Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Ganti rugi


__ADS_3

Setelah liburan kemarin, Raka sudah harus kembali bekerja. Ia langsung berangkat ke kantor usai mengantar anak dan istrinya pulang ke rumah.


"Aku ganti baju di kantor saja, Sayang. Aku sudah terlambat," ucap Raka dengan lembut.


Raka memang memiliki stok baju di kantor untuk berjaga-jaga jika dia harus mengganti pakaiannya tiba-tiba.


Bianca membuka kedua tangannya, ia memeluk suaminya sebentar lalu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Baiklah, Mas. Kamu hati-hati ya, aku sama Kiano masuk dulu." Tutur Bianca lalu keluar dari mobil suaminya.


Bianca dan Kiano menunggu sampai mobil Raka pergi dan tidak terlihat lagi. Tampak mereka melambaikan tangannya.


"Kiano, kamu mandi ya setelah itu baru boleh main." Ucap Bianca pada anaknya.


"Baiklah, Mami." Balas Kiano mengangguk patuh.


Bianca juga harus datang ke kampus jam 11 siang nanti, dan ia akan pulang sebelum jam 2 siang sehingga ia akan kembali sebelum Raka pulang dari kantor.


Bianca mengajak Kiano masuk ke dalam rumah, ia meminta pada bibik agar memandikan Kiano, sementara dirinya juga akan mandi.


Sampai di kamar, Bianca membuka lemari pakaian. Ia mau memakai rok serut dan kemeja bermotif warna abu-abu.


Setelah selesai memilih baju, Bianca pun lekas masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus lekas membersihkan diri.


Sejujurnya ia sudah mandi sebelum pulang tadi, namun ia ingin mandi lagi agar terlihat lebih segar saat ke kampus.


Selesai mandi dan berpakaian, Bianca lantas merias sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat, lalu membereskan buku-buku yang harus ia bawa.


"Sudah begini saja lah, lagipula hanya satu pelajaran saja." Gumam Bianca lalu lekas keluar dari kamarnya.


Jam menunjukkan pukul 10 pagi, ia masih punya waktu 1 jam sebelum sampai ke kampus. Bianca tidak akan berangkat sendiri, melainkan bersama Intan.


"Bik, tolong jaga Kiano ya. Aku harus ke kampus dan akan pulang sebelum mas Raka pulang." Ucap Bianca pada pelayan di rumahnya itu.


"Baik, Nyonya." Balas si pelayan dengan sopan.


Bianca pun lekas keluar dari rumahnya, ia harus menunggu Intan di depan gerbang rumahnya karena tidak sempat jika harus mampir dulu.


5 menit Bianca berdiri di depan rumahnya, akhirnya Intan datang dengan mobilnya. Wanita itu lekas masuk dan duduk di sebelah kursi kemudi.


"Ini rumah lo, Ca?" tanya Intan menatap rumah Bianca yang besar itu.


"Bukan, rumah tetangga." Jawab Bianca singkat.


Intan mendengus, ia lekas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Bianca. Mereka benar-benar akan terlambat jika bersantai sekarang.


"Ca, lo lagi alergi ya?" tanya Intan tiba-tiba, terlihat senyuman malu-malu di wajah Intan.

__ADS_1


Bianca belum paham, ia dengan polosnya menggelengkan kepalanya. "Nggak, kenapa?" Tanya Bianca balik.


"Itu leher lo merah-merah gitu, ya walaupun agak pudar tapi masih keliatan kalo dari dekat." Jawab Intan seraya menunjuk leher sahabatnya.


Bianca melotot, ia tiba-tiba saja mencubit tangan sahabatnya karena malu. Untung saja Intan yang melihat, dan bukan orang lain.


"Yakin lo nanya?" tanya Bianca dengan tatapan usil.


Intan mendengus, paham sekali dengan tatapan sahabatnya yang seakan meledek dirinya sampai sekarang masih sendiri.


"Sialann lo, Ca." Umpat Intan lalu tertawa begitu lepas.


Bianca pun tertawa, ia bahkan sesekali memberikan pukulan kecil di bahu temannya.


"Pengantin baru kan emang gini, lo juga nanti tahu." Ucap Bianca.


"Hmm, tapi jodoh aja gue belum kelihatan." Timpal Intan menekuk wajahnya.


Bianca tersenyum, sebuah ide muncul di kepalanya sekedar untuk mengusir kegalauan sahabatnya.


"Lah, bukannya lo ada backstreet sama pak Anam?" tanya Bianca usil.


