
Intan datang ke bengkel di sore hari sesuai ucapan Ario. Sampai disana ternyata mobil pria itu sudah selesai di bereskan. Tidak ada lagi goresan di body mobil.
Intan tersenyum. "Body mobil udah sama kayak gue, mulus." Celetuk Intan pelan.
Intan dengan begitu percaya diri mendekati bagian kasir bengkel untuk meminta tagihan pembayaran servis mobil yang ia tabrak tempo hari.
"Permisi, saya yang datang tadi pagi. Mau lihat tagihannya, boleh?" Tanya Intan dengan sopan.
"Tentu, Mbak. Sebentar ya," jawab kasir itu tidak kalah sopan dan ramah.
Si kasir itu pun memberikan secarik kertas berisi rincian pembiayaan servis mobil mewah itu.
Senyuman yang tadi menghiasi wajahnya seketika hilang begitu saja kala melihat total biayanya.
"Hah, mbak ini nol nya kelebihan kali ya." Ucap Intan gugup dan ketakutan.
Intan tidak menyangka jika servis mobil bisa menghabiskan biaya sampai puluhan juta.
"Tidak, Mbak. Itu nominalnya benar, sebab selain body, pemilik mobil meminta ganti beberapa bagian mobil makanya biayanya jadi mahal." Jelas kasir itu dengan rinci.
Intan gelagapan, ia mulai berkeringat dingin. Perlahan Intan menelan gumpalan salivanya, ia lalu merogoh kantong dan meraih ponselnya.
Uang dalam atm Intan memang cukup, tapi setelah itu ia harus jajan apa nanti di kampus.
Intan kembali menatap kasir itu. "Mbak, pakai paylatter bisa nggak?" Tanya Intan memelas.
Kasir itu tampak kebingungan, lalu tertawa. Menganggap pertanyaan barusan adalah sebuah candaan belaka.
"Ah mbak bercanda aja." Jawab kasir itu terkekeh canggung.
Intan rasanya ingin menangis saja. Tega sekali Ario membuatnya begini, ia hanya merusak body mobil, tapi pria itu malah minta ganti banyak.
Intan pun mencoba menghubungi Bianca, namun tidak kunjung diangkat. Ia semakin kalang kabut, ketar-ketir dan panas dingin. Intan takut dirinya tidak bisa membayar.
Intan memandangi nota di tangannya, ia masih saja melongo. Mata Intan terbuka lalu menyipit, berusaha melihat ulang nominal tersebut, barang kali tadi dia salah lihat.
Saat ia masih terus memandangi nota tersebut, tiba-tiba saja ada yang merebutnya dengan kasar bahkan nyaris sobek.
"Mobil saya tidak akan bisa keluar jika kamu hanya memandangi nota nya." Ucap Ario dengan dingin.
Ario membawa nota itu lalu memberikannya kepada kasir bersamaan dengan kartu kredit miliknya.
Intan masih melongo di tempatnya. Setelah ia sadar, buru-buru ia mendekat.
"Kenapa anda disini, berikan pada saya. Saya bisa membayarnya," pinta Intan dengan sombong.
"Saya nggak butuh duit kamu." Balas Ario ketus.
__ADS_1
Intan mengepalkan tangannya. "Jika bapak tidak butuh uang saya, lalu kenapa meminta pertanggungjawaban?" Tanya Intan kesal.
Ario menghadapkan diri kepada Intan, ia menatap gadis itu lalu tersenyum miring.
"Kamu pikir saya akan membiarkan kamu begitu saja, tentu tidak." Jawab Ario.
"Masih bagus saya nggak minta uang, saya cukup mengerti saat mata kamu hampir keluar dari tempatnya ketika melihat nominalnya ini." Tambah Ario masih dengan wajah tanpa ekspresi.
Intan terdiam, memang matanya tadi nyaris berpindah tempat saking kagetnya dengan nominal yang tertulis.
"Lalu saya sekarang harus apa?" Tanya Intan menantang.
"Pulanglah." Jawab Ario singkat, padat dan jelas.
Intan semakin mengepalkan tangannya, ia menggertak giginya dengan perasaan kesal yang memenuhi tubuhnya.
