
Bianca menunggu suaminya pulang sambil duduk santai di ruang tamu. Ia baru saja selesai menidurkan Kiano di kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan Raka sudah mengabari bahwa ia akan lembur. Beberapa menit lalu, Bianca menghubungi suaminya dan ternyata Raka sudah dalam perjalanan pulang.
Bianca tidak bisa menahan diri lagi, ia harus bicara pada Raka yang ia perhatikan sikapnya kurang baik kepada Kiano sejak kemarin.
Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu, akhirnya Raka pulang. Pria itu masuk dengan senyuman manis di wajahnya.
"Sayang …" panggil Raka seraya membuka kedua tangannya lebar, bermaksud meminta di peluk oleh sang istri.
Bianca tidak menolak saat suaminya memeluk dan mencium keningnya. Ia tidak mau dicap sebagai istri durhaka karena menolak sentuhan suami.
"Kok duduk sendirian, Kiano mana?" Tanya Raka celingak-celinguk.
Bianca menghela nafas, ia menjauhkan diri dari Raka lalu melipat tangannya di dada.
"Ini yang mau aku bicarakan sama kamu." Jawab Bianca ambigu.
Raka mengerutkan keningnya, ia hendak bertanya namun istrinya melipir begitu saja ke kamar mereka.
"Ada apa ini." Gumam Raka buru-buru menyusul istrinya ke kamar mereka.
Sampai di kamar, Raka tidak lupa menutup pintu lalu setelahnya baru mendekati sang istri.
"Sayang, kamu mau bicara apa?" Tanya Raka lembut.
Bianca membalik badan. "Aku mau tanya maksud sikap kamu akhir-akhir ini sama Kiano, Mas." Jawab Bianca.
Raka meletakkan tas kerjanya di sofa, ternyata masih permasalahan yang sama. Soal larangannya terhadap Kiano.
"Sayang, aku sudah menjelaskannya kan. Aku melakukan ini demi kebaikan kamu, demi anak kita." Jelas Raka lembut dan penuh pengertian.
Bianca menepis tangan Raka yang hendak menyentuhnya. Masa bodo jika Raka mau marah, tapi ia benar-benar emosi saat ini.
Bianca tidak kuasa menahan air matanya, dan hal itu membuat Raka kebingungan melihat sang istri menangis.
"Sayang, ada apa?" Tanya Raka.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Mas. Kamu bilang apa tadi? Demi aku dan anak kita? Kiano juga anak kita, Mas. DIA ANAK KITA!!" Teriak Bianca dengan nafas yang menggebu-gebu.
Raka terkejut. "Sayang …" panggil Raka pelan.
"Hiks … kamu nggak tahu kan, siang tadi Kiano pulang sambil menangis. Dia mengatakan bahwa mami dan papinya tidak sayang lagi padanya, dan lebih sayang pada adik bayi." Ucap Bianca.
"Apa kamu nggak pernah mikir gimana perasaan dia, Mas. Dia itu butuh perhatian aku, tapi kamu malah larang dia ini itu. Aku kesal sama kamu, Mas. Aku nggak suka sikap kamu." Tambah Bianca bahkan sampai menunjuk wajah Raka.
Bianca terduduk di pinggir ranjang. Setiap kali mengingat kejadian tadi siang, hati Bianca rasanya sakit sekali.
"Teman-teman dan mama jahat bilang, mami dan papi tidak akan sayang padaku lagi karena ada adik bayi. Aku takut, Mami .."
Begitulah ucapan Kiano dalam pelukan Bianca tadi siang. Air mata yang keluar dari matanya menunjukkan betapa sakitnya anak itu, dan seberapa besar beban pikirannya.
Bianca benar-benar tidak tega, ia merasa sakit hati sekali melihat air mata putranya yang membasahi wajahnya.
Raka duduk disebelah istrinya, ia berusaha meraih tangan sang istri namun Bianca menolak dengan menepisnya.
"Sayang, aku nggak maksud apa-apa. Aku hanya tidak mau sesuatu terjadi sama kamu dan kandungan kamu." Jelas Raka lembut.
Bianca menoleh. "Maksud kamu apa, Mas? Kamu menuduh Kiano akan melukai aku dan anak dalam kandunganku?" Tanya Bianca menatap Raka tidak menyangka.
