Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Mami sakit apa?


__ADS_3

"Saya akan bertanggung jawab, terserah jika kamu merasa hanya kamu yang bersalah disini. Tapi saya akan tetap menikahi kamu, saya nggak mau menikahi kamu saat kamu sudah benar-benar hamil!"


Ucapan Ario kemarin membuat Intan demam hari ini. Gadis itu bahkan sampai tidak masuk kampus karena sakit.


Intan bisa melihat banyak pesan dari sahabatnya, namun tidak ada satu pesan pun yang ia balas.


"Gue demam gara-gara ujanan atau gara-gara ucapan pak Ario ya." Gumam Intan.


Menyebut nama Ario seketika membuat Intan merinding. Malam itu mungkin ia dipengaruhi obat, namun bukan berarti ia bisa lupa pada adegan yang ia lakukan bersama Ario.


"Pria dewasa memang menggoda." Batin Intan sambil melamun.


Intan tersadar, ia bangkit dari duduknya lalu memukuli kepalanya sendiri. Bersama gerakan itu, pintu tiba-tiba saja terbuka.


"Ya ampun, kamu lagi sakit malah pukul-pukul kepala." Tegur mama Dian, ibunda Intan.


Intan menatap sang mama yang membawa makanan dan minuman, lalu meletakkannya di samping Intan.


"Lagian gimana bisa sakit sih, biasanya kecebur di empang sambil hujan-hujanan juga nggak pernah sakit." Celetuk mama Dian heran.


Intan menekuk wajahnya, lalu mengusap-usap hidungnya yang berair. Ucapan sang mama sembarangan sekali, ia tidak pernah nyebur ke empang.


"Namanya sakit, Ma." Sahut Intan pasrah.


"Yaudah kamu makan dulu, mama mau ke kantor papa buat bawain makan siang." Tutur mama Dian.


"Papa mulu." Sindir Intan seraya menyuap nasi ke dalam mulutnya.


Mama Dian mencubit pipi putrinya. "Kebiasaan, sama papa sendiri aja cemburu." Timpal mama Dian terkekeh.


Intan tidak menyahut, ia terus menyuap makanan ke dalam mulutnya dan membiarkan sang mama pergi.


Setiap hari Senin begini, mama Dian memang rajin sekali membawakan makanan ke kantor sang papa.


Sang papa sendiri memang selalu manja. Oh ya, sang papa hanya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan travel.


Intan bukan anak orang kaya, namun setidaknya ia bisa hidup cukup. Cukup untuk mengemban pendidikan saja, Intan sudah sangat bersyukur.


Intan melekatkan nampan berisi makanan di meja nakas, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tidak lupa menarik selimut sampai batas bahu.


"Dingin." Gumam Intan.


Sementara itu di tempat lain. Bianca terlihat gelisah karena dosen tidak kunjung menyelesaikan penjelasannya, sementara ia harus menjemput Kiano di sekolahnya.


"Astaga, ini dosen lama banget. Emosi gue lama-lama," batin Bianca geram sendiri.


Bianca ingin sekali menghubungi suaminya, namun ia tidak bisa bermain ponsel saat dosen sedang menjelaskan. Jika ia melakukannya, maka bisa-bisa namanya diberi pulpen merah.


"Apa gue lempar aja pakai buku ini, biar pingsan sekalian nih dosen." Geram Bianca.


Biasanya Bianca tidak pernah emosi, namun kali ini ia emosi karena memikirkan putranya. Ditambah lagi dengan kondisinya yang sedang hamil membuat emosinya mudah terpancing.


"Baiklah, perkuliahan cukup sampai disini. Saya ucapkan terima kasih, selamat siang." Dosen itu pun pergi meninggalkan kelas Bianca.


Bianca buru-buru bangkit, ia mengambil tasnya dan keluar dari kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30, dan Kiano pulang pukul 11 siang.


"Semoga nggak telat deh, kasihan anak gue." Gumam Bianca buru-buru memesan taksi online.


Bianca menunggu selama 5 menit sampai taksi pesannya datang. Ia buru-buru masuk dan meminta si sopir tancap gas ke sekolah Kiano.


Sesampainya di sekolah Kiano, ia langsung berlari ke dalam sekolah. Bianca melirik kelas Kiano yang sudah kosong.


"Ya ampun, Kiano." Gumam Bianca khawatir.


