Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Tanggung jawab itu


__ADS_3

Bianca melahap martabak manis yang dibeli oleh suami dan putranya, ia pun turut menikmati martabak telur yang Raka pesan atas inisiatif sendiri.


Melihat istrinya begitu lahap makan, tentu menjadi kesenangan tersendiri bagi Raka sebagai suami dan calon ayah lagi.


Kiano pun sama, bocah itu tidak henti tersenyum melihat sang mami yang banyak makan, dengan pikiran bahwa adik dalam perut mami Bia bisa segera lahir ke dunia.


"Makasih ya udah belikan mami martabak, sini kiss dulu." Ucap Bianca pada Kiano.


Kiano berjalan mendekati maminya, ia melingkarkan tangannya di leher mami Bia dan memberikan pipinya untuk dicium.


"Anak mami yang ganteng, yang sebentar lagi jadi Abang." Celetuk Bianca seraya mencium kedua pipi putranya.


Raka tersenyum melihat anak dan istrinya. Ia mengusap-usap kedua telapak tangannya sendiri seraya menunggu giliran.


Giliran apa? Tentu saja giliran untuk dicium oleh mami Bia.


"Anak mami pergi mandi ya, nanti kita cari baju. Kita kan besok mau ke acara pernikahan om Reza." Tutur Bianca.


"Om Reza itu siapa?" Tanya Kiano polos.


"Bukan siapa-siapa." Raka menyahut dan menjawab pertanyaan dari putranya.


Bianca terkekeh, ia tidak bicara dan membiarkan suaminya yang menimpali ocehan pertanyaan Kiano.


"Sana mandi." Tutur Raka pada Kiano.


Kiano pun nurut saja, bocah itu berlari ke kamarnya dan lekas di susul oleh pelayan yang bertugas membantu Kiano mandi.


Kini di ruang tamu tinggal mereka berdua. Sepasang suami istri, Raka dan Bianca yang saling melempar pandangan.


Bianca tersenyum manis melihat wajah suaminya yang tanpa ekspresi.


"Makasih ya papi Raka, udah beliin mami martabak. Kiss mami dulu sini," ucap Bianca membuka kedua tangannya seukuran wajah suaminya.


Raka tersenyum, tanpa membuang kesempatan ia langsung mendekati istrinya.


Jika tadi Kiano di cium di pipi, maka lain dengan Raka yang dicium di bibirnya. Bianca memberikan banyak kecupan sebagai ucapan terima kasih.


Raka terkekeh, ia merasa geli tapi ketagihan setiap kali merasakan bibir istrinya menyentuh kulit wajahnya.


"Sama-sama, Mami. Katakan jika menginginkan sesuatu lagi, ya?" Kata


Raka dan dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Raka dan Bianca pun pergi ke kamar mereka, tidak lupa membagikan martabak yang belum di sentuh oleh Bianca sama sekali kepada para pelayan.


Bianca sudah mandi setelah kedua orang tuanya pulang tadi, jadi sekarang ia akan membantu Raka menyiapkan pakaiannya.


Malam ini Raka akan mengajak istrinya mencari baju yang bisa digunakan untuk pergi ke acara nikahan Reza besok.

__ADS_1


Raka yang seharusnya masuk ke kamar mandi, nyatanya malah tergoda pada tubuh istrinya.


Raka tidak akan mengajak Bianca olahraga, ia hanya ingin memeluk dan mendekap erat tubuh mungil sang istri.


"Kenapa kamu itu enak banget sih dipeluknya." Ungkap Raka seraya memeluk istrinya dari belakang.


Bianca terkekeh, ia mengusap-usap lengan suaminya sembari tangan kanannya mencari pakaian yang akan digunakan oleh Raka.


"Mau kaos hitam atau abu-abu?" Tanya Bianca.


"Hitam, biar sama kaya dress kamu." Jawab Raka dengan bibir yang asik mencium bahu Bianca.


Dress model Sabrina yang Bianca kenakan membuat Raka bisa mencuri-curi kesempatan untuk menciumnya.


"Udah cium nya, nanti kamu sendiri yang tersiksa." Tutur Bianca mengingatkan.


Raka tersenyum manis, ia melepaskan pelukannya lalu membalik badan Bianca agar menghadapnya.


"Iya-iya, Mami." Balas Raka paham.


Raka mencium kening istrinya, kemudian melenggang masuk ke dalam kamar mandi sesuai perintah dari istri tercintanya.


Bianca geleng-geleng kepala, ke kamar mandi saja harus acara mencium keningnya. Raka itu memang husbandable.


