
Bianca membantu suaminya untuk bersiap-siap ke kantor. Kini wanita itu tengah memakaikan dasi di leher Raka dan mengikatnya sesuai model.
Sementara Bianca mengikat simpul dasi, Raka malah asik mengusap-usap pinggang dan perut istrinya, bahkan sesekali pria itu akan merancau, seakan sedang berbicara dengan bayi dalam perutnya.
"Anak papi yang lucu, anak mami yang pintar. Sehat-sehat di perut mami ya, Nak." Celetuk Raka penuh senyuman.
Bianca menghela nafas, membiarkan suaminya bicara apa saja selama itu tidak mengganggu pekerjaannya.
"Mas udah, aku mau bantu Kiano sekarang." Ucap Bianca, menjauhkan tangan Raka dari pinggangnya.
Bianca mengambil handuk basah yang ada di atas ranjang, lalu membawanya ke kamar mandi. Sudah lelah mengingatkan suaminya yang tidak paham-paham juga, sehingga ia lebih baik diam.
"Sayang, mau peluk dulu." Rengek Raka melingkarkan tangannya dan memeluk istrinya dari belakang.
Bianca menjemur handuk basah itu di jemuran kecil yang ada di balkon kamar, lalu ia membalik badan sehingga kini saling berhadapan dengan suaminya.
"Mas, udah siang loh ini. Sana antar Kiano ke sekolah, nanti aku yang jemput sekalian mau cek kandungan." Tutur Bianca sambil mengunyel pipi suaminya.
Raka menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri, lalu menciumnya lembut. Entah mengapa Raka sangat menyukai aroma tubuh istrinya, terutama sekitar bahu sampai ke dadanya.
Rasanya jika diberi kesempatan seperti ini, Raka tidak mau menyia-nyiakan nya.
"Mas, kebiasaan kan tangannya." Tegur Bianca memukul lengan suaminya yang memegang dadanya tanpa permisi.
Raka terkekeh mendengar ucapan istrinya. Ia menghentikan aksinya, lalu mengecup singkat bibir semanis madu itu.
"Baiklah, ayo keluar dan temui jagoan kita." Ajak Raka manggandeng tangan istrinya lalu menariknya keluar dari kamar.
Mereka berdua jalan menuruni anak tangga dan langsung ke meja makan. Disana sudah terlihat Kiano yang duduk menunggu mereka berdua.
"Selamat pagi anak mami, kiss dulu sayang." Pinta Bianca menundukkan kepalanya dan meminta Kiano untuk menciumnya.
Kiano melingkarkan tangannya di leher sang mami, lalu menciumi kedua pipi mami Bianca dengan penuh kasih sayang.
"Abang mau makan apa?" Tanya Bianca seraya membalik piring di depan putranya.
"Aku mau sandwich dan susu, Mami." Jawab Kiano menunjuk potongan sandwich yang ada di sana.
Bianca lekas mengambil dua potong sandwich dan segelas susu full cream untuk Kiano.
Setelah melayani Kiano, Bianca hendak melayani suami harus, namun Raka malah menariknya untuk duduk.
"Dibilang duduk, kenapa susah banget siyu, Mami." Celetuk Raka gemas sendiri.
Raka sudah melarang Bianca untuk melakukan ini dan itu, namun istrinya itu terus saja melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya tidak perlu dilakukan.
Raka bisa mengambil makanannya sendiri, tetapi istrinya terus saja ingin melayaninya. Raka sudah lelah melarang Bianca yang memang dasarnya keras kepala.
Bianca bilang jika urusan mengurus anak dan suami Bianca tidak akan membiarkan orang lain melakukannya. Bianca selalu ingin menjadi ibu dan istri yang baik bagi keluarganya.
Dan lagi, Bianca hanya memasak sarapan dan bantu menyiapkan saja, bukan melakukan seluruh pekerjaan rumah. Memang dasarnya saja Raka yang terlalu over posesif.
"Mami, hari ini aku dijemput mami kan?" Tanya Kiano di tengah kunyahnya.
"Iya, Sayang. Nanti mami jemput sebelum periksa adik bayi ya," jawab Bianca menganggukkan kepalanya.
