Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Sayang mami Bia


__ADS_3

Bianca dan Raka kedatangan mama Vena dan papa Farhan. Keduanya sengaja datang untuk mengunjungi putri mereka yang kini sedang mengandung.


Bahagia sekali rasanya mendengar putri semata wayang sudah mau menjadi seorang ibu. Mereka berharap agar kehidupan pernikahan putri mereka bahagia terus.


"Dijaga benar-benar ya kandungan kamu, Nak. Ingat kan kata dokter bahwa kandungan kamu lemah," tutur mama Vena seraya mengusap-usap punggung tangan anaknya.


Bianca tersenyum, ia lalu mengusap perutnya sendiri dengan tangan kanannya.


"Iya, Ma. Aku tahu, dan mas Raka juga bantuin aku," balas Bianca lalu menatap istrinya.


Tentu saja Raka ikut andil dalam membantu menjaga kandungan istrinya. Bukan hanya sekedar membuatnya saja.


Raka melempar senyuman pada sang istri. Kepalanya manggut-manggut mendengar penuturan Bianca.


Raka bahkan lebih menjaga kandungan Bianca, daripada Bianca sendiri.


"Jadi Kiano mau punya adik, iya?" Tanya papa Farhan pada cucunya yang sedang menikmati ice cream pemberian kakek dan neneknya.


"Iya, Opa. Aku akan jadi abang!" Jawab Kiano riang gembira.


"Senang sekali ya mau punya adik?" Tanya mama Vena berpindah duduk menjadi di sebelah cucunya.


"Heum, aku akan mengatakan pada teman-temannya sekolahku bahwa aku akan punya adik." Jawab Kiano mengangguk-anggukkan kepalanya.


Bianca dan Raka saling menatap penuh senyuman. Entah sudah berapa kali Kiano mengatakannya, bahkan pekerja di rumah saja sampai bosan mungkin.


"Kiano mau sekolah, Ka?" Tanya papa Farhan.


"Iya, Pa. Aku dan Bianca sudah mulai mencari-cari sekolah yang akreditasinya bagus." Jawab Raka.


Bianca dan Raka memang belum mengunjungi sekolah, namun mereka sudah melihat-lihat di situs resmi sekolah anak-anak dan akan mereka kunjungi besok.


"Pintarnya, mau sekolah dan bertemu banyak teman. Lalu jika adik bayi lahir, bisa deh Abang ajarin nulis dan membaca." Celetuk mama Vena.


"Benarkah, Oma?!" Tanya Kiano polos.


"Tentu saja, jika Abang pintar, maka Abang bisa ajarin adik bayinya belajar." Sahut Bianca ikut menimpali.


Kiano turun dari sofa, berlari kecil mendekati mami dan papinya.


"Mami, ayo. Aku mau sekolah sekarang …" ajak Kiano menarik-narik tangan Bianca.


Bianca terkekeh, begitupula dengan Raka yang bajunya di tarik.


"Tidak sekarang, Sayang. Besok ya, besok kita cari. Ini sudah sore, dan papi juga masih urus beberapa kerjaan." Tutur Raka dengan lembut.


Kiano menatap sang Papi. "Janji besok akan mencari sekolah?" Tanya Kiano.


"Janji, Abang." Jawab Raka lalu mencium pipi putranya.


Kiano pun kembali menjauh dari kedua orang tuanya. Bocah itu duduk kembali di tempatnya dan menikmati ice cream yang masih tersisa.

__ADS_1


Bianca menghela nafas, sambil mengusap-usap perutnya. Sejak pagi mulutnya terus saja berair dan ingin muntah, bahkan Raka sampai enggan bekerja karena khawatir padanya.


Bianca sampai bolos ke kampus lagi karena takutnya tidak fokus dengan pelajaran nantinya.


"Mual lagi?" Tanya Raka lembut.


Raka membantu mengusap pinggang bagian belakang istrinya, dengan tujuan mual yang istrinya rasakan cepat selesai.


"Nggak, cuma aku mau makan yang manis. Aku mau makan martabak." Jawab Bianca pelan.


Raka melirik jam di dinding, ini baru jam 4 sore. Bukan mustahil mencari martabak di jam segini, bisa saja sudah ada yang buka.


"Aku belikan ya." Ucap Raka hendak bangkit, namun Bianca mencegahnya.


"Nggak sekarang, Mas. Aku bisa tahan sampai malam kok, jam segini belum tentu ada yang buka." Kata Bianca mengerti.


Raka tersenyum hangat, ia mengusap rambut Bianca yang sengaja di cepol karena takut ribet saat ia mual-mual.


"Aku cari sampai dapat, yang jelas ngidam kamu harus terpenuhi." Tukas Raka lalu bangkit dari duduknya.


Mama Vena dan papa Farhan yang melihat Raka bangkit lantas bertanya.


"Mau kemana?" Tanya mama Vena.


"Nyari martabak, Ma. Bianca mau katanya," jawab Raka.


Papa Farhan melirik jam di tangannya. "Jam segini?" Tanya papa Farhan.