"Ca, sembarangan congor lo kalo ngomong. Nanti di dengar orang berabe urusannya." Sahut Intan melototkan matanya.


Bianca tertawa membuat Intan gemas sendiri, ia memukul pelan sambil sesekali memberi cubitan pada sahabatnya itu.


Asik dengan aksinya di tubuh Bianca, Intan sampai tidak sadar jika ada sebuah mobil yang baru saja keluar dari gang.


Intan ikut kaget, ia buru-buru menginjak rem, namun terlambat. Body mobil merahnya, bersentuhan dengan mobil hitam seseorang yang ia tabrak.


"Hah, mampus gue." Ucap Intan meringis kecil.


Bianca menghela nafas. "Tenang-tenang, kita keluar dan bicara baik-baik sama orangnya. Ayo!" Ajak Bianca yang keluar duluan dari mobil temannya.


Intan lekas menyusul, ia takut sekali akan disuruh ganti rugi mengingat mobil yang ia tabrak adalah mobil mewah.


Pemilik mobil hitam itu pun keluar, ia menatap body mobilnya yang lecet. Pria itu berdecak melihat mobilnya memiliki noda.


"Pak, kami minta maaf. Kami akan ganti–" ucapan Bianca terhenti saat si pemilik mobil membalik badan.


"Lhoo, kau istrinya Raka kan?" Ucap pria pemilik mobil.


Bianca menganggukkan kepalanya. "Benar, Pak Ario." Jawab Bianca.


Intan menatap cengo temannya, siapa pria di hadapan mereka ini, mengapa Bianca tampak cukup kenal dengannya.


"Jadi kau yang mengendarai mobilnya?" tanya Ario.

__ADS_1


Ia yang awalnya ingin marah,nyatanya tidak jadi. Mana mungkin ia akan marah-marah pada istri sahabatnya, apalagi Raka.


Ario bisa habis oleh Raka jika berani memarahi istrinya.


"Tidak, teman saya yang mengendarai nya." Jawab Bianca lalu menunjuk Intan.


Intan ketakutan, ia lantas menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf.


"Maafkan saya, Pak. Eumm … saya akan ganti rugi, tapi berapa?" tanya Intan ragu-ragu.


"Tidak perlu." Jawab Ario singkat.


"Eh kenapa tidak perlu, saya mampu kok bayarnya. Anda bawa saja mobilnya ke bengkel dan saya akan membayarnya." Ucap Intan dengan sok.


Tingkahnya seperti banyak uang saja, padahal dalam hati Intan benar-benar meringis ketakutan.


"Baiklah, berikan nomor ponselmu." Pinta Ario pada Intan.


"Untuk apa?" Tanya Intan.


"Jika kau kabur dan tidak mau membayar bagaimana." Jawab Ario tanpa menatap Intan.


Intan melirik sahabatnya yang hanya diam. Tampaknya Bianca juga kebingungan.


Sambil mendengus, Intan mencatat nomornya di sebuah kertas lalu memberikannya pada Ario.


Ario menerimanya, ia lekas menyimpan kertas berisi nomor ponsel itu ke dalam saku jasnya.


"Pak, sekali lagi kami minta maaf. Jika ada kerusakan berlebih, anda bisa bilang sama saya ya." Ucap Bianca setelah sejak tadi diam.


Ario tertawa. "Mana mungkin aku akan melakukan itu, kau ini istri temanku." Balas Ario.


Ario berdehem. "Baiklah, kalian hati-hati. Aku permisi dulu," kata Ario lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi.


Sepeninggalan Ario, Intan langsung mendekati temannya. Gadis itu tiba-tiba merengek.


"Aaaaa Aca, kalo dia bawa mobilnya ke bengkel mahal, gue harus jual apa!!" Rengek Intan.


Bianca menghela nafas. "Lagian lo tadi ngapain nanganin dia." Balas Bianca geleng-geleng kepala.


"Nanti gue bantu deh kalo biayanya banyak." Kata Bianca.


Senyuman langsung terbit di wajah Intan, ia mencium pipi Bianca karena gemas dengan temannya itu.


"Ihhh, apaan sih lo. Mau di maki-maki suami gue lo asal aja cium bininya." Celetuk Bianca lekas mengusap pipinya.


Intan tertawa, ia pun mengajak Bianca untuk kembali masuk ke dalam mobil. Mereka yakin, hari ini mereka akan benar-benar terlambat datang ke kampus.

__ADS_1


EKHMMMM .... DOAIN AKU BISA UP 2K PERHARI YA🤗


Bersambung............................


__ADS_2