Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Lho ... mereka?


__ADS_3

Seperti yang Bianca katakan, sepulang dari kampus ia langsung menjemput Kiano. Tentu diantar oleh Intan sampai ke sekolahnya.


Intan pun tidak ada kegiatan apa-apa sehingga ia akan mengantar sahabatnya itu pulang ke rumah.


Bianca dan Intan turun dari mobil dan langsung ke kelas Kiano. Pas sekali, mereka datang dan kelas Kiano bubar.


"Mami!!" Panggil Kiano dengan senyuman lebar.


Bahagia tentu dirasakan oleh Kiano karena maminya bisa datang menjemputnya hari ini. Persis seperti yang diinginkannya.


Bianca membuka kedua tangannya lebar, menyambut pelukan dari putranya yang tampan seperti papinya.


"Hai, Tante Intan." Sapa Kiano melambaikan tangannya.


"Eh eh, pintar sekali. Hai juga, tampan." Balas Intan mengusap kepala Kiano.


Bianca berlutut di depan putranya. "Bagaimana hari ini di sekolah?" Tanya Bianca lembut.


"Sangat menyenangkan, Mami!!" Jawab Kiano sampai melompat-lompat.


Bianca terkekeh, ia berdiri lalu mengambil tas Kiano. Bianca membiarkan putranya itu lari duluan, dan ia lekas menyusul bersama Intan.


"Kok tumben nggak minta jemput sama suami lo, Bi?" Tanya Intan mengerutkan keningnya sambil membenarkan posisi maskernya.


"Gue lagi ngambek." Jawab Bianca singkat.


"Helehh, enak banget ya jadi istri yang sangat dicintai suami, bisa ngambek." Sahut Intan tersenyum meledek.


"Gue juga mau nikah ah." Tambah Intan dengan semangat.


Bianca menoleh, menatap sahabatnya yang terlihat kegirangan.


"Sana, lagian pak Ario kan udah nungguin tuh kayaknya." Timpal Bianca asal.


Intan menoleh penuh keterkejutan, membalas tatapan sang sahabat dengan mata yang terbuka lebar.


"Lo tahu, Bi?" Tanya Intan melongo.


"Oh jadi tebakan gue bener. Pak Ario udah nungguin lo?" Tanya Bianca tersenyum jahil.


Intan berdecak, ia kira Bianca tahu masalahnya dengan Ario, tapi ternyata malah ia sendiri yang membongkar nya.


"Bahas nanti aja deh, males gue." Sahut Intan lalu lekas menyusul Kiano yang berlari.


Bianca geleng-geleng kepala, wanita itu mempercepat langkahnya guna menyusul anak dan sahabatnya.


Sampai di mobil, Bianca membukakan pintu untuk Kiano, namun tiba-tiba tangan putranya itu di pegang oleh seseorang yang mencegahnya masuk mobil.


Bianca lantas menatap orang itu, ia seketika memasang wajah datar dan dingin.


"Lepasin tangan Kiano, Mbak." Ucap Bianca lalu melepaskan tangan Yola dari pergelangan tangan Kiano.


"Peduli apa kau, jangan bersikap seolah-olah sayang sama Kiano. Aku tahu, kau hanya bersandiwara, kau hanya sayang pada anak dalam kandungan mu." Sahut Yola menunjuk-nunjuk Bianca.


Bianca menghela nafas. Ia berusaha untuk sabar dan tenang, jangan sampai emosinya malah membahayakan kesehatan bayinya.


"Abang, masuk mobil dulu ya. Mami mau bicara sama mama kamu," tutur Bianca lembut.


"Mami …" Kiano berat melepaskan tangan Bianca, bocah itu seakan mengerti sifat ibu kandungnya.


"Jangan khawatir, mami cuma mau ngobrol sebentar." Jelas Bianca lalu membantu Kiano masuk ke dalam mobil.


Bianca menutup pintu mobil, dan Intan pun keluar padahal sebelumnya sudah duduk di kursi kemudi.


Intan melempar pandangan tidak suka, tentu ia tahu siapa sosok wanita yang ada dihadapannya sekarang.


"Mbak, saya nggak mau berdebat dengan anda ya. Terserah apa yang anda katakan, tapi yang jelas saya benar-benar sayang Kiano. Kiano dan anak dalam kandungan saya adalah sama." Ucap Bianca dengan tenang sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Halah! Nggak mungkin. Buktinya kemarin-kemarin saja kau dan Raka menyuruh sopir yang mengantar jemput Kiano 'kan." Kata Yola mengibaskan tangannya ke depan wajah sebentar.


