
Kabar kehamilan Intan sudah di dengar oleh kedua orang tua wanita itu. Damri dan Dian sama-sama bahagia mendengar jika putri mereka akan punya anak.
Kini rumah Intan kedatangan kedua orang tuanya yang membawa banyak buah-buahan, termasuk rujakan.
Ario bahagia melihat keluarganya bahagia. Jangan tanyakan perasaanya seperti apa karena disini, Ario lah yang paling bahagia.
"Di jaga baik-baik kandungannya. Ingat kan, makan yang sehat jangan pedas-pedas. Satu lagi, jangan kebanyakan rebahan ya, Nak. Berjemur di bawah matahari pagi." Tutur Dian sembari mengusap-usap rambut panjang putrinya.
"Iya, Ma. Mama tenang aja, suamiku pasti tahu apa yang baik. Dia pasti ekstra jagain aku." Balas Intan menganggukkan kepalanya.
Ario tersenyum senang mendengar istrinya ikut melibatkan dia dalam pembicaraan.
Apa yang Intan katakan tentu saja benar. Ario akan menjaga istrinya dengan ekstra, apalagi ini kehamilan anak pertama.
"Maaf ya kalau Intan suka merepotkan kamu, Ario." Ucap Damri pada sang menantu.
"Papa bicara apa, Intan merepotkan aku itu wajar karena aku suaminya. Justru aku senang direpotkan olehnya." Sahut Ario, kemudian merangkul bahu istrinya.
Damri dan Dian merasa sangat bahagia melihat anak mereka yang sudah bahagia dengan kehidupan pernikahannya. Meski diawali karena sebuah insiden, asal bahagia maka mereka ikut bahagia.
"Yaudah, ini kan sudah malam. Intan juga harus istirahat, kamu juga Ario. Mama sama papa pulang ya." Pamit Dian sembari bangkit dari duduknya.
"Kenapa cepat banget, aku masih kangen." Intan buru-buru memeluk sang mama.
"Manja, kan udah punya suami. Sebentar lagi juga punya anak, udah ah. Kapan-kapan mama sama papa main lagi." Kata Dian lembut.
Sejujurnya Dian juga masih merindukan putrinya, namun ia paham jika anak dan menantunya harus istirahat.
"Tidak menginap saja, Ma, Pa?" Tanya Ario menawarkan.
"Tidak, Ario. Besok kan papa kan ada pekerjaan pagi-pagi." Jawab Damri menolak.
"Kapan-kapan, kalian saja yang menginap ya. Mungkin saat hari libur, kami pasti akan sangat senang." Tambah Damri mengusulkan.
"Tentu saja, Pa. Kami akan menginap saat hari libur tiba ya." Balas Ario menganggukkan kepalanya.
Ario dan Intan akhirnya mengantar kedua orang tua mereka sampai depan pintu. Mereka melambaikan tangannya begitu suara klakson terdengar.
"Ayo masuk, Sayang." Ario langsung menggendong tubuh istrinya dan mengajaknya masuk.
__ADS_1
Intan tertawa, dia pasrah saja di gendong oleh suaminya menuju kamar mereka. Ini sudah waktunya mereka istirahat.
***
Bianca duduk di teras rumah sambil mengusap-usap perutnya yang sudah berusia 5 bulan, jalan 6.
Ini rutinitasnya setelah menyiapkan sarapan untuk anak dan istrinya, yaitu berjemur.
"Mami!!!" Panggil seorang anak laki-laki dari dalam rumah.
Bianca tersenyum. Dia menoleh ke arah pintu rumah yang tidak lama kemudian menunjukkan bocah laki-laki yang sudah siap untuk pergi sekolah.
Bianca bangkit dari duduknya. Dia mendekati putranya, lalu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Abang sudah siap, ayo kita sarapan dulu." Ajak Bianca pada putranya.
"Mami hari ini antar aku atau nggak ke sekolah?" Tanya Kiano.
"Maunya?" Tanya Bianca balik.
"Nggak usah, Mami. Mami istirahat saja, karena mami pasti lelah bawa-bawa adik disini." Jawab Kiano, kemudian memegang perut Bianca.
Bianca terkekeh. "Baiklah, mami dirumah saja sama adik. Kamu nanti berangkat sama papi, dan pulang di jemput bapak sopir ya." Tutur Bianca.
Bianca dan Kiano sama-sama menoleh. Tampak Raka yang sudah siap pergi ke kantor.
Penampilan Raka selalu berhasil membuat Bianca tersenyum penuh rasa syukur. Bagaimana tidak, sudah tampan, mapan dan penyayang.
"Pagi." Sapa Raka sembari mencium kening istrinya, lalu kening Kiano.
"Pagi juga, Papi. Ayo sarapan, mami sudah siapkan." Ajak Kiano menarik tangan mami dan papinya.
"Pelan-pelan, Abang. Kasihan mami, kan dia bawa adik." Tegur Raka pelan.
Bianca tersenyum, dia mengusap tangan suaminya lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu lupa sapa baby, Mas." Ucap Bianca dengan wajah di tekuk.
Raka tertawa. Dia lekas berlutut di depan istrinya, kemudian mengusap dan mencium perut Bianca.
__ADS_1
"Selamat pagi, anak papi. Baik-baik di perut mami ya, nggak lama lagi kita semua bertemu." Ucap Raka pelan.
Bianca mengusap kepala sang suami. Pria yang dulu ia benci dan ia tolak kehadirannya, kini malah menjadi segalanya untuk dirinya dan anaknya.
Bianca tidak menyangka jika dia akan memiliki anak bersama Raka, padahal dulu ia melontarkan kalimat penuh permusuhan.
Untung saja Raka selalu sabar dengannya, jika saja tidak maka Raka pasti sudah mengusir istri seperti Bianca yang suka melawan.
"Abang mau sarapan apa? Mami buat nasi goreng sama spaghetti carbonara." Kata Bianca menawarkan.
"Nasi goreng, Mami." Jawab Kiano.
"Tapi aku mau bekal spaghetti ya, Mami? Apa boleh?" Tanya Kiano.
"Tentu saja, siapa yang akan melarang anak kesayangan mami ini." Jawab Bianca menganggukkan kepalanya.
Setelah melayani anaknya, kini Bianca beralih pada suaminya.
"Kamu mau makan apa, Mas?" Tanya Bianca.
"Nasi goreng saja, Sayang." Jawab Raka sembari terus memperhatikan wajah istrinya.
"Oh ya, nanti siang kita makan siang sama-sama ya." Ajak Raka pada anak dan istrinya.
"Berarti mami sama papi jemput aku sekolah?" Tanya Kiano, dijawab anggukkan kepala oleh Raka.
"Iya, Abang." Jawab Raka memperjelas.
Setelah sarapan, Bianca mengantar anak dan suaminya sampai depan rumah. Dia mencium punggung tangan sang suami.
"Hati-hati ya, Mas." Tutur Bianca.
"Iya, Sayangku." Balas Raka, kemudian mencium kening dan bibir Bianca singkat.
"Abang, jangan lupa bekalnya dihabiskan." Tutur Bianca mengingatkan.
"Pasti, Mami." Balas Kiano mengangguk paham.
Setelah berpamitan, Raka dan Kiano pun pergi meninggalkan rumah. Tidak lupa mereka sama-sama melambaikan tangan sebelum benar-benar hilang di telan jarak.
__ADS_1
KANGEN NGGAK SIHH SAMA KELUARGA PAPI RAKA??
Bersambung..............................