mengusap kepala putranya, ia lalu menggendong dan menaikkan Kiano ke atas ranjang sahabatnya.


"Yaudah tidur di sini sama Tante 'ya." Ucap Intan lembut.


Kiano hanya mengangguk, lalu mulai memejamkan matanya. Bocah itu memang benar-benar merasa sangat mengantuk.


"Anak lo mirip bangat sama pak Raka." Ucap Intan memperhatikan wajah Kiano.


"Ya kalo mirip bapak lo aneh, namanya anak suami gue ya dia mirip sama mas Raka lah." Sahut Bianca sewot, sementara Intan tertawa begitu renyah.


"Gue perhatiin akhir-akhir ini lo sewot banget, Bi. Hormon ibu hamil ya?" Tanya Intan.


"Iya, tapi emang gue kan emosian orangnya." Jawab Bianca dengan jujur mengakui sifatnya.


"Tahu gue juga, suami lo aja sampai ketakutan begitu." Sahut Intan.


Intan teringat pada perkara heels, dan itu membuatnya menjadi tahu seperti apa Raka jika sudah di depan Bianca. Padahal yang Intan tahu dari calon suaminya, Raka adalah orang yang tegas dan dingin di kantor.


"Raka itu ibaratnya risol, keras di luar dan lembut di dalam. Arti dalam itu ya rumahnya alias di depan istrinya." Begitulah yang Ario ucapkan waktu itu.


"Kok risol, nggak ada perumpamaan yang lain?" Tanya Intan dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Nggak ada, enakan risol udah." Jawab Ario tertawa begitu lepas.


Intan geleng-geleng kepala mengingat kejadian itu, entah apa dan bagaimana sampai-sampai sosok seperti batu es bisa tiba-tiba mencair.


"Jangan-jangan karena udah gue panasin diatas ranjang, makanya cair begini dia." Batin Intan menerka-nerka.


"Kenapa lo?" Bianca bertanya, membuyarkan lamunan Intan.


"Bayangin muka suami gue lah. Masa bayangin muka suami lo, kan nggak boleh." Jawab Intan sewot.


"Iya deh iya, yang mau sah emang beda. Yang penting gue doain lancar sampai proses pernikahan besok." Balas Bianca dengan tulus.


Intan tentu saja mengamini ucapan sahabatnya, ia pun mengharapkan hal yang sama. Semoga tidak ada halangan apapun dalam acara pernikahannya besok.


Sementara itu di tempat lain, di kantor Raka. Terlihat Raka duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang mengepal di atas meja.


Sorot matanya begitu tajam, menusuk sampai ke jantung perempuan di hadapannya saat ini.


"Raka, aku mohon padamu." Ucap wanita itu menyatukan kedua tangannya.


"Tidak akan pernah, aku tidak pernah membiarkanmu membawa Kiano. Lagipula hak asuh Kiano sudah ada padaku!" Sahut Raka menolak dengan tegas.


Yola menundukkan kepalanya sebentar dengan tangan yang masih setia menyatu. Wanita itu masih bersikeras untuk memohon pada Raka, meski sudah tidak ada hasilnya.


"Aku tidak akan mengganggu kehidupan rumah tanggamu dan Bianca lagi, tapi aku mohon berikan Kiano padaku." Pinta Yola semakin memohon.


"Aku rasa kau tidak tuli, Yola. Pergi dari sini sekarang!" Usir Raka.


"Raka, kau punya Bianca yang sebentar lagi akan melahirkan anak kalian. Hidupmu tidak kesepian, Ka." Kata Yola sambil menangis.


"Sementara aku sendiri, aku tidak punya siapapun dalam hidupku. Aku mohon berikan Kiano padaku," tambah Yola semakin menyatukan kedua tangannya.


Raka bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati Yola, kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya.


"Sekarang disaat hidupmu benar-benar sudah berantakan, kau memintaku memberikan Kiano? Bermimpi saja jika begitu, karena sampai kapanpun aku tidak akan memberikan Kiano padamu." Tambah Raka begitu lantang.


"Raka, aku mohon …" pinta Yola dengan lirih, bahkan sampai berlutut.


"Kiano adalah anakku dan Bianca, dia tidak punya ibu sepertimu. Ibu yang melahirkannya sudah tidak ada semenjak dia ditelantarkan." Ucap Raka lalu keluar dari ruangannya.


Raka meninggalkan Yola seorang diri tanpa peduli pada permohonan wanita itu. Yola ditolak, dan itu membuatnya tidak terima.


"Kau tidak bisa memberikan Kiano secara baik-baik padaku, Ka? Baiklah tidak masalah. Aku akan menggunakan cara lain untuk mendapatkan putraku." Ucap Yola lalu menyeka air matanya dengan kasar.


Yola bangkit dari posisinya, sebelum pergi ia melihat bingkai foto yang ada di meja kerja Raka. Yola mendekat, meraih foto itu dan melihat ada Raka, Bianca dan Kiano dalam satu frame.


Yola meremat bingkai foto itu, ia benci melihat senyuman Raka dan Bianca yang begitu lebar. Lalu Kiano, anak itu adalah putranya.