"Bahkan Raka juga. Kau benar-benar jahat, Bianca. Kau menghasut Raka untuk perhatian padamu dan bayimu saja, tanpa memikirkan perasaan Kiano. Kau pasti hanya berpura-pura sayang pada anakku." Tambah Yola panjang lebar.


Intan mengerem kesal. "Heh karet ban. Jaga mulut lo ya, enak-enakan lo hina Bianca. Udah ngaca belum? Lihat diri lo sendiri gimana, meninggalkan anak demi pria lain." Cibir Intan penuh rasa kesal.


"Saya nggak punya urusan denganmu, jadi jangan ikut campur!" Tegur Yola menunjuk wajah Intan.


Yola kembali menatap Bianca. "Lagipula, temanmu ini memang bersandiwara. Dia hanya pura-pura sayang pada Kiano demi mengambil hati semua orang. Iya kan?" Tanya Yola dengan nada tinggi.


Bianca mengambil nafas dalam-dalam, lalu tersenyum menatap Yola. Tanpa kata, Bianca langsung melayangkan tamparan di wajah wanita itu.


Yola terkejut, pipinya terasa panas dan merah karena tamparan yang Bianca berikan padanya.


"Lain kali saya tidak akan menahan diri lagi, Mbak. Saya nggak akan segan menampar wajah anda." Ucap Bianca penuh penekanan.


Yola memegangi pipinya dengan perasaan yang masih syok. Ia benar-benar tidak menyangka Bianca akan berani memukul wajahnya seperti ini.


Bianca menarik tangan Intan agar masuk ke dalam mobil, begitupula dengan dirinya. Jika tidak segera pergi, maka bisa-bisa Bianca akan semakin emosi.


"Mami." Panggil Kiano.


Bianca menoleh. Wajah yang sebelumnya berekspresi kesal, seketika berubah hangat.


"Iya, Nak?" Sahut Bianca.


Kiano tiba-tiba memegang tangan Bianca. "Tangan mami pasti sakit kan setelah pukul mama jahat, nanti papi memarahiku bagaimana." Kata Kiano.


Bianca tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Papi nggak akan marah, Abang. Papi justru senang jika tahu mami memukul mama kamu," sahut Bianca menjelaskan.


"Aku takut papi marah dan akan melarangku lagi." Cicit Kiano menundukkan kepalanya.


Bianca menangkup wajah putranya. "Nggak kok, jika papi marah maka mami juga akan memarahi papi." Jelas Bianca.


Intan memperhatikan sahabatnya sambil tetap fokus menyetir. Intan tidak menyangka sama sekali, Bianca yang ia kenal bar-bar dan manja, ternyata memiliki sifat keibuan yang kental.


"Ca, lo hebat ya. Bisa jadi ibu sambung yang disayangi sama anak suami lo. Biasanya kan anak sambung benci sama ibu tiri." Ucap Intan menoleh pada sahabatnya sesekali.


Bianca hanya tersenyum mendengar ucapan Intan. Ia juga tidak tahu darimana sifat keibuannya datang, yang jelas ini semua datang tiba-tiba.


Tingkah Kiano yang menggemaskan dan pintar, serta sikapnya yang begitu menyayanginya membuat Bianca ikut menyayangi bocah itu, bahkan Bianca menganggap Kiano sebagai anak kandungnya.


"Kiano, mau ramen dulu nggak?" Tanya Intan menawarkan.


"Mau, Tante." Jawab Kiano sambil bertepuk tangan kesenangan.


"Nggak apa-apa kan, Bi?" Tanya Intan pada sahabatnya.


"Boleh-boleh aja, cari restoran ramen enak sekitar sini." Jawab Bianca.


Intan dan Bianca pun memutuskan untuk mampir ke restoran Jepang demi menikmati ramen.


Memang bukan cuaca dingin, namun ramen tetap enak di makan panas-panas begini.


Bianca manggandeng tangan putranya lalu mengajaknya masuk. Disusul oleh Intan di belakangnya.


Mereka duduk di kursi yang tidak terlalu pojok, kemudian memesan makanan yang memang sedang ingin mereka nikmati.


"Gue sushi deh, tapi yang chicken. Nggak boleh makan mentah-mentah lagi hamil." Ucap Bianca mengusap-usap perutnya.