Bianca lekas mencari gurunya untuk bertanya keberadaan Kiano. Dan tepat sekali, ia bertemu guru Kiano di taman.


"Bu maaf, Kiano mana ya?" Tanya Bianca dengan nafas terengah-engah.


"Kiano? Tadi sudah dijemput oleh seorang wanita, Bu. Dia bilang datang disuruh pak Raka dan anda." Jawab guru Kiano.

__ADS_1


"Wanita?" Beo Bianca.


Bianca mulai pusing, ia takut jika Kiano sampai diculik. Bianca bisa habis dimarahi Raka, dan gila karena kehilangan putranya.


"Bu, tolong lain kali jangan biarkan Kiano pulang jika bukan saya ataupun suami saya yang menjemputnya." Kata Bianca lalu segera pergi dari sana.


Bianca pulang dengan taksi yang tadi ia tumpangi. Ia pun bergegas pulang ke rumah, dan berdoa semoga Kiano ada di rumah.


"Ya ampun, Kiano." Gumam Bianca penuh rasa khawatir.


Bianca menghubungi suaminya, namun tidak kunjung diangkat. Bianca yakin jika Raka sedang rapat sekarang.


"Ya Tuhan, semoga Kiano baik-baik saja dan yang menjemputnya adalah mama." Gumam Bianca.


Bianca akhirnya sampai rumah, ia langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Kiano!!" Panggil Bianca berteriak, sampai memenuhi rumah.


"Mami!!" Sahut Kiano lalu berlari memeluk Bianca.


Bianca berlutut, ia menatap putranya yang masih memakai seragam sekolah. Bianca memeluk tubuh putranya dengan nafas terengah-engah.


"Kiano, kamu pulang sama siapa, Nak?" Tanya Bianca menangkup wajah putranya.


"Aku pulang dengan mama jahat." Jawab Kiano menunjuk ke arah sofa dengan ekspresi wajah takut.


Bianca lekas menoleh, ia menatap Yola yang duduk santai di sofa rumahnya.


"Abang, Abang ke kamar dulu ya. Mami mau bicara sebentar sama mama kamu," tutur Bianca dan Kiano langsung menurut.


Bianca menghela nafas, ia pun mendekati Yola yang sedang menikmati teh yang sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangga di rumahnya.


"Mbak." Panggil Bianca pelan.


Yola menoleh. "Aku tidak menerima amarahmu, aku hanya menjemput anakku dari sekolahnya." Sahut Yola ketus.


Bianca menggeleng kecil. "Saya bukan mau marah, Mbak. Tapi tolong, lain kali bilang jika ingin menjemput Kiano. Saya mencarinya dengan perasaan khawatir," pinta Bianca dengan tenang.


"Itu adalah kesalahanmu, Bianca. Siapa suruh kau menjadi ibu yang tidak becus sampai-sampai terlambat datang ke sekolahnya." Timpal Yola dengan sinis.


Yola berjalan mendekati Bianca. "Atau kau mulai menunjukkan sifat aslimu? Mentang-mentang kau sudah hamil dan akan memiliki anak sendiri, kau lupa pada Kiano, iya kan?" Tuduh Yola.


"Terserah Mbak bilang apa, memang saya akui ini kesalahan saya. Anda boleh pergi dari rumah saya sekarang." Usir Bianca dengan halus.


Yola mengepalkan tangannya, sebelum pergi ia kembali mendekati Bianca.


"Kiano bisa menyayangimu dalam waktu yang singkat, dan aku juga bisa membuatnya membencimu dalam waktu yang singkat." Bisik Yola kemudian pergi meninggalkan rumah Bianca.


Bianca menghela nafas, tubuhnya terasa lemah karena lelah dan khawatir tadi, di tambah lagi ia harus menghadapi Yola yang sepertinya mau mencari masalah lagi dengannya.


"Awwww, sakit …" bisik Bianca merasakan perutnya kram.


Bi Jum yang kebetulan lewat terkejut melihat majikannya seperti kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Astaga, Nyonya. Anda baik-baik saja?" Tanya bi Jum.


"Perut aku sakit, Bi. Sepertinya kram," jawab Bianca mengusap-usap perutnya.


"Ya ampun, Nyonya. Ayo bibi antar ke kamar, nyonya harus istirahat." Ajak bi Jum memapah Bianca ke kamarnya.