"Bapak nyebelin tahu nggak, udah buat saya bolak-balik kesini dan sekarang merendahkan saya." Ketus Intan lalu segera pergi dari sana.
Ario menatap kepergian gadis itu dengan kedua bahu yang terangkat. Biarkan saja, tidak ada urusan lagi dengan gadis itu.
Sementara itu di tempat lain, tampak Bianca sedang menikmati rujak yang bibik buatkan setelah Raka rela memanjat demi sang istri.
Raka memperhatikan istrinya dengan tangan yang menutupi mulutnya sendiri. Raka merasa ikut keasaman melihat istrinya makan mangga muda.
"Mau nggak?" Tanya Bianca menawarkan.
"Asam, nggak enak." Jawab Raka.
"Kalo aku suruh kamu makan ini, kamu mau nggak?" Tanya Bianca menaikkan kedua alisnya.
Raka menatap istrinya, ia mengecap beberapa kali membayangkan betapa asamnya mangga itu.
"Jadi kamu nggak mau?" Tanya Bianca mengulangi pertanyaannya.
"Ehh mau kok mau, aku mau sayang." Jawab Raka dengan cepat.
Ia mengambil potongan mangga, kemudian mencoleknya ke sambal. Raka ragu sekali untuk memasukkan ke dalam mulut, namun rasa asam jauh lebih baik daripada istrinya marah.
"Demi istri." Ucap Raka lalu memasukkan mangga dan mengunyahnya.
Wajah Raka menciptakan sebuah ekspresi yang begitu lucu saat merasakan asamnya mangga. Ia bangkit dari duduknya lalu segera membuang mangga di dalam mulutnya.
"Uwekk … asam, Sayang. Jangan dimakan, buang." Ucap Raka bergidik karena asam.
Bianca tertawa dengan begitu lepas, ia bahkan sampai memegangi perutnya karena tidak tahan melihat ekspresi wajah suaminya.
Bianca bangkit dari duduknya, ia lalu mendekati suaminya dan memberikan pelukan.
__ADS_1
"Kacian banget suami aku." Celetuk Bianca dengan menirukan suara anak kecil.
Raka mengelap mulutnya dengan tisu, ia lalu membalas pelukan istrinya dan membuka kecupan di bahunya.
Bianca melepaskan pelukannya, ia lalu mengecup bibir Raka dengan cepat karena takut Kiano melihat.
"Sekarang masih asam?" Tanya Bianca usil.
Raka tersenyum manis. "Nggak, berubah sangat manis. Berasa makan permen," jawab Raka.
Bianca semakin tergelak, ia mengusap-usap wajah tampan sang suami yang selalu mau menuruti permintaannya.
Raka itu bukan takut istri, tapi dia meratukan istrinya. Bagi Raka, Bianca ada pemegang tahta tertinggi di hati dan di rumah.
"Mami makan apa?" Kiano tiba-tiba datang.
Bianca lekas menjauh dari suaminya, ia lalu beralih mendekati putranya.
"Makan rujak, Sayang. Kiano mau?" Tawar Bianca.
Kiano menutup mulutnya. "Nggak suka, pedas dan asam." Jawab Kiano menolak.
Bianca tertawa, ia mencium kening putranya lalu mengajaknya untuk duduk.
"Udah makan belum?" Tanya Bianca.
"Sudah, Mami." Jawab Kiano.
"Anak pintar." Balas Bianca lembut.
"Kalo papi belum makan, Mi." Celetuk Raka membuat Bianca menatapnya.
"Mau makan?" Tawar Bianca, tidak ada kecurigaan di wajah Bianca, padahal suaminya memiliki niat terselubung.
"Mau, makan mami tapi." Jawab Raka.
Bianca membelalakkan matanya, ia sontak melayangkan pukulan di lengan Raka.
"Nggak boleh, kenapa papi mau makan mami?" Tanya Kiano memeluk erat maminya.
Raka terkekeh. "Bercanda, Nak." Jawab Raka.
Raka mengacak-acak rambut putranya, lalu mencium kening istrinya. Inilah impiannya, memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dan di dasari oleh cinta.
MAS RAKA, BOLEH NGGAK AKU NYELIP DI RUMAH TANGGAMU😜
Bersambung.............................
__ADS_1