Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Ciuman pertama!!


__ADS_3

Bianca menatap suaminya dengan wajah yang sedikit di tekuk. Ia ingin makan bakso yang menjadi salah satu hidangan disana, namun Raka melarang.


Bagaimana tidak melarang, Bianca ngidam makan bakso tapi dengan si penjaga stand yang menyuapinya.


"Mas … ini keinginan baby tahu." Rengek Bianca memelas.


"Nggak, aku cemburu nanti sayang." Tolak Raka menggelengkan kepalanya.


Bianca menekuk wajahnya, andai saja ada Kiano pasti ia akan meminta bantuan putranya agar membujuk Raka.


Sayangnya Kiano tidak ikut, bocah itu tertidur dengan sangat pulas sehingga mereka memilih untuk tidak mengajaknya saja.


"Mas …" panggil Bianca dengan manja sembari menggoyangkan lengan suaminya.


Intan dan Ario yang ada di sana tampak memperhatikan dengan tatapan masing-masing.


Intan dengan keheranan nya melihat sang sahabat yang merengek seperti anaknya kecil, dan Ario dengan tatapan meledek.


"Udahlah, Kak. Turuti saja, lo mau anak lo nanti ileran?" Tanya Ario mengompori.


Bianca mendorong tangan suaminya kesal. Bianca ingin sekali makan bakso. Kali ini ngidamnya benar-benar aneh dan membuat suaminya kalang kabut.


"Tuh, Mas. Dengerin, pak Ario aja paham kok." Timpal Bianca semakin merajuk.


Raka melototkan matanya, ia kesal sekali pada temannya yang bukan mengademi, malah justru membuat Bianca semakin panas dan marah padanya.


"Mas …." Panggil Bianca untuk yang kesekian kalinya.


"Apa, Sayang. Aku turuti apapun yang kamu mau, tapi yang ini berat soalnya nanti aku cemburu." Sahut Raka lembut, sembari mengusap-usap wajah cantik istrinya.


Bianca mendengus, ia hendak bangkit namun buru-buru Raka cegah dengan memegang tangannya.


"Sayang." Panggil Raka lembut.


Bianca hanya diam, tanpa menoleh apalagi menyahuti panggilan sang suami yang enggan memenuhi ngidamnya.


"Ca, lagi lo gila-gila aja ngidamnya." Ucap Intan mengeluarkan suaranya.


"Nah tuh, Intan paham kalo aku nanti cemburu." Timpal Raka dengan cepat.


Bianca mendengus, ia kembali duduk sembari melipattangannya di dada.


"Apa-apaan kau ini, wajar saja Bianca ngidam, dia kan sedang hamil. Raka seharusnya bisa mengerti." Ucap Ario menyahuti ucapan Intan.


Intan menoleh, menatap pria itu dengan kening mengkerut. Agak aneh karena pria itu tiba-tiba menimpali ucapannya.


"Ya, saya tahu. Tapi pak Raka kan sebagai suami pasti cemburu," sahut Intan tidak mau kalah.


"Memang kau tahu apa, kaya sudah pernah menikah saja." Cibir Ario dengan wajah yang cuek.

__ADS_1


"Ya walaupun saya belum menikah, tapi setidaknya saya pernah pacaran!" Sahut Intan sewot.


Bianca dan Raka saling pandang, mereka menatap dua orang berbeda jenis tanpa status dengan tatapan bingung.


"Kamu yang ngidam, mereka berdua yang riweh." Bisik Raka pada istrinya.


Bianca manggut-manggut. "Iya, tinggal yuk Mas. Aku mau makan buah aja, nggak jadi bakso." Ajak Bianca menggandeng tangan suaminya.


Marah dan ngambeknya Bianca beberapa saat lalu sudah hilang, yang mana menandakan bahwa mood wanita itu sudah kembali.


Raka pun senang, ia lekas bangkit dan mengajak istrinya pergi tanpa Intan maupun Ario sadari. Dua orang itu masih asik dengan perdebatan mereka.


Raka mengajak istrinya ke stand buah, lalu mengambil beberapa potong buah dan memberikannya pada sang istri.


"Suapin." Pinta Bianca dengan manja.


Tanpa protes sama sekali, Raka langsung menyuapi istrinya. Nyatanya ngidam Bianca tidak berhenti sampai di sana, ada puding dan sate yang turut Bianca makan dengan dalih ngidam.


Raka benar-benar gemas pada tingkah istrinya yang manis dan lucu. Wanita itu adalah istrinya, miliknya dan masa depannya yang begitu cerah.


"Kamu gemesin banget sih, jadi mau aku gigit pipinya." Celetuk Raka berbisik pelan.


