
Pagi ini Bianca merengek minta bubur, dan Raka langsung sigap mengiyakan. Kini dia dan istrinya pergi untuk mencari makanan berbahan dasar beras itu.
Kiano tidak ikut, sehingga Raka mengajak istrinya pergi dengan naik motor sport nya sambil menikmati panas matahari pagi bersama.
"Aku mau makan buburnya nanti, mau keliling dulu baru makan." Ucap Bianca seraya mengeratkan pelukannya di perut sang suami.
"Iya, Sayang." Balas Raka nurut.
Raka melewati langganan buburnya begitu saja, mereka pun memilih untuk keliling dulu. Hari minggu jalanan tampak tidak terlalu seramai biasanya, tentu karena tidak ada orang bekerja.
"Mas, mau itu. Itu, kue cubit sama sarang laba-laba." Bianca menunjuk ke arah penjual di pinggir jalan.
Raka lekas menepikan motornya, ia membiarkan sang istri turun duluan dan memesan jajanan manis itu.
Raka ikut turun, ia mengeluarkan uang dan memberikan pada penjual kue itu.
"Mas, sebentar ya saya tukar dulu. Saya baru buka soalnya." Ucap penjual itu.
"Nggak usah, Pak. Buat bapak aja kembaliannya," kata Raka menolak dengan senyuman.
Bianca ikut tersenyum, ternyata suaminya bukan hanya tampan dan mapan, tapi sangat murah hati.
"Sekarang aku tahu, kenapa Kiano baik banget." Ucap Bianca.
Raka menarik tangan istrinya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana, semacam kursi taman.
"Kenapa?" Tanya Raka seraya merapikan rambut istrinya.
"Karena papinya juga baik, dan mami sangat menyayanginya." Jawab Bianca dengan jujur.
Senyuman di wajah Raka semakin mengembang mendengar penuturan sang istri.
"Aku lebih sayang dan cinta sama mami Bia." Sahut Raka tak mau kalah.
Bianca terkekeh, ia lalu menyuapi kue yang dibeli kepada suaminya. Raka tidak menolak, dan malah lahap memakan nya.
"Haus." Ucap Bianca memegang tenggorokannya sendiri.
Raka tersenyum lalu mengacak-acak rambut istrinya pelan, ia lalu melihat lurus dimakan ada minimarket disana.
"Ke sana yuk." Ajak Raka.
Bianca mengangguk, mereka pun pergi ke minimarket tersebut dan tidak lupa membawa motornya juga kesana.
Saat Bianca hendak turun dari motor, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat dikenalinya.
Di sebelah minimarket ada tukang bubur, dan diantara keramaian itu ia melihat dua orang yang ia kenali.
"Mas mas mas." Bianca menepuk bahu suaminya dengan heboh.
Raka menoleh sedikit. "Apa, Sayang?" Sahut Raka tetap lembut meski bahunya sudah habis dipukul sang istri.
"Itu, itu Intan dan pak Ario kan." Ucap Bianca dengan senyuman sumringah.
__ADS_1
Raka mengikuti arah yang istrinya tunjuk, kini ia juga bisa melihat temannya Dan teman istrinya sedang duduk berdua dan menikmati bubur bersama.
"Ayo kesana." Ajak Bianca buru-buru turun dari motor.
"Sayang, ya ampun pelan-pelan." Raka memukul keningnya sendiri melihat kelakuan bar-bar istrinya.
Raka lekas menyusul istrinya yang sudah mendekati meja dua orang itu.
"Wahh, ada yang lagi sarapan enak nih." Ucap Bianca penuh senyuman meledek.
Intan menatap sahabatnya, dan juga menatap suami sahabatnya. Ario melakukan hal yang sama dengan Intan.
"Kalian disini?" Tanya Ario tampak bingung.
"Kalian disini?" Tanya Raka balik dengan pertanyaan yang sama.
"Ya, gue lagi sarapan disini dan nggak sengaja bertemu sama dia." Jawab Ario menunjuk Intan.
Intan buru-buru mengangguk. "Lo kan tahu, Bi. Gue harus ganti rugi mobil pak Ario, makanya gue ke bengkel dan nggak sengaja ketemu." Jelas Intan dengan jujur.
Bianca menatap kedua orang itu dengan tatapan curiga. Raka pun melakukan hal yang sama.
