
Bianca dan Intan sampai di rumah, Bianca langsung disambut oleh pekikan dari Kiano yang sigap memeluknya.
"Mami, kenapa aku ditinggal?" Tanya Kiano dengan posisi memeluk maminya.
Bianca terkekeh, ia menundukkan kepalanya lalu mencium kening putra pertamanya itu.
"Nggak ditinggal, Nak. Tadi mami mau ajak, tapi kamu bobok lagi dan mami nggak tega banguninnya." Jawab Bianca menjelaskan.
Intan berlutut di depan Kiano. "Tidak ikut bukan masalah kan, yang penting Kiano kami belikan ini." Ucap Intan lalu memberikan es krim dengan brand yang dijuluki sebagai pengisi ruko kosong.
Kiano kesenangan, ia menerima es krim itu dan langsung memakannya sambil duduk di sofa.
"Ca, gue mau kamar mandi. Dimana ya?" Tanya Intan yang sejak tadi sudah menahan.
"Di kamar tamu, di kamar gue pasti ada suami gue." Jawab Bianca, lalu menunjuk ke arah kamar tamu.
Intan pun lekas pergi ke kamar yang ditunjukkan oleh sahabatnya. Ia lari ke arah dapur, dimana arah yang sama dengan kamar tamu berada.
Intan masuk ke dalam kamar itu, ia lalu menutup pintunya dan langsung mendekati kamar mandi.
Tangan gadis itu terulur untuk membuka pintu, namun tiba-tiba saja pintu sudah terbuka duluan dari dalam.
"Eh setannn!!" Pekik Intan menutup matanya dengan tangan.
"Sembarangan sekali kamu." Ketus orang itu dengan suara dingin.
Meski sempat terkejut juga dengan teriakan Intan, namun Ario bisa mengembalikan ekspresi wajahnya dengan cepat menjadi dingin kembali.
Intan terdiam, ia perlahan menjauhkan tangannya dari mata, sehingga sosok di depannya kini bisa ia lihat dengan jelas.
Raut keterkejutan dan ketakutan di wajah Intan berubah menjadi raut kesal dan jengkel. Ia tidak akan lupa bagaimanapun pria itu bersikap padanya.
"Ngapain bapak disini." Ketus Intan, bukan sebuah kalimat pertanyaan.
Ario tidak berniat untuk menjawab, pria itu langsung beranjak dari hadapan Intan dan mendekati pintu kamar.
"Nyebelin banget jadi laki-laki, pantesan belum nikah. Pasti gara-gara galak tuh." Gerutu Intan yang masih bisa di dengar oleh Ario.
Ario membuka pintu, namun sebelum keluar ia menoleh ke belakang dan menatap Intan lagi.
"Jangan sok tahu kamu." Ketus Ario lalu menutup pintunya dengan sedikit kasar.
Intan melototkan matanya dan membalik badan. "Dasar tidak sopan, anda kira ini rumah anda sendiri!!" Teriak Intan.
Jika saja ia tidak kebelet, mungkin Intan akan berlari dan memaki pria itu yang sudah seenaknya membanting pintu, namun Intan sudah di 'ujung'.
__ADS_1
Intan lekas masuk ke dalam kamar mandi, ia buang air kecil dengan helaan nafas di akhirnya.
Lega rasanya, ia tadi tidak terlalu kebelet, namun setelah sampai di rumah Bianca, rasanya malah di ujung.
Setelah selesai, Intan pun keluar dari kamar tamu dan pergi ke ruang tamu untuk menemui sahabatnya.
Intan harus segera pulang karena hari yang semakin sore.
"Ca!" Panggil Intan.
Intan kaget karena ternyata Bianca sedang duduk bersama anak dan suaminya, tidak lupa juga disana ada Ario.
"Kenapa lo teriak-teriak?" Tanya Bianca.
Intan menggelengkan kepalanya. "Gue mau balik ya, ini udah lumayan sore." Jawab Intan.
Bianca melirik jam dinding disana. "Baru jam tiga sore." Sahut Bianca.
Raka mengusap kepala istrinya. "Mungkin Intan punya urusan lain, lagipula dia sudah cukup menemani kamu hari ini kan." Tutur Raka pada istrinya.