Intan menganggukkan kepalanya, ia pun lekas memesan dan membiarkan pelayan mencatat pesanan nya.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengobrol, sedangkan Kiano memainkan ponsel Bianca untuk menonton video.


"Mantan istri suami lo masih suka reseh kaya tadi, Bi?" Tanya Intan heran.

__ADS_1


"Ya begitulah, bukan cuma dia. Ada juga yang namanya Briana. Makanya gue harus kuat-kuat jaga rumah tangga gue." Jawab Bianca dengan nada tenang.


Intan manggut-manggut. "Tapi lo terlalu sabar, Bi. Gue kalo jadi lo, waktu dia pegang tangan Kiano langsung gue patahin." Ucap Intan dengan kesal.


Bianca terkekeh. "Itu kan lo, tapi boleh lah lain kali gue pakai." Sahut Bianca.


Masih mengobrol dengan Intan, tanpa sengaja mata Bianca menangkap sosok yang dikenalnya.


Dua orang pria duduk menyantap ramen bersama dengan salah satu dari mereka memasang wajah sedih.


"Lo lihatin apa si, Bi?" Tanya Intan lalu ikut menatap ke arah pandang Bianca.


Intan seketika mengangkat alisnya. "Pak Ario dan pak Raka." Gumam Intan.


Bianca dan Intan masih menatap kedua pria itu, sampai mata mereka sama-sama membola melihat dua orang wanita datang dan langsung duduk bersama mereka.


"Hah, siapa tuh cewek." Celetuk Intan semakin melototkan matanya.


Intan menoleh ke arah Bianca, hendak bertanya namun ia urungkan saat melihat tangan Bianca terkepal.


"Bi, sabar-sabar." Bisik Intan menepuk-nepuk punggung tangan Bianca.


"Laki-laki emang brengsekk, istrinya lagi ngambek bukan dibujuk, tapi malah enak-enakan makan sama perempuan lain." Geram Bianca dengan kata-kata yang ditekan.


Bianca menghela nafas, andai saja ia tahan malu, mungkin ia akan datang kepada Raka dan melempar semangkuk ramen ke meja itu.


Bianca mengusap-usap perutnya. "Mentang-mentang istrinya hamil dan nggak cantik, dia malah cari cewek lain." Ucap Bianca lagi.


Intan bingung, ia berusaha menenangkan sahabatnya itu meski ia juga kepanasan melihat salah satu wanita mengobrol dengan Ario.


"Posting thinking, Bi. Mungkin mereka klien, ya klien." Ucap Intan menengahi amarah Bianca.


"Mana ada klien yang pegang-pegang." Sahut Bianca lalu menunjuk ke arah meja Raka dan Ario.


Disana tampak salah satu wanita memegang tangan Raka. Sok akrab.


Intan seketika melototkan matanya ketika mereka berempat hendak mengambil foto selfi bersama.


"Kiano." Panggil Bianca membuat bocah itu mendongak.


"Iya, Mami?" Sahut Kiano.


"Lihat, disana ada papi. Kamu samperin gih, dan katakan siap-siap ketemu mami." Tutur Bianca pelan.


Kiano menatap sang papi dengan perasaan senang, namun sesaat kemudian ia hingu melihat seorang wanita bersama papinya.


Kiano turun dari kursi, lalu berlari kecil mendekati meja Raka dan Ario.


"Papi." Panggil Kiano.


Raka dan Ario yang melihat kedatangan Kiano tentu saja terkejut.


"Abang, kesini sama siapa?" Tanya Raka gelagapan.


"Sama mami." Jawab Kiano lalu menunjuk ke arah meja Bianca.


Raka dan Ario seketika melototkan matanya melihat Bianca dan Intan ada di sana menatap mereka.


"Jangan sampe gagal nikah gara-gara ini." Gumam Ario panik.


"Mami bilang, papi harus siap-siap ketemu mami." Ucap Kiano lalu melambaikan tangannya dan kembali ke meja maminya.


Raka menelan gumpalan salivanya dengan sedikit sulit. Sepertinya ia akan benar-benar tiada di tangan istrinya nanti.


"Mati gue, mati." Gumam Raka ngenes.


"Gue jangan deh, mau nikah dulu soalnya." Sahut Ario tidak kalah panik.

__ADS_1


NAH KAN, LAGIAN NGAPAIN DEKET-DEKET CEWEK LAIN. BTW KIRA-KIRA CEWEK ITU SIAPA YA??


Bersambung.................................


__ADS_2