Sampai di kamar, Bianca langsung di rebahkan diatas ranjang. Wanita itu menarik selimut sampai menutupi perut majikannya.


"Nyonya, bibi buatkan sesuatu ya." Ucap bi Jum, namun Bianca menolak.


Bianca menggeleng. "Nggak usah, Bi. Aku mau istirahat aja, titip Kiano ya." Tolak Bianca pelan.


"Baiklah, Nyonya. Anda silahkan istirahat ya," ucap bi Jum lalu segera keluar dari kamar nyonya nya.


Saat bibi Jum keluar, ia berpapasan dengan Kiano yang sudah dibantu mengganti pakaian dengan pelayan lain.

__ADS_1


"Bibi, dimana mami?" Tanya Kiano.


"Mami sedang istirahat, Kiano main sama bibi aja yuk." Ajak bi Jum.


"Ada apa dengan mami? Apa mami sakit?" Tanya Kiano khawatir.


Tanpa mendengar jawaban bi Jum, Kiano langsung berlari ke lantai bawah. Bocah itu berniat memberitahu sang Papi tentang keadaan maminya.


"Eh Kiano." Panggil bi Jum dan mbak Nina buru-buru mengejar Kiano.


Kiano mengambil telepon rumah, ia lalu menatap Bi Jum dan memintanya untuk menekankan nomor papinya.


Setelah mendapatkan nomor sang papi, Kiano langsung mendekatkan gagang telepon di telinga nya.


"Halo, Papi." Sapa Kiano duluan.


"Eh anak papi, ada apa sayang?"


Terdengar suara Raka yang begitu lembut dan hangat.


"Papi, mami sakit." Ucap Kiano.


"Apa? Sakit? Mami kamu sakit apa?"


Terdengar suara Raka yang begitu khawatir usai mendengar ucapan Kiano.


"Berikan teleponnya pada bibi."


Kiano lekas memberikan teleponnya kepada bi Jum.


"Iya, Tuan." Sapa bi Jum dengan sopan.


"Apa yang terjadi pada nyonya, Bi?"


"Nyonya sedang istirahat, Tuan. Tadi dia mengeluh perutnya sakit, dan itu terjadi setelah bicara pada bu Yola." Jawab bi Jum dengan jujur.


"Saya pulang sekarang, dan jangan biarkan istri saya istirahat nya terganggu."


Usai mengatakan itu, Raka langsung menutup panggilannya sepihak.


"Bibi, apa yang papi katakan?" Tanya Kiano dengan kepala yang miring-miring.


"Papi akan pulang, sekarang Kiano makan dulu yuk." Ajak bi Jum lembut.


Kiano mengangguk, ia pun ikut bi Jum ke dapur untuk makan. Kiano benar-benar anak yang penurut, apalagi setelah mengetahui akan segera menjadi Abang.


***


Raka sampai di rumah, pria itu berlari masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya. Raka membuka pintu kamar perlahan dan melihat istrinya tertidur.


Raka menutup pintu kembali, ia berjalan mendekati ranjang kemudian mencium kening sang istri hangat.


"Sayang." Bisik Raka lembut.


Bianca menggeliat, namun wanita itu tidak membuka matanya. Ia hanya menggerakkan tubuhnya dan mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap suaminya.


Tatapan Raka lalu mengarah pada perut istrinya, ia memberikan usapan lalu menunduk guna mencium perutnya.


"Baby, jangan buat mami kesakitan ya. Baby harus bisa menguatkan mami, kalian kan hebat." Bisik Raka lalu kembali mencium perut istrinya.


Raka mendekap tubuh istrinya tidak terlalu erat, ia ikut merebahkan diri dan tertidur bersama sang istri.


Mendengar ucapan bi Jum tentang istrinya membuat Raka begitu khawatir bahkan sampai rela meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk di atas meja.


Raka sudah mengatakan bahwa Bianca istrinya adalah yang utama, apalagi jika sudah menyangkut anak-anaknya. Anak dalam kandungan istrinya, maupun Kiano.


"Kamu tahu nggak, aku hampir nabrak tadi saking khawatirnya sama kamu, Sayang." Bisik Raka lalu menciumi wajah cantik istrinya.


MAS RAKA, SEGITUNYA KHAWATIRNYA YA SAMA BINI😙

__ADS_1


Bersambung....................................


__ADS_2