"Benarkah, terus lo naik apa?" Tanya Raka pada temannya.
"Iya, gue cuma lihat mobil lo di depan." Tambah Bianca.
Pasangan suami istri itu sudah seperti polisi yang sedang mengintrogasi pasangan tidak sah di dalam kamar kos.
Entah apa yang membuatnya sampai gugup, yang jelas ia gugup saja.
"Gue naik taksi lah, kan mobil gue di bengkel gara-gara dia." Ucap Ario menjawab pertanyaan sahabatnya.
Bianca masih tidak percaya, ia semakin ingin mengorek sahabatnya yang terlihat semakin gugup.
"Ah, kalian berdua diam-diam pacaran kali." Celetuk Bianca dengan enteng.
"Nggak!" Sahut keduanya secara bersamaan.
Raka tersenyum tipis, ia merangkul bahu istrinya lalu mengajaknya untuk pergi dari sana.
"Kita pergi, Sayang. Mereka berdua sepertinya terganggu dengan kedatangan kita," ajak Raka.
Bianca setuju saja, ia melambaikan tangannya pada Intan. Bianca senang jika Intan ada hubungan dengan Ario.
Raka dan Bianca pergi ke tempat tujuan mereka, yaitu minimarket. Mereka bisa saja makan di tukang bubur itu, namun Bianca maunya bubur langganan.
Niatnya beli minuman, tapi Bianca mengambil banyak jajanan untuknya dan untuk Kiano.
"Apa lagi hmm?" Tanya Raka yang sejak tadi mengekor di belakang istrinya.
"Di minimarket nggak ada mangga muda ya?" Tanya Bianca balik.
Raka tergelak, ia mengira istrinya sedang bercanda. Padahal Bianca serius, dia sedang menginginkan buah itu.
__ADS_1
"Nggak ada, Sayang. Adanya di pohon tetangga, nanti kita petik ya." Jawab Raka masih tertawa.
Bianca dengan polos menganggukkan kepalanya.
Selesai memilih apa saja yang mau dibeli, mereka pun lekas membayarnya ke kasir, lalu setelah itu pulang. Tidak, ke tukang bubur dulu maksudnya.
Saat keduanya keluar, mereka sudah tidak melihat Ario maupun Intan di tukang bubur, bahkan mobil Intan pun sudah tidak ada.
Tidak mau ambil pusing, mereka pun lekas pergi meninggalkan sekitaran situ.
***
Raka tampak melongo dengan kepala mendongak, menatap pohon yang menjulang tinggi ke atas. Banyak memang, tapi tinggi sekali.
Usai sarapan bubur, Raka tidak menyangka jika istrinya benar-benar meminta mangga muda yang Raka katakan ada di pohon tetangga.
"Ambil aja, Pak. Kasihan istrinya kayaknya lagi ngidam." Ucap tetangga Raka.
Raka yang fokus menatap pohon tidak terlalu mendengar, sementara Bianca tersenyum dengan pikiran yang bertanya-tanya.
"Gue hamil?" Batin Bianca memegangi perutnya.
Bianca mendekati Raka. "Mas ihh buruan, aku mau mangga nya." Pinta Bianca menggoyangkan lengan suaminya.
Raka menatap istrinya, ia pun akhirnya mengangguk dan mencoba memberanikan diri untuk naik ke atas pohon dan memetik buahnya.
Bianca tersenyum sumringah saat Raka sudah mengambil satu buah dan melemparnya pada si pemilik pohon untuk di masukkan ke dalam plastik.
"Udah berapa bulan memang, Mbak?" Tanya istri tetangga Raka.
Bianca gelagapan, bulan? Ia saja tidak tahu dirinya benar-benar hamil atau tidak.
"Eumm tiga." Jawab Bianca asal menjawab.
"Wahh, selamat ya." Ucap wanita itu tersenyum senang.
Bianca membalasnya dengan senyuman canggung, lalu menutupi perutnya sendiri.
"Masa iya sih, ah mas Raka sih minta jatah mulu. Awas aja, dia harus tanggung jawab pokoknya." Gerutu Bianca dalam hati.
MASA IYA MASA IYA, YAIYA KALI🤣
Bersambung...........................
BUAT YANG BELUM LIHAT VISUAL, NIH AKU KASIH 💫
Raka Rahdian Dewangga
Bianca Armelia Wirayudo
__ADS_1