
Setelah 2 hari istirahat di rumah, akhirnya hari ini Kiano sudah diperbolehkan untuk pergi ke sekolah. Sejak kemarin anak itu sudah merengek untuk ke sekolah, namun karena kondisinya yang belum pulih membuat Bianca tidak mengizinkannya.
Pagi ini Bianca membuatkan putranya sarapan roti dan juga susu, tidak lupa juga membuatkan bekal untuk jagoannya itu. Sementara untuk suaminya, Bianca membuat sandwich isi daging dan sayuran serta segelas teh hangat.
"Selamat pagi, Mami!!!" Sapa Kiano dengan riang.
"Pagi, Sayang mami." Balas Bianca tidak kalah riang.
Bianca menundukkan kepalanya, mencium pipi putranya sebagai sapaan di pagi hari yang cerah ini.
"Pagi, Sayang." Sapa Raka, ia mendekati sang istri lalu mencium keningnya singkat.
Bianca hanya tersenyum, ia lalu mempersilahkan anak dan suaminya untuk duduk dan sarapan.
"Mami, mami antar aku ke sekolah kan?" Tanya Kiano seraya mengigit roti buatan Bianca.
"Iya, Sayang. Mami antar dan tungguin Abang sampai pulang," jawab Bianca.
Tangan Bianca terulur untuk menyeka noda cokelat disudut bibir putranya.
"Yeayy!! Aku senang setiap kali mami mau antar aku, terima kasih mami!!" Ucap Kiano sampai mengangkat kedua tangannya.
Raka mengusap kepala Kiano dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengambil secangkir teh hangat yang istrinya buat.
Raka senang melihat Kiano pulih, yang mana hal itu membuat Bianca ikut pulih. Raka tidak akan bisa lupa kondisi istrinya saat Kiano kecelakaan waktu itu, dan ia akan selalu berdoa agar kejadian itu tidak terulang lagi.
"Susunya harus habis ya, biar Abang cepat pulih." Tutur Bianca dengan lembut.
"Iya, Mami. Aku akan habiskan susunya," sahut Kiano nurut.
"Kamu nggak sarapan, Sayang?" Tanya Raka sembari mengusap punggung tangan istrinya.
Bianca menggelengkan kepalanya. "Belum mau, Mas. Aku lihat kalian makan aja udah kenyang," jawab Bianca.
Raka terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Memang ciri khas seorang ibu adalah memasak, namun tidak makan. Seperti Bianca yang membuat sarapan, namun malah tidak sarapan.
"Susu kamu udah diminum?" Tanya Raka.
__ADS_1
"Udah, Sayang. Aku tadi minum susu aja, takutnya lemas karena nggak sarapan." Jawab Bianca.
Raka tersenyum manis sekali mendengar panggilan istrinya. Jelas sekali panggilan itu mudah diucapkan, namun entah mengapa Bianca jarang sekali memanggilnya begitu.
"Kamu tuh susah banget kayaknya panggil aku sayang." Celetuk Raka gemas sendiri.
"Nggak juga, aku panggil sayang terus kok." Timpal Bianca.
"Coba panggil lagi." Pinta Raka seraya mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Bianca mendorong Raka. "Kebiasaan, jangan aneh-aneh deh." Cibir Bianca.
Raka menjauh sambil terus tertawa, rasanya memang enak sekali jika menggoda istrinya.
"Kamu itu galak, tapi lucu." Bisik Raka.
"Jadi aku galak?" Tanya Bianca menunjuk dirinya sendiri.
Raka terdiam, ia bisa mendengar sirene yang berbunyi di sekitarnya. Sirena tanda adanya bahaya yang mulai mengintai.
"Eh nggak kok, maksud aku galak itu adalah gagah dan lakik." Jawab Raka asal-asalan.
"Mami, boleh aku minta rotinya lagi?" Tanya Kiano seraya memberikan piring kosongnya.
"Boleh, Sayang. Abang mau pakai selai apa?" Tanya Bianca balik.
"Cokelat dan strawberry, aku mau di campur." Jawab Kiano.
Bianca pun membuatkan roti lagi sesuai dengan permintaan putranya, setelah itu ia berikan pada Kiano yang langsung memakannya sampai habis.
Bukan hanya roti, tapi susu yang Bianca buat habis diminum Kiano. Bianca bersorak senang, bahkan sampai bertepuk tangan.
Sepulang dari rumah sakit waktu itu, Kiano sedikit susah untuk makan dan hari ini ia makan dengan lahap, tentu saja Bianca senang.
"Aku mau cepat sembuh karena papi bilang mau ajak aku ke universal studio Singapore, Mi. Aku mau kesana!!" Jelas Kiano.
Bianca langsung menoleh ke arah Raka yang cengengesan tidak jelas. Bianca hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
"Emang kamu nggak sibuk sampai berani janjiin anak kamu liburan?" Tanya Bianca.
"Nggak, Sayang. Pekerjaan aku mungkin banyak, tapi jika untuk mengajak kamu dan Kiano liburan aku pasti punya banyak waktu." Jawab Raka jujur.
Bianca mengangguk, jika suaminya sudah bilang begitu maka apa yang bisa ia lakukan. Lagipula Kiano tampak bahagia dan semangat untuk liburan.
"Pulang sekolah Kiano, aku mau ke rumah mama sebentar ya, Mas. Aku kangen makan opor buatan mama," ucap Bianca pada suaminya.
"Boleh, Sayang. Tapi maaf aku nggak bisa jemput, aku ada rapat." Balas Raka sedih.
"Nggak apa-apa dong, Papi." Tutur Bianca lalu mencium pipi suaminya.
Setelah sarapan, keluarga Raka dan Bianca itupun pergi untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Pagi ini Raka bisa mengantar Kiano ke sekolah, tapi ia tidak bisa menjemputnya.
"Sebelum sampai ke sekolah, kamu mau mampir beli sesuatu untuk sarapan nggak?" Tawar Raka.
"Nggak, Mas. Aku mau sarapan nasi uduk dekat sekolah Kiano, kayaknya enak." Jawab Bianca menolak.
"Nasi uduk tuh yang mana ya, aku lupa." Kata Raka bingung.
"Yang enak." Sahut Bianca seadanya.
Raka tertawa, ia mencubit pelan pipi istrinya karena gemas mendengar jawaban singkat dari Bianca.
Sesampainya di sekolah Kiano, bocah itu turun duluan sementara Bianca belakangan karena harus memberi asupan nutrisi untuk suaminya.
Raka menjauhkan bibirnya dari bibir sang istri, lalu mencium keningnya sedikit lama.
"Hati-hati ya, Mas." Tutur Bianca lembut.
"Kamu juga, aku berangkat dulu. Nanti pulangnya sama pak sopir, tapi aku yang jemput di rumah mama." Sahut Raka dan Bianca membalas dengan anggukkan kepala.
"Sini cium sekali lagi, belum puas aku." Pinta Raka, namun Bianca malah keluar sambil meledek dengan mengedipkan sebelah matanya.
Raka melototkan matanya, namun sesaat kemudian ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang terkadang masih seperti anak-anak.
"Emang enak nikah sama daun muda, ada manis-manisnya kayak iklan." Gumam Raka senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
PAPI OHH PAPI🤗🤗
Bersambung................................