Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Kan memang sudah, Pak


__ADS_3

Bianca bangun dari tidurnya ketika merasakan ada yang menciumi wajahnya. Wanita itu membuka mata dan melihat bahwa suaminya lah yang terus memberikan kecupan di wajahnya.


"Enghhh … Mas. Kamu kapan pulang?" Tanya Bianca dengan suara serak khas bangun tidur.


Raka tersenyum, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dan menyelipkan nya ke belakang telinga.


"Sejak tadi, aku bahkan tidur di samping kamu." Jawab Raka.


Bianca mencoba untuk bangkit, dan tentu saja Raka membantunya. Wanita itu bersandar di papan headboard lalu menatap wajah suaminya.


"Kok tumben pulang cepat?" Tanya Bianca mengerutkan keningnya.


Raka menangkup wajah istrinya yang masih memasang ekspresi muka bantal.


"Gimana nggak pulang cepat, aku dapat kabar dari Kiano kalo kamu sakit." Jawab Raka dengan jujur.


Bianca menggelengkan kepalanya, ia memegang tangan Raka yang ada di wajahnya lalu tersenyum.


"Aku nggak sakit, Mas. Cuma tadi agak kram sedikit perut aku," jelas Bianca.


"Aku sudah bilang kan, jangan meladeni Yola dan sebangsanya. Aku nggak mau sesuatu terjadi sama kamu." Pungkas Raka dengan lembut.


Bianca menjauhkan tangan Raka dari wajahnya, lalu ia menegakkan tubuhnya dan langsung melingkarkan tangannya di leher sang suami.


"Aku tahu, tapi ini kesalahan aku. Aku tadi telat jemput Kiano, dan mbak Yola lah yang menjemputnya." Jelas Bianca.


"Aku bicara padanya, tapi dia malah mengatakan bahwa aku tidak sayang lagi kepada Kiano sejak hamil." Tambah Bianca lalu menghela nafas.


"Sayang …" panggil Raka seraya menggenggam tangan istrinya.


"Bukan hal aneh jika Yola selalu memancing emosi kamu, dan jika kamu terus meladeninya, maka dia akan semakin senang. Soal Kiano, mulai besok aku suruh sopir yang menjemputnya ya." Tambah Raka panjang lebar.


Bianca mencerna kata-kata suaminya dengan baik. Ia pun sebenarnya malas bicara dengan Yola, namun tadi ia hanya bicara sedikit dan meminta wanita itu agar bilang jika lain kali ingin menjemput Kiano lagi.


Tapi apa yang Yola katakan, dia malah mengatakan omong kosong tentang kasih sayangnya kepada Kiano. Meski sudah punya anak, Bianca tidak akan pernah mengurangi kasih sayangnya pada Kiano nanti.


Bagi Bianca, Kiano maupun bayi dalam kandungannya adalah sama. Mereka sama-sama anak Bianca dan Raka.


"Hei, kok melamun?" Tanya Raka mengusap wajah Bianca yang terasa lembut.


Bianca tersadar, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kamu makan dulu ya. Aku udah masakin ini untuk kamu," tutur Raka meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di depan istrinya.


Bianca menatap makanan di depannya, lalu kembali menatap suaminya.


"Mas, kamu yang masak ini?" Tanya Bianca mengerutkan keningnya.


"Iya, Sayang. Sup tahu telur, tadi bibi bilang kamu sedang ingin makan ini." Jawab Raka penuh pengertian.


Bianca merasa terharu, ia lantas mendekatkan wajahnya dan memberikan hadiah berupa kecupan di pipi dan bibir suaminya.


"Suami aku manis banget sih, makasih ya sayang." Ucap Bianca penuh senyuman.


"Sama-sama, Sayang." Balas Raka sembari mengusap-usap puncak kepala sang istri.


Bianca menenggak sedikit air mineral dalam gelas, lalu mengambil sendok dan mulai menikmati makanan yang suaminya buat.


Rasanya enak, bahkan masakan Raka mungkin lebih baik daripada masalahnya.


"Enak?" Tanya Raka penasaran.


Bianca mengambil nasi dan memasukkannya ke dalam sayur. Setelahnya, wanita itu menyodorkan ke depan mulut suaminya.


"Enak banget." Jawab Bianca sambil menyuapi suaminya.


Raka manggut-manggut, ia setuju dengan istrinya yang mengatakan bahwa sup tahu telur buatannya memang enak. Apalagi dengan rasa asam dari tomat yang ia gunakan.