Bianca menatap suaminya yang hendak menjanjikan roti. "Nasi, Mas. Kamu tuh jarang makan nasi akhir-akhir ini, badan kamu kurus nanti dibilang istrinya nggak pintar urus suami." Cerocos Bianca.
Raka yang sudah mau mengambil sandwich langsung terhenti, ia menatap istrinya dengan penuh senyuman lalu mengambil nasi goreng dan telur mata sapi yang sudah Bianca masak.
Raka menyuap makanan ke dalam mulutnya sambil terus menatap sang istri.
"Tuh, aku makan nasi kan. Nggak akan kurus dan nggak akan ada yang bilang kamu nggak becus urus suami." Tutur Raka.
Bianca hanya mendelik tanpa menyahuti kata-kata dari suaminya. Jika ia meladeni, maka nantinya ia akan kesal sendiri.
"Abang, mami udah siapin bekal di tas kamu, dihabiskan ya ganteng, jangan dibawa pulang lagi." Tutur Bianca dengan penuh kelembutan.
Cara bicara Bianca pada Kiano dan pada Raka benar-benar berbeda. Saat bicara pada Raka, tidak ada titik dan koma sekali, sedangkan saat bicara pada Kiano langsung lembut dan penuh senyuman.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" Tanya Bianca dengan mata yang menyipit.
"Biar makin semangat kerja, kan kan kamu suplemen aku." Jawab Raka dengan begitu manis.
Bianca menuang air ke dalam gelas, lalu menenggaknya sampai habis. Ia tidak mau bicara pada Raka yang kini melempar senyuman penuh godaan.
"Jutek banget sih, tapi aku cinta." Ungkap Raka lalu mencium pipi istrinya gemas.
"Papi??" Kiano menatap papinya penuh tanya setelah melihat maminya dicium.
__ADS_1
Bianca mendelik. "Mata anak aku ternodai." Ketus Bianca.
Setelah sarapan, Raka dan Kiano pun pergi meninggalkan rumah. Kiano melambaikan tangannya pada sang mami dengan senyuman yang begitu lebar.
"Hati-hati ya, Nak. Nanti mami jemput," ucap Bianca.
"Iya, Mami." Sahut Kiano lalu benar-benar pergi bersama papinya meninggalkan rumah.
Selama perjalanan, Raka pun mengajak putranya untuk mengobrol daripada mobil terasa kosong.
"Abang sayang banget ya sama mami?" Tanya Raka sekedar bertanya.
"Sayang banget dong papi." Jawab Kiano manggut-manggut.
"Kenapa? Bukannya dulu mami nggak sayang Kiano." Kata Raka lagi sambil sesekali melirik putranya.
"Itu dulu, Papi. Tapi sekarang mami sudah sayang padaku. Semenjak ada mami Bia, aku jadi punya ibu, aku bisa seperti teman-temanku yang bercerita tentang masakan ibunya." Jelas Kiano panjang lebar.
"Memang papi tidak sayang sama mami?" Tanya Kiano polos.
Raka tergelak, dia tidak sayang Bianca? Mana mungkin. Raka bukan hanya sayang, melainkan sangat mencintainya.
"Sayang dong, cinta juga sama mami. Mami kamu itu cinta terbesar papi," jawab Raka tidak kalah semangat.
"Di sekolahku ada guru tampan seperti papi, jika guru itu mau berkenalan dengan mami apa boleh?" Tanya Kiano usil.
Entah darimana Kiano punya ide menjahili papinya, namun bocah itu terlihat serius mengatakannya.
"Enak aja, nggak boleh." Jawab Raka dengan cepat dan tegas.
"Mami punya papi seorang, nggak boleh tuh guru kamu mau kenalan sama mami." Tambah Raka dengan lantang.
"Aku hanya bercanda, Papi." Celetuk Kiano lalu tertawa malu-malu.
Raka melongo sesaat, ia tidak menyangka putranya bisa mengerjai nya seperti ini. Ia sudah panik dan ternyata anaknya itu hanya bercanda saja.