"Cukup, Mas. Kamu bilang melakukan ini demi kebaikan aku? Iya? Nggak, Mas! Dengan sikap kamu yang melarang Kiano ini itu, malah bikin aku stress!" Potong Bianca dengan cepat.
"Aku stress memikirkan akibat-akibat yang mungkin terjadi. Bagaimana jika Kiano membenciku, dan terhasut pada ucapan mbak Yola. Pernah kamu mikir itu, Mas? Jawab!!" Tambah Bianca dengan nafas yang semakin memburu.
Raka terdiam, bukan hanya ia takut pada istrinya tetapi juga karena apa yang telah diucapkan Bianca berhasil menampar wajahnya dengan begitu keras.
"Hiks … kamu jahat banget, Mas. Kamu jahat sama Kiano." Lirih Bianca dengan tangis yang semakin tidak terbendung.
Raka mendekati istrinya, ia memeluk Bianca, dan kali ini istrinya tidak menolak sentuhannya seperti tadi.
"Maafin aku, Sayang. Aku terlalu fokus sama kamu, aku minta maaf." Bisik Raka penuh sesal.
Bianca melepaskan pelukan suaminya, ia lalu menyeka air matanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan sama aku, Mas. Kamu seharusnya bicara dengan Kiano." Balas Bianca.
__ADS_1
"Dan lagi, seharusnya kamu lebih sayang sama Kiano daripada aku, Mas. Ingat, dia itu anak kamu, dia anak kita." Tambah Bianca memperjelas.
"Iya, Sayang. Besok aku akan bicara dengan Kiano, sekarang kamu istirahat ya." Tutur Raka lembut.
Raka takut perut Bianca akan sakit lagi, mengingat bagaimana istrinya tadi bicara penuh emosi, bahkan sampai berteriak.
Bianca menggelengkan kepalanya. "Malam ini aku tidur sama Kiano, kamu jangan coba susulin aku kesana." Tolak Bianca.
"Kamu pikirkan kesalahan kamu, Mas." Tambah Bianca lalu keluar dari kamarnya.
Bianca menghela nafas, ia benar-benar lelah usai berdebat dengan suaminya. Tapi Bianca bisa apa, ia harus melakukan ini karena apa yang Raka lakukan sangat salah.
Melarang Kiano ini itu bukan malah membuatnya tenang dan santai, justru malah membuat beban pikirannya bertambah.
Bianca stress, ia merasa takut jika Yola sengaja mengambil kesempatan untuk meracuni pikiran putranya dan berakhir membencinya.
Bianca sampai dikamar Kiano. Wanita itu menutup pintunya pelan agar tidak membuatnya bangun. Tidak lupa Bianca menguncinya agar Raka tidak bisa masuk.
Biarlah Raka berpikir tentang kesalahan, Bianca mau suaminya sadar bahwa apa yang telah dilakukan nya adalah sebuah kesalahan.
Bianca mendekati ranjang Kiano, naik perlahan lalu merebahkan diri di sebelah putranya. Ia dekap dengan erat tubuh kecil itu lalu memberikan usapan di punggungnya.
"Mami sayang sama Kiano, dan akan selalu sayang. Mami nggak akan membedakan kamu dan adik bayi, Nak." Bisik Bianca dengan tulus.
Bianca menyeka air matanya yang kembali menetes, ia pun memejamkan matanya dan mulai ikut tertidur seperti Kiano.
Bianca lelah berdebar, dan sekarang waktunya ia beristirahat.
Sementara itu di kamar Raka dan Bianca. Raka tampak duduk di pinggir ranjang sambil memainkan jari-jarinya.
Malam ini ia terpaksa tidur sendiri karena istrinya marah akan sikapnya akhir-akhir ini pada Kiano.
"Aku memang keterlaluan pada Kiano, ya ampun." Gumam Raka tersadar.
Raka memijat pelipisnya, besok ia akan bicara pada putranya dan meminta maaf. Setelah mendengar Bianca bicara, Raka pun kepikiran akibat-akibat yang bisa saja terjadi.
Yola, ya wanita itu bisa saja memanfaatkan kesempatan untuk meracuni pikiran putranya.
__ADS_1
AKU LUPA PUBLISH WKWKWK, PADAHAL UDAH DARI SORE NGETIK 🥺
Bersambung..........................