Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Penyusup?


__ADS_3

Berhari-hari berlalu sejak Bianca bertengkar dengan Yola, dan sejak saat itu sampai sekarang wanita itu tidak lagi datang ke rumahnya.


Bianca cukup senang, setidaknya ia tidak perlu menguras tenaganya untuk meladeni wanita tidak jelas dan selalu mencari masalah itu.


Namun disisi lain, Bianca sedih pasalnya masih butuh 2 hari untuk Raka pulang. Biasanya Bianca tidak akan menunggu hari Senin datang, tapi kali ini berbeda. Ia ingin Senin cepat datang dan Raka pulang.


"Sebenarnya kalender jalan nggak sih, perasaan suami gue lama banget pulangnya." Gumam Bianca seraya memegangi kalender meja.


Bianca menghela nafas, ia meletakkan kembali kalender itu kemudian memilih untuk keluar kamar.


Kiano sedang main di ruang tamu saat ini, dan ia memutuskan untuk menengok anaknya disana.


"Kiano." Panggil Bianca seraya menuruni anak tangga.


"Aku disini, Mami!!!" Sahut Kiano berteriak.


Bianca tersenyum, ia lekas mendekati putranya yang sedang asik bermain sambil menonton televisi. Bukan, televisi yang menonton Kiano.


"Sayang, ini udah siang. Bobok dulu yuk, kan nanti mau diajak sama oma jalan-jalan." Ajak Bianca seraya mengusap-usap kepala Kiano.


Kiano mendongakkan kepalanya, bocah itu tiba-tiba beranjak dari duduknya dan beralih duduk di pangkuan mami Bianca.


"Mami, aku mau punya adik." Ucap Kiano tiba-tiba dengan kepala yang bersandar di dada Bianca.


Bianca terdiam sesaat, namun setelahnya ia tersenyum manis. Kiano mau punya adik? Maka harus menunggu Raka pulang.


Ahh sial, Bianca jadi ingat kejadian siang itu sebelum Raka berangkat dinas. Andai saja tidak ada gangguan, mungkin saat ini Bianca sudah menjadi wanita dan bukan gadis lagi.


Bianca senyum-senyum sendiri, ia semakin tidak sabar Raka pulang. Bianca janji, ia tidak akan menunda hak Raka lagi.


"Kiano mau punya adik? Baiklah, kita sama-sama berdoa ya." Tutur Bianca dengan lembut.


Kiano melepaskan pelukannya, ia tiba-tiba mengangkat kedua tangannya untuk berdua.


"Ya Allah, aku mau punya adik. Aku mohon ya Allah," pinta Kiano dengan suara yang menggemaskan.

__ADS_1


Bianca terkekeh, ia menangkup wajah putranya lalu menciumi seluruh wajah itu dengan penuh kasih sayang.


"Sekarang bobok dulu ya, nanti kan mau jalan-jalan." Ajak Bianca lalu menggendong Kiano.


Bianca mengajak Kiano untuk pergi ke kamar. Nanti malam anaknya itu mau diajak pergi oleh orang tuanya, entah mau kemana.


Bianca tidak akan ikut, ia harus menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya.


***


Malam pun tiba, Kiano sudah rapi dan siap untuk pergi. Mama Vena dan papa Farhan sudah datang juga dan tinggal menunggu Kiano selesai memakai sepatunya.


"Mau kemana sih, Ma. Malam-malam gini," ucap Bianca melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Malam apa sih, Bi. Ini masih sore, lagian mama mau ngajak Kiano pergi jalan-jalan. Dia pasti suntuk nggak diajak pergi sama maminya." Sahut mama Vena.


Bianca menghela nafas, namun memang benar bahwa ia tidak mengajak Kiano pergi. Anaknya itu paling pergi bersama kakek dan neneknya, sebab Bianca sedang banyak sekali tugas.