Bunga tersenyum malu-malu, ia pun menganggukkan kepalanya sebagai sahutan atas ucapan sang suami barusan.
"Eumm … yaudah deh, makasih banyak ya udah mau anterin gue hari ini. Besok gue traktir pentol deh kaya tadi." Celetuk Bianca.
Intan hanya tersenyum seraya menunjukkan ibu jarinya. Intan lalu menatap Kiano yang masih menikmati es krim nya.
"Dah, Tante. Terima kasih es krim nya," balas Kiano melambaikan tangannya.
"Pak Raka, saya permisi ya." Pamit Intan juga.
Bianca bangkit dari duduknya, ia mengantar sahabatnya sampai depan rumah.
"Kok nggak pamitan sama ayang lo?" Tanya Bianca usil.
"Ayang? Dia kalo jadi ayang gue, bisa-bisa gue kayang tiap hari karena nggak sanggup lagi hidup normal." Sahut Intan dengan sewot.
Bianca terkekeh. "kenapa sih, Tan? Lo kayak musuh banget sama pak Ario." Ucap Bianca.
"Nanya mulu lo kayak wartawan." Sahut Intan menghela nafas lelah.
Bianca tertawa lepas, ia melambaikan tangannya pada sahabatnya itu yang sudah masuk mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.
Bianca masuk, ia menatap suaminya sedang mengobrol serius dengan Ario. Pantas saja tadi ia pulang tidak ada suaminya, sebab Raka dan Ario di ruang tamu.
"Mas, aku buatin minum dulu ya. Kamu kok bisa-bisanya tamu nggak dibuatin minum." Ucap Bianca.
__ADS_1
"Heh, nggak! Sini duduk, bibik bisa buatin. Lagian Ario nggak minum air, dia minumnya angin." Larang Raka menggeleng tegas.
Bianca menghela nafas, ia pun akhirnya pasrah dan kembali duduk di sebelah suaminya.
"Sabar ya Bianca, suami lo ini emang posesif luar biasa." Ucap Ario pada Bianca.
Bianca tersenyum, walaupun Raka posesif luar biasa, ia tetap sayang dan cinta pada suaminya ini.
Raka tidak menimpali ucapan sahabatnya.
"Gimana tadi belanja nya?" Tanya Raka lembut.
"Lancar, eh tapi aku ketemu mbak Yola." Jawab Bianca.
"Terus, nggak kamu ladenin kan?" Tanya Raka lagi.
"Ya nggak, ngapain. Aku nggak mau buang tenaga," jawab Bianca.
Raka tersenyum senang, ia mengusap-usapnya pipi istrinya lalu menghadiahi sang istri dengan kecupan di bibir.
"Sial!!" Umpat Ario yang hanya bisa mengelus dada.
Ario harus banyak-banyak bersabar, jodohnya masih belum terlihat. Ia akan membalas kemesraan Raka ini setelah dia punya pasangan.
"Mas, kamu nih." Tegur Bianca memukul pelan tangan suaminya.
"Papi, jangan cium mami!!" Kiano tiba-tiba datang dengan wajah yang belepotan es krim.
"Nah bagus, Kiano. Marahin aja papi kamu," timpal Ario mengompori.
Bianca tertawa, ia pun lekas mengajak Kiano untuk membersihkan wajahnya yang benar-benar acak-acakan.
"Ikut senang gue lihat lo bahagia, Ka." Ucap Ario dengan serius.
"Makanya buruan nyusul." Timpal Raka.
"Lo kan suka sama sahabat istri gue." Tambah Raka usil.
Ario melotot. "Ka, kebiasaan lo dari kuliah, suka nyebar hoax." Kata Ario mendengus kesal.
Ario masih ingat saat mereka kuliah dulu, Raka dengan seenak jidat berteriak kepada adik tingkat mereka dan mengatakan bahwa ia suka dan ingin mengajak pacaran, padahal tidak sama sekali.
Lalu sekarang Intan? Bahkan menurut Ario, adik tingkatnya dulu jauh lebih baik daripada sahabat istrinya Raka.
Intan, gadis itu sangat menyebalkan dan bawel. Ario tidak suka perempuan banyak bicara.
__ADS_1
YAKIN, OM???
Bersambung.............................