"Papi sudah terkejut dan kamu ternyata bercanda. Dasar anak dan mami, sama-sama suka mengerjai papi." Ucap Raka geleng-geleng kepala.
Sesampainya di sekolah Kiano, Raka langsung menurunkan Kiano dan mengantarnya sampai ke depan kelas.
"Dah, Papi!!!" Ucap Kiano melambaikan tangannya.
Raka tersenyum dan membalas lambaian tangan putranya, setelah itu pergi ketika sudah memastikan bahwa Kiano duduk di tempatnya dengan aman.
Sementara itu di tempat lain, pasangan suami istri yang baru menikah itu baru saja keluar dari hotel. Keduanya akan pulang ke rumah pribadi Ario, yang akan menjadi tempat tinggal mereka mulai hari ini.
"Sini, kenapa sih jauh-jauh terus dari saya." Ucap Ario mengulurkan tangannya.
Intan langsung memegang tangan suaminya dengan wajah yang sedikit ditekuk.
"Soalnya anda menakutkan, Pak." Sahut Intan sangat pelan.
"Panggil pak lagi saya cium." Ucap Ario dengan wajah serius.
"Pak Ario, bapak Ario Wijayana Putra." Intan kembali memanggil Ario, seakan menantang suaminya.
Ario menyeringai, ia mendorong tubuh istrinya sampai bersandar di pintu mobil miliknya.
Intan melototkan matanya, ia menggelengkan kepalanya, meminta pada sang suami untuk tidak membuktikan ancamannya.
"Mas, jang–" ucapan Intan terhenti karena Ario benar-benar mencium bibirnya.
"Mas!!!!" Pekik Intan setelah beberapa saat dicium oleh Ario.
Ario terkekeh, ia membuka pintu mobil dan membantu istrinya masuk, lalu disusul olehnya yang duduk di kursi kemudi.
"Jangan cemberut gitu, nanti saya cium lagi lhoo …" Kata Ario dengan senyuman berbahaya di wajahnya.
Intan hanya diam sambil melipat tangannya di dada, kini Intan tidak akan berani lagi menantang suaminya karena Ario itu orangnya nekat. Pria itu akan selalu membuktikan ancamannya.
Mobil Ario pun berjalan meninggalkan basement hotel menuju rumahnya yang akan ia tinggali bersama dengan istrinya.
"Sayang, mau beli sesuatu dulu nggak?" Tawar Ario pada istrinya.
"Belanja mungkin, di rumah kamu bahan-bahan lengkap?" Tanya Intan.
"Lengkap sih, tapi yaudah kita belanja deh." Jawab Ario.
"Eh tapi kamu nggak sakit?" Tanya Ario tiba-tiba.
__ADS_1
Kening Intan mengkerut. Sakit? Sejak tadi mereka bersama dan Ario baru menanyakan apakah dia sakit atau tidak.
"Nggak kok, Mas. Dari tadi kan kamu lihat aku sehat." Jawab Intan dengan polos.
Ario tersenyum tipis, sepertinya Intan tidak paham pertanyaannya.
"Sakit di bawah maksudnya." Jelas Ario singkat.
Intan melototkan matanya, ia berdecak dan ingin sekali melempar Ario yang jauh, namun ia tidak siap jadi janda muda.
"Gue harus benar-benar sabar kayaknya." Gumam Intan, lalu menghela nafas pasrah.
Mereka pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan rumah, entah apa saja yang habis Intan tidak tahu, jadi ia akan beli bahan yang mau ia beli.
"Sayang, aku pilih buah-buahan nya ya." Ucap Ario dan Intan hanya membalas dengan deheman.
Intan memilih daging-dagingan, dan membiarkan suaminya pergi memilih buah. Ketika masih asik memilih daging, Intan tiba-tiba dikejutkan dengan tepukan di bahunya.
"Apa sih, Mas. Jangan gangguin aku, sana katanya mau cari buah." Ucap Intan tanpa melihat siapa sosok yang menepuk bahunya.
Pria itu tersenyum. "ini aku, Intan. Aku Erik," ucap pria itu yang ternyata adalah mantan kekasih Intan.