Sementara itu di tempat lain, tampak seorang gadis sedang gusar. Gadis itu baru saja sampai ke parkiran sebuah mall, namun tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari seseorang.


"Arghhh, kenapa bisa kebetulan banget sih!!" Gerutu Intan menjambak rambutnya sendiri.


Intan baru saja mendapat panggilan dari mantan kekasihnya saat SMA. Awalnya ia heran darimana pria itu menemukan nomor ponselnya, namun mantan kekasihnya itu ternyata sepupu dari calon istrinya Reza.


Intan benar-benar stress, ia malas untuk datang ke acara pernikahan Reza karena takut bertemu mantan kekasihnya yang dulu mengkhianatinya.


Bukan karena belum move on, ia justru jijik untuk melihat pria itu. Namun dalam panggilan tadi, mantan kekasihnya itu menantang dirinya untuk datang ke acara pernikahan dengan membawa kekasih atau dia dianggap belum bisa move on.


"Gini banget sih, mana gue masih jomblo aja. Boro-boro bisa bawa pacar besok!" Gerutu Intan ingin menangis.


Intan keluar dari mobilnya, ia berusaha untuk menghubungi Bianca dan meminta pencerahan, namun tiba-tiba ponselnya malah mati.


"Makin sial." Gumam Intan semakin geram.


Intan berjalan sambil berusaha memasukkan ponselnya ke dalam tas yang entah mengapa tasnya sulit untuk dibuka.


Karena fokus pada kegiatannya sendiri, Intan sampai tidak melihat mobil melaju ke arahnya.


Brukkk


Intan tertabrak mobil yang melaju dari tikungan di sebelahnya, sehingga tubuhnya tertabrak karena kemungkinan orang yang membawa mobil terkejut akan keberadaan Intan.


Intan terjatuh, ia hanya sedikit kesakitan karena permukaan basemen tidak sekasar permukaan jalan raya.

__ADS_1


"Hiks … apes banget gue ahhh." Kesal Intan pada dirinya sendiri.


Orang yang mengemudikan mobil keluar, dan langsung mendekati Intan.


"Anda tidak apa-apa?" Tanya pria itu membuat Intan langsung menatapnya.


"Pak Ario, jadi anda yang menabrak saya!!" Wajah sedih Intan seketika berubah kesal.


Intan bangkit dari duduknya, begitupula dengan Ario. Kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Bapak harus tanggung jawab karena sudah menabrak saya!" Tegas Intan.


Ario menghela nafas, ia menggaruk pelipisnya lalu mengangguk.


"Tanggung jawab apa?" Tanya Ario tanpa ekspresi.


Intan terdiam, ia berusaha memikirkan tanggung jawab yang paling cocok untuk pria seperti Ario ini.


"Berapa yang kamu butuhkan, hah?" Tanya Ario mengangkat dagunya.


"Bukan berapa, tapi saya mau bapak jadi pacar pura-pura saya. Hanya satu hari dan itu besok." Jawab Intan.


Pas sekali, Intan akan meminta Ario untuk menjadi pasangannya ke acara nikahan besok.


"Tidak waras." Desis Ario hendak pergi, namun Intan buru-buru menahan dengan mendekatkan dirinya.


"Nggak bisa gitu, Pak. Anda harus bertanggung jawab atau saya … saya akan …" Intan menatap ke segala arah, mencoba memberikan ancaman.


"Atau saya akan lapor, disini banyak cctv." Tambah Intan menunjuk ke arah cctv yang ada disana.


Ario melihat banyak cctv memang di basemen, namun untuk menuruti ucapan gadis bawel di depannya ini rasanya tidak mungkin.


"Saya bisa ganti rugi berapapun, atau bahkan membawa kamu ke rumah sakit dengan fasilitas VIP. Tapi saya tidak mau jika tanggung jawabnya adalah hal aneh seperti katamu itu." Tegas Ario dengan sorot mata yang tajam.


Intan berusaha untuk berpikir, ia tidak tahu akan mencari kemana pacar pura-pura.


"Tapi saya maunya itu, Pak. Pokoknya saya minta tanggung jawab itu, saya cuma minta waktu satu atau dua jam di malam hari besok." Kata Intan tidak mau kalah.


Ario masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun pada Intan.


"Pak!!! Pak Ario!!!" Teriak Intan memanggil.


Intan mendengus, ia buru-buru memunguti barangnya di lantai basemen lalu pergi dari sana untuk mencari baju.


"Nasib-nasib." Gumam Intan.


MBAK INTAN ADA-ADA SAJA😭


Bersambung..............................

__ADS_1


__ADS_2