"Makasih ya , Mas. Kamu rela pulang karena khawatir sama aku, tapi bukannya sambut kamu dan siapain makanan, aku malah tidur. Dan justru malah kamu yang masak, maaf ya." Ucap Bianca menekuk wajahnya.


Raka tersenyum, ia menyeka noda minyak di sudut bibir istrinya lalu menggeleng.


"Dalam hubungan suami istri, tidak ada kata terima kasih. Suami dan istri harus saling." Sahut Raka lembut.

__ADS_1


Bianca meletakkan sendok di tangannya, ia lalu membuka kedua tangannya bermaksud minta di peluk oleh suaminya.


Raka lekas memeluk tubuh sang istri, mendekapnya dengan tidak terlalu erat sambil terus memberikan usapan di punggungnya.


"Pesona suami aku memang nggak ada lawan. Sudah tampan, baik, perhatian, dan sayang keluarga lagi." Ungkap Bianca lalu melepaskan pelukannya.


"Ada satu lagi, eh dua lagi." Celetuk Bianca membuat Raka bingung.


"Apa?" Tanya Raka sambil senyum-senyum.


"Banyak uang dan kuat di ranjang." Jawab Bianca berteriak dengan bangga.


Raka seketika tertawa lepas mendengar ucapan polos istrinya. Ada saja memang tingkah ibu hamil satu ini yang selalu membuatnya gemas dan ingin menggigitnya.


"Kamu ihh, gemesin banget sih. Cium dulu sini," pinta Raka lalu membuat Bianca mendekat.


Wanita itu pasrah memberikan wajahnya untuk di berikan stempel bibir suaminya. Dan terakhir tentu saja bibir.


"Aku selalu suka bibir mas Raka, enak rasanya." Ucap Bianca selalu jujur dan polos.


Raka tertawa lagi sambil mengusap-usap dadanya. Memiliki istri seperti Bianca memang membuat wajah dan jiwa selalu muda, sebab bahagia terus.


"Heh! Udah, ketawa terus. Habisin makanan nya, setelah itu kita ke taman. Kiano nunggu kamu." Tutur Raka menyandarkan Bianca dari tawanya yang tiada henti.


Bianca nurut, wanita itu lekas menghabiskan makanan yang sudah suaminya buat dengan susah payah.


"Masakan kamu enak, Mas. Kenapa nggak jual nasi padang aja." Celetuk Bianca lalu meminum air mineral dalam gelas hingga habis.


Raka hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya barusan. Dia CEO dan disuruh jual nasi padang? Ya bisa saja sih, tapi menjadi CEO saja dia kerepotan, apalagi jadi pedagang nasi.


"Mas, aku ada pertanyaan. Jawab ya," ucap Bianca dengan begitu antusias.


"Iya, apa pertanyaan nya?" Tanya Raka penasaran.


"Bahasa Inggrisnya panjang apa?" Tanya Bianca.


"Long." Jawab Raka.


"Kalo tangan?" Tanya Bianca lagi sambil menahan tawa.


Gabut sekali istrinya ini. Pikir Raka.


"Kalo di gabung, tangan panjang bahasa Inggrisnya apa?" Tanya Bianca menaik turunkan alisnya.


"Hand long? Long hand?" Tanya Raka bingung sendiri.


"Ihhh salah!!! Jawabannya nyolong." Ucap Bianca dengan senyuman lebar.


"Nyolong?" Beo Raka terbengong-bengong.


"Iya, kan tangan panjang itu orang yang suka mencuri, jadi jawabannya nyolong." Jelas Bianca dengan senyuman penuh kemenangan.


Raka hanya bisa planga-plongo, berusaha mencerna ucapan istrinya barusan. Entah mengapa Bianca selalu punya 1001 cara mengerjainya.


"Mas payah nih, masa lawan sama ibu hamil aja kalah." Ledek Bianca lalu menjulurkan lidahnya.


"SAYANG!!!" Panggil Raka, dan Bianca hanya menyahut dengan tawa dari dalam kamar mandi.


Sementara itu di tempat lain, tampak seorang pria berdiri di depan rumah minimalis seorang gadis.


Gadis yang rencananya akan ia nikahi dalam waktu dekat ini. Gadis yang akan ia jadikan sebagai istri setelah sesuatu yang berharga ia renggut malam itu.


Cuaca tampak mendung, dan siap mengguyur muka bumi dengan air yang tidak sedikit. Angin pun sudah berhembus kencang.


Pria itu, untuk kedua kalinya mengetuk pintu rumah. Sampai tidak sampai satu menit, pintu pun akhirnya terbuka.