"Aku akan berusaha untuk merebut anakku, dia anak kandungku." Ucap Yola dengan penuh penekanan.


Keinginan Yola datang bukan tanpa alasan, dia menginginkan Kiano karena belakangan ini selalu memperhatikan bocah itu di sekolahnya.


Kiano tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar. Yola menyukai itu, sehingga muncul rasa ingin mengajaknya tinggal bersama dengannya.


"Aku mama kandungmu, Kiano. Kamu akan tinggal sama mama ya, Nak." Celetuk Yola kemudian meletakkan foto itu kembali dengan kasar.


Yola kemudian keluar dari ruangan Raka dengan keinginan yang semakin menggebu-gebu. Ketika hendak sampai di lobby kantor, Yola berpapasan dengan mama Wina dan papa Dewa.


"Mau apa wanita sepertimu ada disini." Tegur mama Wina dengan tidak bersahabat.


"Apa yang kau lakukan disini, Yola?" Tanya papa Dewa dengan dingin.


Yola menatap pasangan suami istri itu bergantian, dia tidak menjawab apapun dan langsung pergi dari sana.

__ADS_1


Mama Wina dan papa Dewa terlihat khawatir, mereka takut perempuan itu memiliki rencana jahat.


"Mama harus ketemu Raka." Ucap mama Wina lalu melangkah masuk ke dalam kantor milik keluarganya.


Papa Dewa lekas menyusul. Kedatangan mereka ke kantor awalnya hanya ingin berkunjung saja, tapi kini tidak. Mereka harus bertanya soal Yola.


Ketika mama Wina dan papa Dewa hampir masuk ke dalam lift, Raka justru keluar dari lift yang lainnya.


"Mama, papa. Kalian disini?" Tanya Raka mengerutkan keningnya.


"Mama mau bicara sama kamu, Ka. Ini soal Yola, kenapa dia ada disini?" Tanya mama Wina kesal.


"Ma, tenang. Para karyawan akan mengira keluarga kita sedang ada masalah," bisik papa Dewa.


"Raka, ayo pergi dan kita makan siang bersama. Kita akan bicarakan soal ini." Ajak papa dewa.


Raka menurut saja, pria itu mengikuti langkah kedua orang tuanya yang mengajaknya makan siang bersama tiba-tiba.


Mereka tidak makan di restoran yang jauh dari kantor, sehingga tidak perlu naik kendaraan untuk sampai di sana.


"Jawab pertanyaan mama, Raka." Pinta mama Wina.


Raka menghela nafas. "Yola ingin hak asuh Kiano, dia mau Kiano tinggal bersama dengannya." Jelas Raka singkat.


"Omong kosong apa ini, bagaimana bisa dia meminta Kiano setelah membuang cucuku!" Sahut papa Dewa ikut kesal.


Raka mengangkat kedua bahunya, ia lalu menceritakan semua tentang pembicaraan nya dengan Yola.


"Dia kesepian, karena itulah menginginkan Kiano." Ucap Raka.


"Wanita itu benar sudah gila. Dia yang membuang cucuku dan sekarang dia mau cucuku kembali padanya. Dimana akal sehat wanita itu." Sarkas papa Dewa tidak habis pikir.


"Astaga, bagaimana bisa dulu aku menjadikannya sebagai menantu." Gumam mama Wina geleng-geleng kepala.


"Kak, kau harus menjaga Kiano dan Bianca. Jangan biarkan Yola memanfaatkan kesempatan untuk menyakiti mereka." Ucap papa Dewa mengingatkan.


"Aku tahu, Pa. Ada seseorang yang aku suruh menjaga Bianca diam-diam." Sahut Raka manggut-manggut.


"Kenapa diam-diam?" Tanya mama Wina.


"Karena menantu mama itu akan memarahiku jika tahu aku memberinya penjagaan." Jawab Raka diakhiri dengusan kecil.


"Kau mendengus? Ahhh … mama akan adukan ini pada Bianca, kau tidak suka ya jika dia marah padamu." Ucap mama Wina menjahili putranya.


"Mama, jika mama mengadu maka aku bisa mati ditangan Bianca." Protes Raka memasang wajah melas.


"Sembarangan, kau pikir menantu mama itu apa." Sahut mama Wina ketus.


Raka menghela nafas, ia mengusap dadanya dengan penuh kesabaran mendengar ucapan sang mama yang membela menantunya.


"Sabar ya, Ka. Dulu papa juga begitu, menantu akan selalu di bela mertua." Ucap papa Dewa.


"Tergantung pada mertua dan menantunya bagaimana. Banyak kok mertua yang tidak sayang menantu." Sahut mama Wina.


"Kalo mama, sayang kan pada menantu mama?" Tanya Raka menaik turunkan alisnya.


"Menantu apa, dia putri mama." Jawab mama Wina ketus.


Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia rasanya selalu salah jika bicara di depan istri dan ibunya.


Raka yang pintar bicara di kantor dan mudah mendapatkan investor, nyatanya selalu kalah jika berdebat dengan Bianca dan mama Wina.


SABAR YA PAPI RAKA 🤗 BTW SI YOLA GIMANA NIH??

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2