Bianca yang sedang asik mengunyah langsung terhenti, ia menatap wajah sang suami dengan penuh permusuhan.


"Ck, kebiasaan." Ketus Bianca.


Kening Raka mengkerut, merasa ada yang janggal dari kata-kata Bianca barusan.


Bianca mengambil puding dan buah lagi, lalu ia berjalan santai ke salah satu meja kosong yang ada di sana.


Raka lekas menyusul. "Sayang, jawab dulu dong." Pinta Raka lembut.


"Kamu nanya kapan? Setiap malam juga kalo ada kesempatan kamu gigit aku. Sampai dada aku aja kamu gigitin." Jelas Bianca frontal.


Raka melototkan matanya, ia menatap sekitar dan berharap bahwa tidak akan ada yang mendengar ucapan istrinya barusan.


"Sayang, pelan-pelan ngomongnya." Tutur Raka sembari menggenggam tangan Bianca.


Bianca mengangkat kedua bahunya, tanda tidak peduli. Wanita itu memilih fokus menikmati makanan yang sudah ia ambil.


Sementara di meja Ario dan Intan, dua orang itu baru tersadar jika Raka dan Bianca tidak ada di sana.


"Bapak sih, pasti gara-gara ocehan bapak mereka pergi." Ucap Intan menyalahkan Ario.


"Apa?" Ario mendekatkan telinganya ke wajah Intan, meledek gadis itu seakan ia tuli.


Intan mendengus. "Nggak tahu ah, udah mending bapak pulang sana." Usir Intan mengibaskan tangannya.


"Kenapa, bukannya batas sampai malam nanti?" Tanya Ario.

__ADS_1


"Nggak usah, saya capek punya pacar pura-pura." Jawab Intan dengan malas.


Tiba-tiba saja, entah muncul dari mana. Mantan Intan datang bersama kedua temannya. Entah dibuang kemana gadis yang bersamanya tadi.


Erik tampak bertepuk tangan saat telinganya mendengar penuturan sang mantan kekasih.


Intan terkejut, sementara Ario biasa saja. Intan lekas menggandeng tangan Ario, namun pria itu melepaskannya.


Ario menatap Intan, dan ia kaget saat gadis itu memberikan pelototan mata tajam kepadanya, sehingga ia pasrah di gandeng.


"Mau apa lo?" Tanya Intan sedikit gugup.


"Udahlah lepasin pegangan tangan kalian, aku udah tahu kalo kalian itu cuma pura-pura." Kata Erik.


"Kamu sengaja bawa pacar sewaan buat manas-manasin aku kan atau menutupi kalo kamu belum move on." Tambah Erik tersenyum bangga.


Intan gelagapan, ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya bicara begitu di area yang masih sama dengan mantan kekasihnya.


"A-apaan sih lo, nggak jelas. Sana pergi, jangan ganggu gue sama mas Ario." Usir Intan mengibaskan tangannya seperti mengusir ayam.


"Tan, udah deh. Cowok ini aja diam, itu artinya kamu emang bohong. Ngaku aja sih," cibir Erik kesal sendiri.


"Mungkin dia malu, Bos. Sepertinya pria itu lebih tua dari Intan." Kata temannya menimpali.


Ario dan Intan memiliki selisih umur yang seperti Bianca dan Raka.


"Terus kenapa kalo mas Ario lebih tua. Norak lo, nggak tahu ya yang dewasa lebih menggoda." Timpal Intan dengan sewot.


"Bulshiitt." Cibir teman Erik yang satunya.


"Perlu bukti apa kamu jika saya benar-benar kekasih saya?" Tanya Ario setelah sejak tadi diam.


"Cium bibir Intan, atau sebaliknya." Jawab Erik dengan tangan terlipat di dada dan wajah penuh kemenangan.


"Gila lo." Umpat Intan kesal.


"Udah, Mas. Ayo pergi, jangan dengarin ocehan dia." Ajak Intan menarik tangan Ario.


Namun bukannya ikut, Ario malah menarik tangan gadis itu sehingga tubuh mereka menempel.


Intan dan Ario saling bertatapan, lalu tatapan Ario jatuh ke bibir pink glossy milik Intan.


"Demi formalitas dan totalitas." Bisik Ario.


Intan kebingungan, namun belum sempat berpikir lebih jauh, ia sudah merasakan pinggangnya di rengkuh dan bibirnya dicium.


"Ciuman pertama gue!!!" Jerit Intan dalam hati.


MBAK INTAN AWAS PINGSAN 😭

__ADS_1


Bersambung.....................................


__ADS_2