"Hmm yaudah deh, Ma. Tapi jangan menginap ya, mas Raka belum pulang." Pinta Bianca mengingatkan.


Papa Farhan mengusap kepala putrinya, ia senang melihat Bianca sudah menerima Kiano. Masih jelas dalam ingatannya dulu Bianca sangat menentang keras pernikahan ini, dengan alasan ia tidak siap menjadi ibu sambung.


"Udah cocok nambah anak, Mami Bianca." Celetuk papa Farhan menggoda putrinya.


Bianca menoleh, ia tersenyum malu-malu mendengar penuturan papanya barusan.


"Papa …" rengek Bianca menekuk wajahnya.


Papa Farhan dan mama Vena sama-sama terkekeh. Mereka merasa lucu melihat wajah Bianca yang memerah seperti tomat, yang mana hal itu menandakan jika Bianca sedang merasa malu.


"Oma, Opa. Aku sudah siap," ucap Kiano seraya berlari kecil mendekati kakek dan neneknya.


"Wahh, gantengnya." Puji mama Vena.


"Iyalah, Ma. Bapaknya kan ganteng, jadi wajar anaknya juga ganteng." Timpal Bianca terkekeh.

__ADS_1


Mama Vena dan papa Farhan bangkit dari duduknya, mereka pun memutuskan untuk pergi karena takut kemalaman.


Bianca mengantar sampai depan pintu, lalu setelahnya ia melambaikan tangannya dan masuk saat mobil papanya sudah tidak terlihat.


Bianca pergi ke kamarnya, ia sedang tidak ingin makan malam dan memilih untuk makan nanti saja saat dirinya ingin. Bianca ingin langsung mengerjakan tugas kuliahnya.


Bianca duduk di ranjang dengan laptop yang menyala di depannya.


"Banyak banget lagi, pusing gue." Gumam Bianca menggaruk-garuk kepalanya.


Bianca mulai mengetik kata demi kata agar tugasnya cepat selesai, ia juga harus mengisi beberapa kuisioner yang ditugaskan oleh dosen.


Setelah 2 jam, akhirnya Bianca selesai mengerjakan tugasnya. Ia tiba-tiba saja mengantuk, namun masih menyempatkan diri untuk melihat ponselnya.


Seharian ini Bianca baru sadar jika Raka belum menghubunginya sama sekali. Tidak seperti biasanya yang bisa sampai dua kali mereka teleponan dalam sehari.


"Mas Raka kemana ya, apa mungkin sangat sibuk makanya belum telepon gue." Gumam Bianca menatap layar ponselnya.


Bianca menutup laptopnya, ia lalu membaringkan tubuhnya dan memilih untuk tidur sebentar sambil menunggu Kiano pulang.


Ini sudah jam 9 malam, dan entah kapan Kiano pulang. Bianca jadi ragu dengan ucapan sang mama yang tadi mengatakan tidak akan mengajak Kiano menginap.


"Alamat tidur sendiri gue." Bisik Bianca dengan mata yang sudah terpejam.


Bianca pun akhirnya tertidur dengan pulas, ia benar-benar lelah seharian ini mengerjakan tugas meski dengan istirahat berkali-kali.


Di dalam kamar Bianca, tidak terdengar apapun selain detik jam dan suara angin AC. Benar-benar terasa sunyi, namun membuat Bianca bisa tidur pulas. Akan lebih pulas lagi jika ada Raka di sebelahnya.


Terlalu pulas tertidur, Bianca tidak sadar jika pintu kamarnya terbuka dengan pelan. Terlihat seseorang masuk dan mengendap-endap di tengah lampu cahaya kamar yang temaram.


Orang itu terlihat berjalan kesana kemari tanpa berniat menyalakan lampu kamar, apalagi membangunkan gadis cantik yang tengah tertidur itu.


"Semakin cantik." Gumam orang itu menatap wajah Bianca dari tempatnya berdiri.


WAHHH, SIAPA TUH???

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2