Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Ektra part


__ADS_3

Awan yang sudah menghitam seakan memberitahu mahluk di bumi yang masih asik melakukan aktivitas bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


Beberapa pengendara roda dua sudah menepi untuk sekedar memakai jas hujan agar terlindung dari air yang bisa membasahi tubuh.


Di depan lobby supermarket, tampak seorang wanita cantik dengan beberapa tentengan belanjaan di tangannya.


"Duhh, mau hujan lagi. Sopir juga lagi jemput Quila di sekolahnya. Apa aku telepon mas Raka atau Kiano aja ya." Gumam Bianca sembari merogoh tas selempang miliknya.


Istri dari Raka itu lantas mengirimkan pesan di grup keluarganya. Ia akan melihat respon siapa yang paling cepat untuk bisa menjemputnya.


"Mas Raka, atau Abang. Kalian bisa jemput mami di supermarket fresh? Sebentar lagi mau hujan." Begitulah isi pesan yang Bianca kirim.


Tidak sampai satu menit, langsung saja pesan Raka dan Kiano muncul selang beberapa detik saja.


"Aku kesana sekarang, Sayang." Balas Raka.


"Aku otw mami, pakai kecepatan tinggi. Mami jangan kemana-mana ya." Balas Kiano lengkap dengan emoji kiss-nya.


"Nggak! Papi aja yang jemput mami, Abang akan lagi ngampus." Raka membalas pesan yang Kiano kirim dengan emoji marah.


Bianca hanya tersenyum membaca pesan dari suami dan anak laki-lakinya. Mereka berdua kerap kali adu mulut kecil-kecilan hanya karena memperebutkan perhatiannya.


Dan pada akhirnya, Bianca di jemput oleh suaminya. Pria tampan yang sudah kepala 4 itu mengundang tatapan orang sekitar, dan itu membuat Bianca cemburu.


Bagaimana tidak diperhatikan, Raka saja memakai kemeja membentuk badan, dan bagian tangannya di gulung sampai batas siku.


"Sengaja banget tebar pesona." Cibir Bianca dengan tatapan kesal.


"Kenapa hmm? Aku salah?" Tanya Raka sembari menyalakan mesin mobilnya.


"Tadi orang-orang perhatiin kamu tahu nggak, itu semua pasti gara-gara penampilan kamu yang menggoda iman ini!" Jawab Bianca sewot.


Raka tersenyum. Dia mengusap-usap kepala istrinya yang terlindung oleh hijab berwarna hitam. Dia mendekat, mencium pipi Bianca.


"Penampilan aku ini buat istri aku, kalo orang merasa tergoda itu urusan mereka. Yang penting aku cuma mau godain kamu." Sahut Raka lembut.


Bianca tidak membalas. Usia mereka memang sudah tidak muda, namun Bianca masih kerap kali ngambek atau manja kepada suaminya, begitupun sebaliknya.


"Udah jangan cemberut, kamu makin cantik tahu." Bisik Raka lembut.


Bianca tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil menatap lurus ke depan.


Suasana hujan menemani perjalanan Raka dan Bianca sore itu. Bianca benar-benar hanya diam, sedangkan Raka senyum-senyum memperhatikan istrinya.

__ADS_1


Akhirnya setelah beberapa menit, mereka sampai di rumah. Kiano dan Quila pun sudah ada di rumah sambil menonton televisi.


"Kok Abang udah pulang?" Tanya Bianca kepada putranya.


"Tadi waktu aku mau jemput mami, itu jam kuliah aku kosong. Tapi papi reseh, cemburu sama anak sendiri." Jawab Kiano sembari melirik Raka.


"Lhoo, mami kan istri papi. Jelas papi yang paling bertanggungjawab soal mami." Sahut Raka dengan tidak mau kalah.


"Tapi mami kan mami aku, Pi. Aku juga bertanggungjawab jaga mami." Kiano kembali bicara.


Bianca hanya geleng-geleng kepala. Dia sudah lelah menasehati suami dan anaknya. Mereka sudah sama-sama dewasa, tapi tetap seperti anak kecil jika dengannya.