Mendengar itu, Intan lekas membalik badan. Ia melempar pandangan tidak suka pada pria yang telah menjebaknya itu.
"Mau apa kau?" Tanya Intan dengan tidak bersahabat.
"Hanya ingin mengatakan maaf tidak bisa datang ke acara pernikahanmu kemarin." Jawab Erik lalu mengulurkan tangannya.
Intan menolak untuk menjabat tangan pria itu, ia hanya melipat tangannya di dada dengan pandangan yang begitu sinis.
"Kau tidak mau menjabat tangan orang yang sudah membuatmu dan pria itu bisa menikah?" Tanya Erik dengan tawa.
Erik hendak memegang tangan Intan, namun sebuah tangan tiba-tiba mencegah dan menjabat tangannya yang enggan dibalas oleh Intan.
"Tidak masalah, kami senang anda tidak datang." Ucap Ario sembari membalas jabatan tangan Erik.
Erik tersenyum, ia lalu melepaskan tangannya yang dijabat dengan kasar oleh Ario, kemudian bertepuk tangan.
"Astaga, bagaimana rasanya? Enak bukan bisa menikahi gadis polos seperti Intan?" Tanya Erik.
"Apa anda akan memperbudaknya, atau anda akan menjadikannya asisten rumah tangga di rumah nanti?" Tanya Erik lagi.
Intan menggertak giginya, ia mengepalkan tangannya dan siap untuk menyahut, namun keduluan oleh Ario.
"Apa, saya kurang mendengar." Ucap Ario mendekatkan telinganya.
Erik tampak kesal karena sudah lelah bicara, namun Ario malah berpura-pura tidak mendengar kata-katanya.
"Intan adalah istri saya, dia pasangan saya seumur hidup. Menjadikannya budak dan asisten rumah tangga? Heuh, saya masih mampu membayar 10 orang untuk itu daripada membuat istri saya melakukannya." Ucap Ario dengan bagitu tenang.
"Mungkin anda tidak mampu bayar makanya berpikir untuk memperbudak istri anda." Tambah Ario, menjatuhkan Erik dengan kata lain pria itu tidak punya uang banyak sepertinya.
"Apa maksudmu? Maksudmu aku tidak punya uang. Begitu?" Tanya Erik emosi.
"Tidak ada yang bilang begitu, saya hanya mengatakan anda tidak mampu membayar seseorang sampai berpikir untuk memperbudak istri sendiri." Jawab Ario.
Ario memegang pinggang istrinya, lalu mendorong troli dan mengajak Intan untuk pergi dari sana.
"Mas, aku belum selesai loh pilih daging." Ucap Intan menekuk wajahnya.
"Nggak apa-apa, saya bisa makan kamu." Sahut Ario dengan enteng dan tenang seperti biasanya.
Intan berdecak, ia mencubit bibir Ario dengan perasaan kesal yang tidak terbendung lagi.
Memiliki suami seperti Ario ini pasti rasanya akan nano-nano. Wajahnya tampan bisa dinikmati setiap hari, perlakuannya yang manis membuat hati sejuk, namun pikirannya yang dewasa pasti akan membuat Intan lelah nantinya.
"Langsung bayar saja ya, saya nggak mood belanja gara-gara orang tadi." Ucap Ario.
"Iya, Mas. Sini aku yang bayar," pinta Intan.
"Kamu dari tadi pakai 'aku kamu', jangan diubah ke saya lagi ya." Bisik Ario dengan sangat pelan.
"Iya iya, Mas." Sahut Intan dengan cepat.
Padahal Ario sendiri masih pakai kalimat formal, yaitu saya, padahal bicara dengan istri sendiri.
Setelah membayar, Intan dan Ario pun pergi meninggalkan supermarket. Mereka menata belanjaan di bagasi, lalu lekas pulang ke rumah mereka.
"Hari ini saya badmood gara-gara pria tadi, nanti susuinn saya ya. Eh." Celetuk Ario, membuat Intan langsung reflek melayangkan pukulan di bahunya.
__ADS_1
PAK ARIO INI ENAKNYA DIKASIH KE AKU AJA, MBAK🤣
Bersambung............................