
"Alasan saya berbohong karena saya nggak mau kamu dianggap jelek sama orang tua kamu, Intan."
Begitulah yang Ario ucapkan setelah papa Damri berhenti memukul wajahnya. Ario memberitahu alasan mengapa ia rela berbohong dan di pukuli kedua orang tua Intan, yaitu karena Ario tidak mau Intan di pandang jelek.
Kejadian malam itu bukan benar-benar sepenuhnya kesalahan Intan. Gadis itu dalam pengaruh obat karena mantan kekasihnya yang memang jahat dan iri hati.
Jadi menurut Ario, jika Intan mengatakan bahwa dia yang bersalah karena telah menggodanya duluan itu tidak benar.
Kini Ario duduk di teras rumah Intan, membiarkan gadis itu membersihkan luka nya dengan air hangat, kemudian memberinya obat merah.
"Awww …" Ario meringis tiba-tiba saat Intan sedikit menekan luka disudut bibirnya.
"Sakit ya, Pak. Maaf-maaf," ucap Intan, lalu meniup luka disudut bibir Ario.
Ario menahan nafas begitu nafas Intan menerpa sekitaran wajahnya. Terasa hangat dan mengundang rada lain dalam dirinya.
"Maaf, Pak. Saya pelan-pelan deh," ucap Intan setelah selesai meniup sudut bibir Ario.
"Nggak apa-apa, tadi saya hanya kaget." Balas Ario tersenyum hangat.
Intan pun mengambil cottonbat dan memberinya sedikit obat merah, lalu mengoleskannya ke sudut bibir Ario yang terluka.
Sambil mengoleskan, Intan juga meniupnya dengan tujuan bisa mengurangi rasa perih.
Intan yang begitu serius, berbanding terbalik dengan Ario yang malah hilang fokus. Pria itu memperhatikannya bagaimana Intan telaten mengobatinya.
Berulang kali Ario menelan gumpalan salivanya, merasakan tenggorakan yang tiba-tiba kering ketika wajahnya dan wajah Intan begitu dekat.
Selesai memberikan obat, Intan tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar merasa tidak enak pada sikap kedua orang tuanya.
Ario tidak bersalah, dan tidak pantas untuk diperlakukan seperti ini. Niatnya baik, tapi malah disambut kurang baik oleh mama dan papanya.
"Pak, saya minta maaf atas sikap kedua orang tua saya ya. Apalagi anda sampai terluka begini karena papa saya," ucap Intan tanpa berani menatap Ario.
"Nggak apa-apa, saya ngerti kok. Orang tua manapun pasti akan marah jika tahu putrinya dilecehkan." Sahut Ario, tatapannya mengarah pada gadis itu.
Intan mengangkat wajahnya, membuat Ario buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rupanya pria itu malu jika sampai ketahuan memperhatikan Intan.
"Seharusnya anda tidak perlu berbohong, Pak. Disini kan saya yang–" ucapan Intan yang ingin protes terhenti.
Ario meletakkan jari telunjuknya di bibir Intan, menghentikan ucapan gadis di hadapannya yang ingin membahas topik ini untuk yang kesekian kalinya.
"Kita sudah bahas ini sebelumnya, dan saya juga sudah memberitahu alasan saya. Sudahlah, jangan dibahas lagi." Tutur Ario.
Intan menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia tidak membahasnya lagi, sementara ia terus merasa bersalah.
"Tapi perlakuan orang tua saya benar-benar keterlaluan, mereka tidak bisa melihat niat baik anda, Pak." Kata Intan kembali menundukkan kepalanya.
Ario memberanikan diri untuk menggenggam tangan gadis itu, membuat Intan sendiri terkejut namun tidak menolaknya.
"Nggak apa-apa, mungkin bukan sekadar tapi nanti saya pasti akan bisa mendapat maaf dan restu dari orang tua kamu." Ujar Ario, bibitnya menyunggingkan senyum manis.
Intan membalasnya dengan senyuman juga, ia bahkan memberikan usapan di punggung tangan Ario.
Pria hadapannya ini ternyata bukan pria menyebalkan seperti penilaiannya dulu. Ario adalah pria yang baik, dan bertanggung jawab.
Pria itu tetap bertekad untuk bertanggung jawab meski Intan sendiri sudah mengatakan untuk melupakannya.
