Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Menyelamatkanku


__ADS_3

Bianca duduk di ruang tamu, menunggu suaminya pulang ke rumah. Ini sudah jam 5 sore, namun Raka belum juga pulang. Tidak seperti biasanya yang sudah sampai di rumah.


"Apa mas Raka lembur, tapi kok nggak kabarin gue ya." Gumam Bianca seraya melihat ponselnya barangkali ada pesan dari Raka.


Bianca meletakkan ponselnya lagi saat tidak melihat pesan dari suaminya. WhatsApp nya hanya penuh dengan grup angkatan kampus.


Bianca bangkit dari duduknya. "Kiano, mami ke kamar dulu ya." Ucap Bianca pada putranya yang asik menikmati tontonan.


Kiano menoleh. "Iya, Mami. Aku mau disini," balas Kiano mengangguk-anggukan kepalanya.


Bianca pun beranjak dari sana, namun baru kakinya melangkah ke arah tangga, tiba-tiba Raka pulang.


Bianca terkejut melihat penampilan suaminya, ia buru-buru mendekat dan menghampiri Raka yang dipapah untuk duduk di sofa oleh Ario.


"Kenapa ini?" Tanya Bianca duduk di sebelah suaminya.


"Mas, kamu kenapa sampai luka-luka gini?" Tanya Bianca sedikit berteriak karena khawatir.


"Papi kenapa?" Tanya Kiano ikut merengek.


"Papi nggak apa-apa, Nak." Jawab Raka lembut.


Raka berusaha menenangkan istrinya, ia memberikan usapan di bahu Bianca. Namun nyatanya Bianca tetap histeris.


"Bianca, suami kamu ini tadi nggak sengaja ketabrak." Jelas Ario yang masih ada di sana.


Raka menghela nafas, ia kesal pada Ario yang malah bicara jujur. Padahal bisa saja pria itu berbohong dan mengatakan bahwa ia jatuh.


Sementara Bianca, ia semakin melototkan matanya. "Gimana sampai bisa ketabrak hah, kamu nggak lihat jalan atau gimana!" Tegur Bianca, antara kesal dan khawatir.


"Sayang, dengarkan aku bicara dulu ya, aku–" penjelasan Raka terhenti saat ada yang menyela ucapannya.


"Raka menyelamatkanku, Bianca." Ucap seseorang dari arah pintu.


Bianca bangkit dari duduknya saat melihat siapa yang datang ke rumahnya dan di selamatkan oleh suaminya.


Briana, wanita itu berjalan dengan begitu percaya diri. Ia berdiri di depan Bianca yang melempar tatapan tidak suka.


"Raka menyelamatkanku, aku tadi nyaris tertabrak. Untung saja suami kamu menyelamatkanku." Ucap Briana lagi dengan senyuman bangga.


Raka menatap Briana. "Mau apa kau kesini, keluar!" Usir Raka.


Briana beralih menatap Raka. "Aku mau lihat kamu, Ka. Kamu udah menyelamatkan aku, jadi mana mungkin aku akan diam saja." Jelas Briana.


"Izinkan aku merawatmu sebagai ucapan terima kasih." Tambah Briana semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Bianca menatap semakin tajam, ia menarik tangan Briana agar menjauh darinya.


"Suami saya punya istri, dan istrinya adalah saya. Saya bisa merawat suami saya, tanpa bantuan orang lain." Ucap Bianca penuh penekanan.


"Tapi dia–" ucapan Briana terhenti.


"Pergi." Usir Bianca menyela ucapan Briana.


"Bianca, aku mau bertanggung jawab. Lagipula Raka sampai terluka parah begini, apa kau tidak kasihan." Ucap Briana dengan wajah keheranan.


Bianca memegang tangan Briana, ia lalu menarik wanita itu untuk keluar dari rumahnya.


"Pergi! Saya dan suami saya tidak butuh tanggung jawab anda. Saya masih mampu membayar rumah sakit!" Ucap Bianca saat dirinya sudah diluar rumah.


Briana tersenyum meremehkan. "Bagaimana? Terbukti bukan jika Raka masih mencintaiku. Dia saja rela terluka demi menyelamatkanku," kata Briana dengan bangga.


Bianca menahan nafasnya sejenak. "Oh ya? Hanya perlakuan sederhana anda sudah beranggapan bahwa dia masih mencintai anda? Dangkal sekali pikiran anda." Ejek Bianca ikut tertawa meremehkan.


"Bianca, jika kau mengatakan ini pada mantan istrinya, mungkin kau akan menang. Tapi aku? Aku lebih dulu dicintai oleh Raka. Tidak mustahil jika dia masih mencintaiku." Briana berucap dengan ekspresi wajah yang teramat bangga.