"Pak Ario!!" Kejut gadis itu melihat siapa yang berdiri di depan rumahnya.


Ario memasang wajah biasa-biasa saja, ia lalu menyodorkan sebuah paper bag bermerek kue yang terkenal itu kepada Intan.


"Saya kebetulan lewat, jadi saya mau kasih ini sama kamu." Ucap Ario.


Intan melongo sebentar, pikirannya tidak bisa berjalan normal tatkala menyadari penampilan Ario hari ini.

__ADS_1


Pria itu memakai kemeja berwarna lime, tanpa dasi dan dua kancing terbuka. Rambutnya yang rapi, namun masih tersisa sedikit menutupi pelipis kanan nya. Persis seperti opa-opa.


"Kenapa kamu memperhatikan saya seperti itu, kamu tidak suka dengan kue yang saya bawa?" Tanya Ario.


Intan tersadar, ia menggelengkan kepalanya lalu mengambil papar bag itu dengan cepat.


"Suka kok, Pak. Makasih ya, hehehe." Jawab Intan tersenyum canggung.


Ario manggut-manggut, ia pun berniat untuk langsung pergi, namun hujan deras tiba-tiba saja turun.


"Kamu masuk lah, saya mau pulang." Tutur Ario pada Intan yang masih berdiri di ambang pintu.


"Jangan, Pak! Eh, maksud saya lebih baik anda disini dulu sampai hujannya berhenti." Cegah Intan menawarkan.


Ario menatap gadis itu, dan ia baru sadar jika ada koyo yang menempel di kening samping kanan nya.


"Kamu sakit?" Tanya Ario mengerutkan keningnya.


Intan lagi-lagi dibuat terdiam. Kalimat barusan memang biasa, tapi entah mengapa terdengar seksi sekali di telinganya.


"Intan!!" Panggil Ario melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.


"Iya, Pak. Saya demam bapak." Jawab Intan tanpa sadar.


"Apa?" Tanya Ario menajamkan pendengarannya.


"Bukan apa-apa, silahkan masuk. Saya akan buatkan minum." Tutur Intan dengan cepat.


Intan berdoa, semoga apa yang ia ucapkan tadi tidak di dengar oleh Ario.


Intan sudah melangkah masuk, namun saat gadis itu menoleh ke belakang, ia tidak melihat Ario mengekorinya.


"Lah, dia nggak dengar apa gimana." Gumam Intan lalu kembali keluar.


"Pak, ayo masuk." Ajak Intan mempersilahkan.


"Ada siapa di rumah kamu?" Tanya Ario sebelum masuk ke rumah Intan.


"Tidak ada siapa-siapa, papa kerja dan mama pergi." Jawab Intan jujur.


Ario menghela nafas. "Kalo begitu saya menunggu disini saja." Ucap Ario lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah Intan.


Kening Intan mengkerut. "Tapi kenapa, Pak?" Tanya Intan bingung.


"Kita tidak bisa di rumah berdua saya." Jawab Ario tanpa menatap Intan.


"Baiklah, saya buatkan minum untuk bapak. Sebentar ya," tutur Intan.


Intan pun masuk ke dalam rumahnya dengan niat membuatkan minum. Kejam sekali dia tidak membuatkan minum untuk calon suami. Eh.


Hujan-hujan begini, Intan memilih untuk membuat kopi saja dan memotong kue yang Ario bawakan untuknya.


Setelah itu, Intan pun keluar dan menghampiri Ario.


"Pak, ini silahkan diminum." Tutur Intan.


Ario meminum sedikit kopi buatan Intan, lalu tatapannya beralih pada kue yang ada di sebelah kopi.


"Saya kan belikan ini untuk kamu, kenapa harus di sajikan untuk saya juga." Kata Ario.


"Ya nggak apa-apa, Pak." Balas Intan sembari mengusap-usap tangannya sendiri.


Ario menghela nafas kasar. "Kamu kan sedang sakit, masuk saja sana." Tutur Ario.


"Bapak juga ayo masuk." Ajak Intan.


"Saya nggak mau nanti ada fitnah karena kita cuma berdua. Saya takut di kira apa-apain kamu." Tolak Ario menggelengkan kepalanya.


"Kan bapak memang sudah apa-apa saya." Sahut Intan dengan polos.


Ario menoleh, menatap gadis itu yang seketika menutup mulutnya sendiri karena merasa telah salah bicara.


USTAD LIHAT INTAN USTAD🙈

__ADS_1


Bersambung................................


__ADS_2