"Aku udah bilang bisa tahan sampai malam, tapi mas Raka tetap mau beli." Jelas Bianca pada kedua orang tuanya.


Raka pamitan dengan kedua mertuanya, ia dan Kiano akan pergi bersama untuk mencari makanan manis berbahan dasar terigu itu.


"Hati-hati ya." Tutur mama Vena pada sang menantu.


"Iya, Ma." Balas Raka lalu benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.


Bianca mengusap-usap perutnya, entahlah mengapa ia bisa menginginkan martabak di jam segini. Seperti bayi dala kandungannya ini suka mengerjai papinya.


"Mama senang banget lihat kamu sama Raka, Bi." Ucap mama Vena.


"Raka membuktikan ucapannya untuk selalu membahagiakan kamu." Tambah mama Vena.


Bianca tersenyum, ia tidak bisa menyangkal ucapan sang mama.


Walaupun Bianca tidak tahu apa yang Raka ucapkan pada kedua orang tuanya sebelum datang melamar, tapi Bianca yakin Raka pasti bicara dengan sungguh-sungguh, sampai kedua orang tuanya membiarkan putri semata wayangnya menikahi duda beranak satu.


"Awalnya papa mau menolak, Bi. Tapi melihat keseriusan dan kejujuran dia, papa jadi tidak bisa menolak. Dan terbukti sekarang, Raka benar-benar menjadikan kamu tahu." Ucap papa Farhan ikut mengeluarkan suara.


Bianca terkekeh. "Tapi kok aku bisa nggak sadar ya dicintai segitu besarnya sama mas Raka. Aku aja nggak terlalu mengenal dia dulu." Sahut Bianca heran sendiri.


"Mungkin karena kamu terlalu mencintai si Reza itu." Kata mama Vena.

__ADS_1


Bianca menghela nafas. "Ma, Reza sudah akan menikah. Jangan lagi membahasnya." Tegur Bianca lembut.


"Bagus jika sudah mau menikah, berarti kamu dan dia memang bukan jodoh." Timpal papa Farhan.


Bianca mengangguk setuju, ia memang tidak berjodoh dengan Reza, sebab jodohnya adalah Raka, suami yang sangat dicintainya itu.


Sementara itu di tempat lain, Raka berkeliling ke pusat jajanan atau semacam food court. Ia dan Kiano mencari-cari makanan yang sangat diinginkan sang istri.


Dan ya, Raka menemukannya. Raka lekas menarik tangan putranya kesana dan segera memesan.


"Mau rasa apa, Pak?" Tanya si penjual martabak.


Raka terdiam, ia lupa menanyakan rasa apa yang istrinya inginkan. Pria itu lalu melihat daftar menu martabak manis.


"Saya mau semuanya masing-masing satu porsi, dan martabak telurnya satu." Jawab Raka.


Daripada sang istri marah dan berakhir tidak mau makan karena salah pilih rasa, lebih baik Raka pesan semua rasa martabak manis. Bahkan sebagai jaga-jaga, ia memesan satu porsi martabak telur.


"Papi membeli sebanyak itu?" Tanya Kiano menatap sang papi dengan kepala mendongak.


"Iya, demi mami dan adik bayi." Jawab Raka manggut-manggut.


"Abang mau jajan apa?" Tanya Raka menawarkan.


Kiano menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau apa-apa." Jawab Kiano menolak.


"Aku hanya mau melihat mami dan adik bayi makan." Tambah Kiano.


Raka tertawa, ia mengacak-acak rambut putranya yang menggemaskan itu.


"Benar-benar terlihat seperti Abang, anak papi memang pintar." Puji Raka.


Kiano tertawa dengan tangan yang menutupi mulutnya.


"Papi, apa adik bayi cepat besar jika makan sebanyak itu?" Tanya Kiano lagi.


"Eumm, ya. Adik bayi akan bertambah besar seiring berjalannya waktu. Saat ini usianya baru 2 bulan dan kita harus menunggu 7 bulan lagi." Jawab Raka.


"Kenapa lama sekali, aku kan mau memarahi adik." Celetuk Kiano melipat tangan di dada.


"Eh nggak boleh dong, harus disayang adiknya." Tegur Raka.


"Iya, aku sayang dan akan aku marahi jika nakal." Timpal Kiano mengangguk paham.


Raka tersenyum, Bianca benar-benar berhasil mendidik Kiano. Bahkan istrinya itu juga yang berhasil membujuk Kiano agar mau sekolah.


"Abang sayang banget sama adik bayi dan mami?" Tanya Raka tiba-tiba.


"Iya, aku sayang mami Bia." Jawab Kiano penuh semangat.


Raka tersenyum lagi, ia benar-benar bahagia karena rumah tangganya dan Bianca berjalan lancar. Meski sesekali akan ada saja kerecokan dari masa lalunya.

__ADS_1


KALO AUTHOR NYA SAYANG PAPI RAKA 🤗😚


Bersambung..............................


__ADS_2