Bianca hanya diam, menatap wajah Briana tanpa ekspresi sama sekali.


"Kenapa diam? Kau merasa kalah?" Tanya Briana mengangkat sebelah alisnya.


"Kalah? Bahkan saya tidak sedang bertanding. Saya diam karena tidak mau menghabiskan tenaga untuk meladeni wanita seperti anda." Jawab Bianca dengan tenang.


Bianca masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Briana begitu saja. Bianca tidak mau mengeluarkan tenaga yang mungkin akan berakibat pada janin nya.


Saat Bianca masuk, ia bisa merasakan tatapan suaminya. Namun Bianca tidak peduli, ia langsung pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun.


"Istri lo ngambek tuh, jelasin aja kalo ini salah paham." Ucap Ario.


"Gue tahu, lagian bagaimana bisa Briana sampai kesini." Timpal Raka kesal.


Raka harus menjelaskan bahwa semua ini salah paham, ia tidak pernah menyelamatkan Briana. Wanita itu sudah berbohong.


"Gue pulang dulu, semoga Bianca nggak salah paham lagi setelah lo jelasin." Ucap Ario dan dibalas anggukan singkat oleh Raka.


Ario pun pergi meninggalkan rumah Raka, sahabatnya.


Kiano masih setia menemani papinya disana sambil menikmati tontonan nya.


"Kiano, papi ke kamar dulu ya." Ucap Raka pada anaknya.


"Tapi papi kenapa, dan tante tadi kenapa kesini? Aku kan sudah bilang tidak suka dia." Kata Kiano dengan wajah yang polos.

__ADS_1


"Papi juga nggak tahu, tapi udah diusir kok sama mami." Jelas Raka tersenyum.


Raka pun beranjak dari duduknya, ia berjalan tertatih dan memegangi apapun yang ia bisa. Karena Bianca marah, ia harus begini.


"Sialann memang Briana." Geram Raka.


Raka menaiki anak tangga satu persatu, untung nya ia lebih banyak terluka di tangan sehingga kakinya masih bisa digunakan untuk berjalan walaupun tertatih-tatih.


Sampai di kamar, Raka melihat istrinya berbaring dengan posisi membelakanginya. Raka bisa mendengar tangisan kecil istrinya itu.


"Sayang." Panggil Raka dengan sangat lembut.


Bianca tidak menyahut, wanita itu tetap menangis sambil sesekali menyeka air matanya.


Raka mendekat, ia duduk di pinggir ranjang lalu mengusap kepala istrinya.


"Sayang, dengar penjelasan aku ya." Pinta Raka pelan.


"Aku tadi itu nyebrang jalan sama Ario. Aku nggak sadar kalo di depan aku itu si Briana. Terus aku nggak sengaja kesandung pembatas jalan, aku jatuh dan mendorong Briana." Ucap Raka menjelaskan, ia berharap istrinya mengerti.


"Tiba-tiba motor lewat dan hampir nabrak aku, makanya Briana kira aku selamatkan dia, padahal nggak. Aku jatuh sendiri sampai pada luka gini, soalnya jalanan itu rusak dan berlubang." Tambah Raka menjelaskan.


Bianca masih diam saja, ia sedang berusaha mereka adegan dari ucapan suaminya. Masuk akal juga, tapi kenapa Briana bisa ada di tempat yang sama dengan Raka.


Bianca bangkit dari duduknya, ia menatap suaminya dengan wajah yang basah.


"Lalu kenapa kamu sama dia ada ditempat yang sama?" Tanya Bianca ketus.


"Mana aku tahu, Sayang." Jawab Raka bingung juga.


Bianca melirik sinis. "Kamu nggak bohong?" Tanya Bianca.


"Nggak, Sayang. Sumpah! Aku jujur, aku nggak berani bohongin kamu." Jawab Raka menunjukkan dua jarinya.


Bianca menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia akan percaya pada suaminya, namun mulai hari ini ia harus lebih ekstra hati-hati dengan Briana dan Yola.


"Kalo kamu bohong, aku pergi sama Kiano dan anak dalam kandungan aku. Apalagi kalo kamu benar-benar masih mencintai Briana itu." Ancam Bianca.


Raka terdiam, telinganya seperti menangkap kalimat yang janggal.


"Sayang, tadi kamu bilang apa?" Tanya Raka menajamkan pendengarannya.


"Nggak tahu, males aku ngomong sama kamu." Jawab Bianca ketus lalu kembali merebahkan diri.


MBAK BIA NGAMBEK CHECK 😜

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2