"Makanya Abang cari pacar biar nggak usilin istri papi." Ledek Raka pada akhirnya.


"Mami!!!" Kiano mengadu pada Bianca.


"Mas, udah … sana ke kamar bersih-bersih. Nggak capek kamu debat terus sama anak sendiri." Tutur Bianca lembut.


"Tahu nih papi, lagian Abang juga sih. Udah gede bukannya cari pacar, malah cari masalah." Celetuk Quila pada abangnya.


"Eh ini bocah SMP ikut-ikutan aja ya." Kiano mendekat, kemudian mencubit pipi adiknya.


"Aduh abang sakit!!!" Rengek Quila sembari memegangi pipinya.


"Abang!!!" Raka menegur dengan tegas, dan mata yang melotot.


Namun Bianca suka itu.


Bianca melepas sandalnya, dan hal itu membuat Raka beserta anak-anaknya langsung diam dengan tatapan takut.


"A-aku ke kamar dulu ya, Sayang." Ucap Raka kemudian lari ke lantai atas.


Kiano menggaruk kepalanya. "Abang juga ya, Mi. Abang lupa kalo belum ngerjain tugas." Kiano ikut pamit dan langsung pergi.


"A-aku–"


"Aku apa? Beresin itu terus makan, mami tahu kamu belum makan!" Potong Bianca dengan cepat.


"Iya, Mami." Balas Quila kemudian memeluk Bianca dengan erat.


"Sayang mami banyak-banyak." Ungkap Quila.


***

__ADS_1


Selesai makan malam, Raka mengajak keluarganya berkumpul di ruang tamu. Kiano sibuk dengan laptopnya, sedangkan Quila sibuk dengan ponselnya.


"Mi, Zize nginep disini ya. Katanya om Ario sama Tante Intan mau kondangan." Ucap Quila.


"Kagak! Nanti rusuh kalo dia nginep." Tolak Kiano menggelengkan kepalanya.


"Abang apaan sih, kasihan tahu Zize kalo di rumah sendirian." Timpal Quila dengan kesal.


"Yaudah nggak apa-apa, Zize boleh nginep disini." Ujar Bianca dengan lembut.


"Lagian Abang kenapa sih, perasaan kesel terus sama Zize. Ada problem nihh??" Pertanyaan Raka terdengar seperti nada menggoda.


"Nggak ada, Pi. Kurang kerjaan banget berurusan sama dia." Jawab Kiano sebal.


Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis yang usianya tidak jauh dari Quila, hanya beda beberapa bulan saja. Gadis dengan celana panjang hitam dan kaos putih itu mendekati Raka dan Bianca.


"Om, Tante. Maaf ya ngerepotin." Ucap Zize, anak dari Intan dan Ario.


"Nggak dong, Sayang. Tante malah suka kamu nginep, Quila jadi ada temannya." Balas Bianca lembut.


"Iya, lagian bahaya kalo sendirian di rumah." Tambah Raka.


Zize tersenyum senang. Dia kemudian mendekati Kiano yang duduk di kerpet.


"Hai, Abang." Sapa Zize dengan riang.


"Nggak usah sapa-sapa gue deh." Balas Kiano dengan ketus.


"Abang …" tegur Bianca lembut.


Kiano tidak membalas. Dia tetap sibuk para laptopnya, meski demikian dia sesekali melirik Zize yang asik mengobrol dengan adik serta kedua orang tuanya.


"Sayang, pengen minta jatah …" ditengah-tengah obrolan, tiba-tiba saja Raka berbisik.


"Ck, inget umur. Lagian kan tadi pagi udah!" Balas Bianca.


"Kurang …" wajah memelas Raka selalu berhasil membuat Bianca kalah.


"Nanti." Ketus Bianca.


Raka tersenyum senang, dia mencium pipi istrinya tanpa peduli pada tatapan anak-anaknya.


"Ya ampun emak bapak gue nggak bisa liat situasi dan kondisi." Gumam Quila.

__ADS_1


INI EKSTRA PART UDAH ABIS YA, NGGAK ADA LAGI. BTW KIANO SAMA ZIZE ITU??🤔


EKTRA PART END✨


__ADS_2