"Intan." Panggil seseorang dari ambang pintu rumahnya.
__ADS_1
Intan menoleh, ia lantas melepaskan genggaman tangan Ario kemudian bangkit dari duduknya ketika melihat siapa yang memanggilnya.
Ario pun ikut bangun, ia menatap papa Damri dengan hormat dan penuh kesopanan.
Tidak ada amarah di mata Ario, meski wajahnya sudah terkena bogem dari papanya Intan. Ario tetap menghormati dan menghargainya.
"Ada apa, Pa?" Sahut Intan pelan dan sedikit takut.
Papa Damri menatap Ario dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak ada senyuman, seperti yang Ario berikan padanya.
"Masuk." Kata papa Damri kemudian membalik badan dan hendak pergi.
"Ajak pak Ario juga." Tambah papa Damri tanpa menatap siapapun, lalu masuk ke dalam rumah.
Intan menatap Ario dengan perasaan bingung. Ada rasa khawatir dalam hatinya, Intan takut jika kedua orang tuanya akan kembali marah, bahkan memukul wajah Ario lagi.
"Ayo masuk." Ajak Ario memegang pergelangan tangan Intan.
"Jangan, Pak. Anda lebih baik pulang saja, saya takut orang tua saya akan memarahi anda lagi." Tolak Intan menahan tangan Ario yang hendak menariknya masuk.
Ario menguap rambut Intan dengan lembut dan penuh kehangatan, mengantarkan sebuah perasaan yang ia miliki untuk gadis di hadapannya.
"Nggak akan terjadi apa-apa, ayo masuk." Ajak Ario lagi, dan Intan tetap menolak.
"Jangan, saya mohon. Anda pulang saja, saya nggak mau anda terkena pukulan lagi karena saya, sudah cukup saya memberikan masalah pada anda." Tolak Intan semakin menundukkan kepalanya.
Ario tersenyum tipis, ia melepaskan pergelangan tangan Intan, lalu memegang kedua bahu gadis itu.
Ario beralih memegang dagu Intan dengan sebelah tangan, lalu mengangkatnya perlahan.
Kini Ario dan Intan saling menatap. Mata tajam dan mempesona milik Ario, bertabrakan dengan mata Intan yang indah dan berkaca-kaca.
"Segitu khawatirnya pada saya?" Tanya Ario pelan.
Intan mengalihkan pandangannya, ia tidak menjawab dan malah diam saja.
"Kenapa diam?" Tanya Ario sedikit menundukkan tubuhnya agar bisa menatap gadis di depannya.
"Saya … saya pikir kita harus segera masuk." Jawab Intan lalu melangkah duluan ke dalam rumah.
Ario tertawa pelan, ia lekas menyusul gadis itu, bahkan menggenggam tangannya.
Ario menoleh, membalas tatapan Intan yang bingung dan kaget dengan sikapnya ini. Tidak lupa Ario berikan senyum terbaiknya pada Intan.
Meraka berdua pun lalu masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orang tua Intan sudah menunggu di ruang tamu.
Intan reflek memegang tangan Ario dengan tangannya yang lain, menunjukkan sebuah kekhwatiran.
"Intan, sini." Pinta mama Dian, menepuk sofa di sebelahnya.
Intan menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, aku nggak mau papa pukul pak Ario lagi." Tolak Intan.
Ario mengusap punggung tangan Intan, lalu melepaskan genggaman tangan mereka.
"Sana, saya akan baik-baik saja." Tutur Ario lembut.
Intan akhirnya nurut, ia duduk di sebelah sang mama dan membiarkan Ario duduk di hadapannya seorang diri.
Papa Damri terdengar menghela nafas, kemudian menatap Ario yang sepertinya sudah siap menerima segala perakuan nya.
__ADS_1
"Saya sangat sedih mendengar apa yang telah terjadi pada putri saya, dan saya tidak menyangka bahwa anda, orang yang selama ini saya hormati lah yang melakukannya." Ucap papa Damri dengan suara kecewa.
"Sejujurnya saya belum puas memukul anda, Pak." Tambah papa Damri, kemudian bangkit dari duduknya.
Intan ikut bangkit. "Papa, jangan lagi." Pinta Intan memohon.
Papa Damri menatap putrinya sebentar, lalu berjalan mendekati Ario yang langsung bangun dari duduknya.
Intan hendak mendekati Ario, namun tangannya di pegang oleh mama Dian yang memberikan kode dengan gelengan kepala.
Papa Damri dan Ario kini saling berhadapan dan bersitatap. Kedua pria itu melempar pandangan yang berbeda satu sama lain.
Papa Damri dengan tatapan kekecewaan, dan Ario dengan tatapan hormat serta penuh rasa bersalah.
"Saya belum puas memukul anda, Pak. Tapi melihat bagaimana putri saya membela anda, itu membuat saya tahu bahwa dia sangat mencintai anda." Ucap papa Damri.
"Hari ini, pertama kalinya saya melihat Intan menangis demi seorang laki-laki. Sebuah tangisan tidak rela, bukan tangisan karena sakit hati. Itu juga menunjukkan pada saya seperti apa anda memperlakukan Intan." Tambah papa Damri.
Papa Damri menepuk bahu Ario dan sedikit mendorongnya pelan. "Saya melihat juga kesungguhan anda untuk bertanggung jawab, jadi saya minta segeralah nikahi putri saya, jadikan dia istri sebelum dia benar-benar mengandung anak anda." Ucap papa Damri lagi.
Ario menatap papa Damri dengan tatapan terkejut. Bukan terkejut karena permintaannya, namun terkejut karena akhirnya ia diberikan izin untuk menikahi Intan.
"Pak, anda merestui dan memaafkan saya?" Tanya Ario dengan binar mata bahagia.
"Apalagi yang bisa saya lakukan jika sudah seperti ini, sekarang saya hanya bisa berharap agar anda membahagiakan putri saya selamanya." Jawab papa Damri.
Ario memegang tangan papa Damri lalu menciumnya sopan. "Terima kasih, Pak. Saya janji akan berusaha untuk selalu membahagiakan Intan." Ucap Ario dengan bersungguh-sungguh.
Intan masih lag, ia lalu menatap mama Dian yang tersenyum padanya. Mama diam mengusap-usap kepala putrinya lembut.
"Berbahagialah ya, Nak. Mama tahu kamu sangat mencintai pria itu," tutur mama Dian dengan mata berkaca-kaca.
Dalam hati seorang ibu, masih tersisa rasa tidak rela melihat bagaimana cara putrinya akan dinikahkan. Intan menikah bukan benar-benar karena rencananya, namun karena sebuah tanggung jawab setelah terjadi skandal penuh dosa.
"Hiks … mama …" Intan menangis lalu memeluk mama Dian dengan erat.
Bohong jika Intan tidak kecewa pada dirinya sendiri. Ia pun kecewa dan malu pada orang tua yang sudah membesarkannya.
Bukan memberikan sebuah prestasi, Intan malah memberikan aib dengan tidak bisa menjaga dirinya.
"Maafin aku, Ma. Maaf tidak bisa menjaga diriku. Hiks …" bisik Intan menangis tersedu-sedu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mungkin ini sudah takdir, sekarang mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Bahagia terus ya, Nak." Balas mama Dian sembari mengusap punggung putrinya.
Intan kecewa, namun juga bahagia karena bisa menikah dengan Ario. Intan tidak tahu apa ini cinta atau bukan, yang jelas ia selalu mau dekat dengan pria itu.
Intan melepaskan pelukan di tubuh sang mama, kemudian berlari kecil mendekati papanya.
Intan memeluk tubuh papa Damri. "Papa, hiks … maafin aku." Bisik Intan.
"Nggak mau, papa marah." Balas papa Damri dengan nada bergurau.
Intan semakin mengeratkan pelukannya. Sosok ayah hebat baginya, namun malah ia kecewakan.
"Jangan menangis lagi, kamu kan sudah mau menikah. Malu sama pak Ario tuh," bisik papa Damri.
Intan melepaskan pelukannya, ia buru-buru menyeka air matanya dan menundukkan kepalanya.
Sementara Ario yang melihat itu hanya tersenyum. Tidak terhitung kebahagiaan nya saat ini. Ario benar-benar tidak sabar mempersiapkan pernikahannya dan menjadikan Intan sebagai istri.
__ADS_1
CIEEE PAK ARIO NGGAK SENDIRI LAGI 🤣
Bersambung..................................